
Belum hilang rasa kagum Kinan membayangkan seberapa luas apartemen suaminya, sekarang dia sudah disuguhkan dengan pemandangan yang ada didepannya. Gimana tidak, begitu sang suami membuka pintu apartemen, Kinan sungguh kagum melihat semua interior di dalam. Semua terlihat sempurna, mulai dari sofa, lemari bahkan lampu juga lantai yang mengkilat.
"Kok malah bengong sih sayang?"
"Eh, iya mas. Mas Kevin tinggal disini?"
"Dulu iya, tapi semenjak kita menikah, mas kan tinggal di mansion, sayang." Ujar Kevin sambil berlalu menuntun sang istri masuk dan langsung menuju kelantai dua, tempat kamar tidurnya.
"Berarti apartemen ini udah lama kosong dong mas? Tapi kok apartemennya tidak terlihat kotor, seperti baru di bersihkan!" Kinan bisa melihat kalau apartemen ini tidak berdebu sama sekali. Padahal suaminya tidak tinggal disini lagi.
"Ada orang yang bertugas membersihkan ini sayang. Setiap tiga hari sekali, mereka rutin membersihkannya." Kinan hanya mengangguk - anggukkan kepalanya dengan sesekali mengalihkan pandangannya ke segala sudut. Sampai dia tidak sadar kalau keduanya sudah ada didepan salah satu kamar yang ada di lantai dua.
"Nah, yang ini kamar kita sayang!" Kevin membuka pintu. Begitu Kinan melihat ada ranjang di depan sana, entah kenapa dia pengen rebahan. Dan tanpa basa - basi, dia melepaskan tautan tangan suaminya lalu melangkah kearah ranjang. Tapi baru dua langkah, dia sudah menghentikan langkahnya karena mendengar suara sang suami.
"Jangan langsung tidur sayang, bersih - bersih dulu sebentar, biar tidurnya enak." Kevin tahu, sang istri pasti sudah kelelahan dan pengen cepat - cepat istirahat. Tapi dia tidak akan membiarkan sang istri istirahat tanpa membersihkan diri lebih dulu. Karena sudah seharian mereka diluar, pasti banyak kuman yang menempel.
"Lupa mas!" Kekeh Kinan.
"Tapi baju gantinya gimana mas? Kok tadi kita nggak bawa kesini sebagian belanjaannya iya, malah minta dibawa semua ke mansion." Kinan baru ingat kalau dia tidak ada baju ganti disini. Sementara semua belanjanya tadi siang sudah di antar salah satu pengawal yang ikut bersama mereka tadi ke mansion.
"Siapa bilang tidak ada baju ganti? Sini biar mas kasih lihat!" Kinan hanya menurut saat suaminya menuntunnya masuk ke salah satu ruangan yang ada di dalam kamar.
"Wow!" Rupanya ruang ganti di tempat ini, hampir sama dengan ruang ganti yang ada di mansion.
"Yang sebelah sini punyamu sayang, mulai dari baju sampai perlengkapan lainnya sudah ada disini." Kevin membuka lemari yang didalamnya sudah ada perlengkapan sang istri.
"Kapan mas menyiapkan ini semua?"
"Bukan mas yang nyiapin ini sayang?"
__ADS_1
"Kalau bukan mas, lalu siapa?"
"Mas hanya bagian perintah saja sayang. Tadi siang bi Surti yang membawanya kesini. Siapa tahu, kita pengen menginap disini lagi nantinya, jadi tidak perlu repot-repot membawa baju ganti." Pas di rumah sakit, Kevin sudah pesan pada sang mommy untuk mengantar beberapa baju dan perlengkapan Kinan yang lain dari mansion ke apartemen. Kalau untuk Kevin sendiri tidak perlu di bawa, karena sudah tersedia di apartemen ini sebelumnya.
"Kita bareng saja ke kamar mandinya sayang, biar menghemat waktu!" Tanpa menunggu jawaban istrinya, Kevin sudah lebih dulu menggendong sang istri ala bridal. Dengan hati - hati, dia menggendong sang istri ke kamar mandi.
Tidak butuh waktu lama, keduanya sudah selesai membersihkan diri. Kini Kinan sudah duduk bersandar di kepala ranjang, sementara Kevin turun kebawah mengambil air minum.
"Kenapa sayang?" Kevin yang baru masuk kamar dengan membawa nampan berisi air putih dan segelas susu, merasa heran melihat istrinya yang seperti mau menyentuh kakinya tapi tidak sampai karena terhalang perut buncit sang istri.
"Nggak tahu mas, kakiku rasanya gimana, gitu!"
"Pasti kamu kecapean itu sayang!" Kevin meletakkan nampan yang dia bawa di atas nakas. Lalu dia duduk di depan sang istri dan meletakkan kaki istrinya diatas pangkuannya dan mulai memijatnya dengan perlahan.
"Nggak usah mas!" Kinan berusaha menarik kakinya, dia merasa tidak enak suaminya memijat kakinya. Tapi tidak bisa karena sang suami menahannya.
"Udah, diam saja!" Kevin tetap fokus memijat kaki sang istri. Membuat Kinan menghentikan aksinya, dan sekarang justru menikmati pijatan tangan sang suami.
"Apa yang nggak bisa mas lakukan?" Sudah tampan, pintar dan juga bisa diandalkan dalam segala hal. Jangan lupakan dengan kekayaan yang mas punya!"
"Sombong!" Aku jadi menyesal telah memuji mas tadi!"
"Bukan sombong sayang, tapi itulah kenyataannya. Kalau mas tidak tampan, kamu tidak akan secinta itu sama mas!"
"Memangnya aku pernah bilang kalau aku mencintai mas Kevin?" Kinan meledek sang suami.
"Eh, iya juga. Kamu belum pernah bilang cinta iya. Tapi nggak papa, dari sikapmu yang selalu menempel pada mas, mas tahu kalau kamu sangat mencintai mas. Kamu hanya gengsi saja mengakuinya." Tangan Kevin masih tetap memijat kaki sang istri.
"Bukannya kebalik mas? Kan mas Kevin yang selalu nempel sama aku." Kinan mengedip - ngedipkan matanya.
__ADS_1
"Jangan coba - coba menatap laki - laki lain dengan seperti itu iya!"
"Kenapa?"
"Pokoknya tidak boleh! Awas saja sampai mas lihat kamu melakukannya dihadapan laki - laki lain!" Kevin khawatir kalau sampai sang istri menatap laki - laki lain dengan mata berkedip - kedip seperti itu, pasti mereka mengira kalau istrinya sedang merayu. Dan itu sangat berbahaya, bisa jadi mereka langsung membawa sang istri ke tempat lain. Kevin sampai bergidik membayangkannya.
"Gimana, udah enakkan?" Kinan menganggukkan kepalanya.
"Makasih iya mas!"
"Hemmm. Kamu ngeyel sih, mas udah minta pulang, tapi kamu tidak mau. Malah ngajak nonton pula. Begini kan jadinya!"
"Kan jarang - jarang kita pergi ke luar mas. Apalagi Kesya tidak banyak waktu, karena kesibukannya. Jadi mumpung tadi bisa pergi bersama, harus di manfaatkan dong!" Tadi suaminya memang tidak mau diajak nonton, katanya itu buang - buang waktu. Tapi Kinan mengatakan kalau itu bagian dari ngidam, hingga mau tidak mau, Kevin bersedia ikut.
Kevin menyudahi kegiatan memijatnya, dia mengangkat kaki istrinya dari pangkuannya. Kini dia beralih mengusap perut sang istri, yang di dalamnya ada dua calon anaknya.
"Selamat malam, anak - anak daddy. Kalian pasti capek juga kan? Mommy sih bandel, seharian ini mommy jalan terus, padahal daddy udah minta pulang, biar bisa istirahat. Tapi mommy ngeyel, dirumah bisa nonton, padahal. Ngapain harus ke bioskop, sementara dirumah lebih nyaman nontonnya. Sekarang kalian tidur iya, selamat malam anak - anak daddy." Kevin mengecup perut sang istri beberapa kali.
"Apa?" Kevin tergelak melihat wajah cemberut sang istri.
"Sekarang mas jadi punya tempat mengadu iya. Apa - apa ngadu, apa - apa ngadu!" Kinan semakin mengerucutkan bibirnya.
"Mas!" Seru Kinan, kala sang suami malah mengecup bibirnya.
"Siapa suruh bibirnya manyun gitu. Sekarang minum susunya, habis itu baru istirahat!" Kevin mengambil segelas susu dari atas nakas.
"Kok ada ini mas?" Kinan menerimanya dan meneguknya sampai habis.
"Kayaknya bi Surti yang bawa, ada juga beberapa cemilan di kulkas tadi mas lihat." Kevin mengambil gelas yang sudah kosong dari tangan sang istri dan meletakkannya kembali ke atas nakas.
__ADS_1
"Sekarang waktunya tidur!" Kevin lebih dulu mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur. Setelahnya membantu sang istri berbaring, lalu menarik selimut sampai batas dada. Kevin juga ikut berbaring disamping sang istri. Hingga beberapa detik saja, sudah terdengar dengkuran halus istrinya yang menandakan kalau sang istri sudah tertidur pulas.
Kevin yang belum bisa tidur hanya memandangi wajah teduh sang istri yang sudah terlelap. Dia mengecup semua bagian wajah sang istri. Kemudian memeluk sang istri dan juga memejamkan matanya, berharap dia juga bisa tidur. Tapi hingga beberapa menit dia tidak bisa tidur juga, akhirnya dalam hati, dia menghitung domba hingga dia tertidur menyusul sang istri.