
Kini keduanya sedang mengatur nafas masing - masing. Ciuman keduanya harus terlepas, karena Kinan yang hampir kehabisan nafas.
"Mas sudah tidak marah kan?" Tanya Kinan pelan.
"Siapa yang marah?"
"Kalau nggak marah, nggak mungkin tangan mas Kevin terkepal gitu, wajah mas juga tadi merah!"
"Mas nggak marah kok, tapi kalau mas marah dan mendapatkan hukuman yang seperti tadi, mas jadi pengen marah terus. Kapan lagi kan, mas mendapat ciuman seperti tadi. Jadi mas putuskan untuk marah saja, biar bisa dapat hukuman enak!" Kevin menaik - turunkan alisnya menggoda sang istri.
"Mas!" Kinan menundukkan kepalanya, merasa malu pada suaminya. Dia sendiri kaget dengan apa yang dia lakukan barusan.
"Nggak usah malu gitu, Ay. Justru mas senang kamu lebih agresif seperti itu. Kembali ke pembahasan kita tadi, sejujurnya sih mas marah dan kecewa. Gimana mas nggak marah, daddy dan mommy segitu rapinya bohongin mas. Kalau sehari, dua hari sih nggak papa. Ini hampir seminggu Ay, mereka semua bersekongkol untuk membohongi mas. Mereka semua membiarkan mas seperti orang yang kehilangan arah selama beberapa hari. Kalau pun mau menghukum mas, cukuplah sehari, dua hari. Ini lebih dari itu, kamu tahu hal yang lebih menyakitkan apa?"
"Apa emang?"
"Dengan santainya mommy bilang, tidak usah dicari, Kinan pasti membutuhkan waktu untuk sendiri. Nanti dia akan pulang dengan sendirinya. Ternyata....."
"Mas udah janji lho nggak akan marah pada daddy dan mommy. Juga para pelayan dan pengawal yang ada disini, mereka itu hanya menuruti perintah. Jadi mas nggak boleh nyalahin mereka."
"Mas nggak akan marah, tapi mereka semua tetap dapat hukuman dari mas karena sudah berani bohongin majikannya."
"Mas nggak lupa kan, sama janji mas yang tadi. Tentu mas juga akan dapat hukuman kalau mas menghukum mereka."
"Ck, baru berapa hari kamu pergi, selain jahil, kamu pintar ngancam juga iya. Apa dibelakang sana kamu belajar bagaimana cara untuk mengancam suami?" Kevin yang terlihat kesal, mengerucutkan bibirnya. Membuat Kinan terkikik geli.
"Mas lucu banget sih!" Kinan mencubit kedua pipi suaminya karena merasa gemas dengan tingkah sang suami. Kalau melihat suaminya bertingkah seperti ini, sudah tak terlihat suaminya yang dulu dingin dan kejam.
"Berarti semua sudah beres kan mas? Sekarang kita turun yok, bosan dikamar terus dari tadi!"
"Siapa bilang sudah beres?" Kevin tersenyum licik, membuat Kinan curiga dengan senyuman suaminya.
"Mas mau bahas apa lagi, bukannya sudah selesai?" Dengan pelan Kinan menyahut, sembari memundurkan tubuhnya dengan perlahan.
__ADS_1
"Nggak tuh!" Dengan santainya Kevin melepas kaos hitam yang sejak tadi membungkus tubuhnya dan melemparnya kesudut ranjang.
"Mas mau ngapain?" Kinan gelagapan, tapi disaat yang bersamaan dia menelan ludahnya melihat tubuh suaminya yang bagian atasnya sudah polos. Pengen rasanya dia menyentuh perut sang suami. Detik berikutnya dia menggeleng - gelengkan kepalanya karena sudah berpikir yang aneh - aneh. Tapi isi hati dan tindakannya berbeda, setelah menggelengkan kepalanya, pandangannya kembali fokus ke tubuh suaminya.
"Kamu kenapa Ay?" Karena terlalu asyik memandangi tubuh suaminya, Kinan sampai tidak sadar kalau wajah suaminya sudah berjarak beberapa senti saja dari wajahnya.
"Ada apa dengan kepalamu Ay? Pusing? Apa perlu mas panggil dokter untuk memeriksa?"
Kinan tidak mempedulikan suaminya, dia masih mengagumi tubuh seksi suaminya, yang entah kenapa sungguh menggoda iman. Bahkan Kinan tidak sadar kalau suaminya sudah menempel disampingnya. Yang justru membuat Kinan memejamkan matanya saat mencium aroma tubuh sang suami. Aroma tubuh sang suami membuatnya ingin.....
Astaga, dasar mesum kamu Kinan. Setelah memaki dirinya sendiri, Kinan dengan perlahan membuka matanya, melihat wajah suaminya yang hampir menciumnya.
"Mas!" Dengan refleks Kinan mendorong tubuh suaminya, hingga Kevin yang tidak siap terjatuh kebelakang.
"Kok mas malah di dorong sih, Ay?"
"Salah mas sendiri, ngapain dekat - dekat!"
"Coba sini mas periksa!" Kembali Kevin mendekati istrinya, tapi bukannya memeriksa sang istri, dia justru membawa tangan kanan istrinya kearah perutnya. Sebenarnya Kevin tahu apa yang ada dipikiran istrinya, karena tadi dia melihat arah pandang sang istri begitu dia melepas kaosnya tadi.
"Dari tadi kamu pengen menyentuh ini kan? Sekarang kamu bebas menyentuhnya!"
"Mana ada iya mas!" Tapi Kinan tidak menarik tangannya, justru dia menggerakkan tangannya untuk menyentuh perut sixpack suaminya. Atau yang biasa orang bilang dengan roti sobek.
"Kayak punya mainan baru iya, senang banget kelihatannya. Apa perlu mas buka yang lain?"
"Apaan sih mas?" Kinan menjauhkan tangannya, wajahnya bahkan sudah terasa panas. Bisa - bisanya dia ketahuan mengagumi tubuh sang suami.
"Turun yok mas!" Kinan sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Ngapain turun, kita disini saja. Nanti kalau mau makan siang, baru kita turun."
"Nggak enak sama mommy dan oma, mas!"
__ADS_1
"Nggak enak apanya? Mommy nggak mungkin kangen sama kamu, pasti tiap hari kalian ketemu dibelakang sana kan? Ck, sekarang mommy sudah pintar akting. Tadi mas pikir mommy benaran sedih karena mengurung kamu dikamar, tak tahunya itu hanya akting. Udah, kita disini saja." Kevin membaringkan tubuhnya dengan beralaskan paha sang istri. Tidak lupa dia menghadap perut besar sang istri.
"Cepatlah lahir nak, daddy sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Hanya kamu harapan daddy, disini tidak ada orang yang menyayangi daddy, bahkan mommymu pun tak sayang pada daddy." Kevin mengusap perut istrinya yang membesar, sembari mengajak calon anaknya mengobrol.
Sementara Kinan terkikik geli mendengar celotehan suaminya. Dia tidak mau mengganggu kesenangan suaminya. Kinan mendaratkan tangannya untuk mengusap kepala sang suami.
"Oh iya Ay, apa yang kamu lakukan dibelakang sana beberapa hari ini. Memangnya nggak bosan disana terus?" Tanya Kevin setelah puas mengobrol dengan calon anaknya.
"Nggak ngelakuin apa - apa mas, disana hanya makan dan makan. Lalu cerita - cerita sama Kesya. Kalau nggak sama mbak pelayan yang tidak kerja. Justru dengan tinggal disana, aku jadi kenal dengan beberapa mbak pelayan yang jarang aku lihat. Mommy sama Oma juga kan main kesana mas. Oh iya, Kesya jangan dimarahi atau dipecat iya mas. Dia kan beberapa hari nggak berangkat kerja. Lagian urusan ijin liburnya mommy sendiri kok yang urus. Jadi mas nggak boleh panggil dia keruangan mas."
"Hemmm!"
"Awas kalau mas ingkar!"
"Hemmm!" Meski kesal dengan jawaban suaminya yang hanya 'hemmm.' Kinan tidak mau protes, nanti kalau dia protes jadi panjang urusannya.
"Dan soal bosan, kadang bosan sih. Tapi aku tahan - tahan saja, dan untuk mengurangi rasa bosan dan kangenku pada mas, setiap siang, aku memilih masuk ke kamar ini. Aku akan tidur di ranjang ini sejam, dua jamanlah, setelahnya baru balik lagi kebelakang."
"Benaran kamu tidur di ranjang ini, Ay?" Kevin mendongakkan wajahnya untuk menatap istrinya. Melihat sang istri mengangguk, Kevin menarik nafas dalam.
"Pantas saja mas bisa mencium bau tubuhmu di kamar ini, dan merasa kalau kamu habis dari sini."
Kevin langsung ingat, setiap dia pulang kerja, dia selalu mencium bau istrinya dikamar ini. Terlebih dibagian ranjang, dia merasa istrinya baru tidur di ranjang mereka. Dia pikir karena terlalu merindukan istrinya, makanya dia merasa seolah sang istri baru menempati kamar ini. Tak tahunya sang istri benaran ada dikamar mereka sebelum dia pulang kerja.
Dalam hal ini, Kevin tidak tahu harus menyalakan siapa. Dia yang tidak peka terhadap sikap tenang orang tuanya atau orang tuanya yang terlalu pintar menutupi semuanya? Mau marah pun percuma, karena sudah terjadi, toh sang istri juga sudah kembali. Yang bisa dia lakukan, hanya menertawakan kebodohan dan ketidakpekaannya dengan situasi dan sikap keluarganya. Termasuk para pelayan dan pengawal yang bertugas dimansion.
Meski Kevin sudah berjanji tidak akan marah, tapi Kevin akan tetap membuat perhitungan dengan orang tuanya dan juga orang - orang yang terlibat. Enak saja mereka tidak mendapatkan hukuman dengan apa yang mereka lakukan padanya.
🌻🌻🌹🌹
Jangan lupa dukungannya ya, like, vote dan komen. Hadiahnya juga boleh 😃
Terimakasih 🙏
__ADS_1