
Ke tiga sahabat Kevin yang sudah mengetahui tempat dimana orang yang menculik Kesya itu, segera meluncur ke lokasi. Enam mobil mewah beriringan menuju lokasi.
"Ck, tahu jauh kayak gini, mending tadi kita naik helikopter!" Gerutu Radith yang duduk didepan, disamping pengemudi.
Membuat Devano yang lagi menyetir, tergelak mendengar gerutuan sahabatnya itu.
"Kamu tidur aja bro, dari tadi ngomel terus. Nggak capek apa? Lihat tuh yang dibelakang!" Devano melirik dari spion kecil, dibelakang Richard sudah tidur pulas dari awal mereka berangkat.
"Menurutmu, untuk apa mereka menculik Kesya?" Tanya Radith tiba-tiba.
"Kita akan tahu nanti, saat tiba disana. Tapi aku yakin 100 %, ini ada hubungannya dengan Jessica." Mereka memang belum tahu pasti, apa motif penculikan Kesya. Tapi mereka sudah bisa menebak kalau penculikan ini ada campur tangan Jessica. Karena disaat Kevin meminta tolong pada para sahabatnya, ke tiga sahabatnya itu langsung mencurigai Jessica, makanya mereka langsung meminta beberapa anak buahnya untuk memata-matai Jessica. Dan terbukti, Jessica terlihat mencurigakan.
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama, akhirnya ke enam mobil mewah itu, tiba di lokasi. Mobil berhenti didepan sebuah rumah, atau lebih mirip gudang tua. Devano dan Radith lebih dulu turun, diikuti oleh anak buahnya.
"Kok terlihat sepi iya?" Celetuk Richard, yang baru bergabung. Dia berdiri disamping ke dua sahabatnya, sambil memperhatikan gudang di depan sana.
"Di luar terlihat sepi, tapi kita tidak tahu ada beberapa banyak orang didalam. Kita jangan membuang waktu, sebaiknya kita cepat masuk. Kalian berpencar, sebagian ikut kami masuk!" Devano memberikan instruksi pada anak buahnya.
Lalu ketiganya berjalan menuju pintu, diikuti oleh beberapa orang. Sebagaian dari anak buahnya berpencar mengawasi sekeliling gudang tersebut. Dengan perlahan Devano menekan handle pintu.
"Tidak dikunci!" Gumamnya. Lalu membuka pintu secara perlahan. Begitu pintu terbuka, ketiganya membelalakkan mata melihat apa yang ada didalam. Gimana tidak kaget, dibayangan mereka, didalam ada beberapa orang dengan Kesya yang menjadi tawanannya. Tapi ini, Kesya tidak ada disana, hanya ada dua laki-laki dengan posisi terkapar di lantai. Tanpa sadar, ketiganya salih pandang lalu menggelengkan kepala.
Bergegas mereka masuk kedalam. Devano memeriksa kedua laki-laki itu, masih bernafas. Pandangan Devano menangkap benda yang menyembul dari kantong kedua laki-laki itu. Devano pun berjongkok kembali dan mengambil ponsel kedua laki-laki yang belum sadarkan diri itu. Ponsel itu akan berguna sebagai petunjuk tambahan.
"Kesya pasti melarikan diri, sebelum kita tiba disini!" Richard mengambil tali yang ada di lantai.
"Lapor bos, tidak ada siapa-siapa disini, selain mereka berdua." Salah satu dari anak buah Devano melapor.
"Hemmm, bawa mereka ke mobil!" Ucap Devano.
__ADS_1
"Ck, aku tidak menyangka, kalau Kesya sehebat itu. Bisa mengalahkan dua laki-laki! Mana babak-belur kayak gitu!" Celetuk Radith sambil memperhatikan wajah kedua penculik itu, saat diangkat oleh beberapa anak buahnya. Devano dan Richard menganggukkan kepala, tanda setuju dengan ucapan Radith.
"Kita harus segera mencari Kesya. Aku takut terjadi apa-apa padanya." Ucap Richard dan buru-buru melangkah menuju pintu.
"Kenapa kamu seperti terburu-buru, Chard?" Ujar Devano, merasa heran dengan tingkah sahabatnya itu.
Richard menghentikan langkahnya dan berbalik. "Kalian nggak lihat itu!" Richard menunjuk darah yang sudah mulai mengering, yang berceceran dilantai. Devano dan Radith mengikuti arah yang ditunjuk Richard. Keduanya membelalakkan matanya, karena tidak memperhatikan ceceran darah itu, saat memasuki ruangan ini.
"Kesya pasti terluka saat menghadapi kedua laki-laki tadi. Makanya aku bilang, kita harus segera menemukan Kesya, takut lukanya parah." Richard melanjutkan langkahnya diikuti oleh yang lainnya.
Tiba diluar, Devano mengumpulkan semua anak buahnya. "Kita harus menyusuri tempat ini. Waktu kita tidak banyak." Devano melihat jam yang melingkar ditangan kirinya sekilas.
"Sebelum matahari terbenam, kita harus menemukan Kesya. Akan lebih sulit, kalau kita melakukan pencarian saat gelap. Karena itu, manfaatkan waktu yang ada. Dua mobil menyisir diare ini, satu mobil ikut dengan kami diarea tengah, sisanya dibagian depan! Kalian paham?"
"Paham bos!" jawab mereka serempak.
Setelahnya mereka masuk mobil, kecuali yang tinggal menyisir di sekitar gudang.
Hingga hampir satu jam, salah satu anak buah Devano berteriak.
"Kami menemukannya bos!" Teriakkannya terdengar kuat. Devano dan yang lainnya berlari menghampiri asal datangnya suara.
"Dimana?" Tanya Richard yang lebih dulu tiba. Karena memang posisinya lebih dekat dengan asal suara.
"Itu bos!" Seorang laki-laki menunjuk Kesya yang tergeletak diantara rerumputan.
Richard mengecek nadi tangan Kesya, lalu menggelengkan kepalanya. Bergegas Richard menggendong Kesya untuk di bawa ke mobil. Salah satu membawakan tas Kesya.
"Kenapa dia?" Tanya Devano yang baru saja tiba bersama Radith.
__ADS_1
"Ketiduran atau pingsan, aku nggak tahu. Tapi denyut nadinya lemah!" Sahut Richard tanpa menghentikan langkahnya, berjalan menuju mobil. Devano yang mengerti, mengikuti langkah Richard. Butuh waktu tujuh menit, mereka tiba di dekat mobil. Dengan sigap, Devano membuka pintu mobil, supaya Richard bisa meletakkan Kesya di dalam.
Sebelum Devano masuk mobil, dia menemui anak buahnya.
"Dua mobil ikut dengan kami, sisanya kalian balik ke markas. Bawa kedua orang tadi kesana. Kalian pasti tahu apa tugas kalian selanjutnya."
"Kami mengerti bos!" Lalu Devano berlaku meninggalkan anak buahnya. Devano dan yang lainnya tidak akan melibatkan polisi dalam hal ini. Mereka punya cara sendiri untuk membantai musuh, termasuk kedua laki-laki yang menculik Kesya.
"Kita cari klinik terdekat atau langsung ke kota?" Tanya Devano yang sudah duduk di balik kemudi.
"Mampir ke klinik aja sebentar, untuk memeriksa lukanya itu." Radith yang duduk disamping Devano menyahut.
"Kita langsung saja. Sementara lukanya biar aku bersihkan dengan seadanya. Sinikan kotak obatnya!" Richard menimpali dari kursi belakang sambil mengulurkan tangannya meminta kotak obat.
Devano menatap Radith, tapi yang ditatap hanya menggendikkan bahunya. Radith pun membuka laci di depannya, mengambil kotak obat dan memberikannya pada Richard.
Devano pun menghidupkan mesin mobil. Mobil berjalan keluar dari area perkebunan itu.
"Ada luka lain, selain di lengannya, Chard?" Radith menoleh ke belakang.
"Sepertinya nggak ada. Cuma sudut bibirnya sedikit robek, mungkin bekas tamparan." Sahut Richard, yang sedang fokus membersihkan luka di lengan Kesya.
"Melihat keadaan kedua laki-laki tadi, aku yakin wanita itu pintar bela diri. Dan luka dilengannya itu pasti karena mau menghindar." Ucap Devano yang sesekali melirik ke belakang lewat spion kecil di depannya.
"Bisa jadi, makanya jangan sekali-kali menganggap remeh wanita, apalagi wanita yang terlihat polos. Termasuk wanita ini, tapi kalau kalian pengen mencoba seperti apa yang dialami Kevin sih, terserah." Ucap Richard yang sudah selesai membersihkan luka di lengan Kesya.
Sementara di depan, Radith dan Devano saling pandang, lalu tergelak bersama. Keduanya langsung ingat, foto yang dikirimkan Al pada mereka. Iya, Al sahabat mereka sekaligus asisten Kevin, mengirimkan banyak foto-foto Kevin, saat Kevin melakukan sesuatu yang tidak biasa Kevin lakukan. Termasuk foto wajah Kevin yang bengkak karena kena bogem mentah dari Kesya.
"Lebih cepat lagi, Dev. Sepertinya badannya semakin dingin." Ucap Richard tiba-tiba, begitu merasakan tubuh Kesya terasa lebih dingin dari awal tadi.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Devano melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Supaya mereka tiba dengan cepat di rumah sakit. Devano bahkan berhasil menyalip beberapa mobil yang ada di depan. Meski demikian, Devano tetap mengontrol, jangan sampai mereka atau pengendara lain celaka atas aksinya yang melajukan mobil lebih dari kecepatan biasa.