
Seperti janji Kevin, mereka akan pulang ke mansion hari Minggu malam. Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang. Beberapa hari ini mereka beraktivitas seperti biasa. Dan laporan dari pengawal yang berjaga disekitar apartemen, terlihat beberapa kali Jessica datang. Para pengawal yang berjaga tidak mengambil tindakan karena Jessica tidak melakukan apa-apa. Sepertinya wanita itu hanya memantau, dengan siapa Kevin keluar.
"Aku langsung iya, Vin. Salam aja untuk yang lainnya!" Ucap Al, ketika mereka sudah tiba di mansion.
"Ck, siapa juga yang nawarin kamu masuk!"
"Mas!" Kinan memukul pelan lengan suaminya.
"Terimakasih iya, kak Al sudah mengantar kami.
"Sama-sama, Kin!"
"Ngapain berterimakasih padanya, sayang. Itu sudah menjadi tugasnya! Ayok masuk!" Kevin menuntun sang istri masuk kedalam.
"Selamat malam, selamat datang kembali tuan dan nona muda!" Sapa Pak Salman yang sudah menunggu didepan.
"Selamat malam Pak. Gimana kabar Pak Salman?" Hanya Kinan yang menjawab, sementara Kevin hanya mengangguk.
"Kabar saya baik nona!"
"Daddy dan mommy dirumah kan Pak?" Tanya Kevin sambil berlalu kedalam. Tidak lupa dia menuntun sang istri. Pak Salman pun mengikuti dari belakang.
"Ada tuan, tuan dan nyonya besar ada diruang keluarga!"
"Selamat malam semuanya!" Ucap Kevin dan Kinan serempak, ketika mereka sudah ada diruang keluarga. Dimana disana ada orang tuanya juga Oma Jeny.
"Selamat malam nak!"
"Selamat malam sayang!"
"Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga!" Mommy Cella langsung menyambut menantunya dengan pelukan sayang.
Kevin dan Kinan bergantian menyalami yang lainnya.
Saat Kinan berdiri di depan Daddy Marvin, karena habis meyalami mertuanya, daddy Marvin juga menanyakan....
"Gimana kabar kedua cucu daddy?"
"Sehat dad, mereka semakin aktif bergerak!" Kinan mengusap perutnya.
"Daddy boleh pegang nggak? Dari kemarin- kemarin, daddy pengen juga merasakan tendangan cucu daddy, tapi daddy tidak enak. Sudah puluhan tahun, daddy tidak pegang perut wanita hamil, jadi daddy pengen merasakan kembali!" Kekeh daddy Marvin.
"Astaga daddy, wajar daddy sudah lama nggak pegang perut wanita hamil. Mommy kan hanya hamil Kevin, dan itu sudah sangat lama. Lagipula, mommy bakalan marah kalau daddy berani pegang-pegang perut wanita hamil sembarangan!" Wajah mommy Cella sedikit sendu. Pasalnya dia pengen punya anak banyak, tapi rahimnya sedikit bermasalah pasca melahirkan Kevin. Jadinya dia hanya bisa pasrah, saat dia tahu sudah tidak bisa hamil lagi.
"Maksud daddy bukan seperti itu, mom. Intinya daddy ingin merasakan tendangan cucu daddy, itu saja!" Daddy Marvin tentu tahu kerinduan sang istri yang pengen punya anak lagi, tapi takdir berkata lain.
Sementara Kinan menoleh ke arah sang suami untuk meminta persetujuan. Bukan apa, Kinan merasa sungkan saja. Tapi melihat sang suami mengangguk sembari memberikan senyum, Kinan pun mempersilahkan daddy Marvin untuk menyentuh perutnya.
Dengan hati-hati, daddy Marvin mengusap perut menantunya yang membesar. Dalam hati daddy Marvin berdoa semoga persalinan menantunya lancar. Menantu dan kedua cucunya sehat. Saat akan menjauhkan tangannya, daddy Marvin terkesiap dengan mata membulat senang, begitu melihat dan merasakan perut menantunya bergerak pelan.
"Oh my God!" Serunya senang. "Lihat cucu kita mom. Cepatlah kalian lahir, kami semua menantikan kalian!"
__ADS_1
Mommy Cella yang melihat wajah berbinar sang suami segera mendekat. Tentu saja mommy Cella tidak mau ketinggalan merasakan tendangan cucunya, meski sudah beberapa kali dia merasakan saat mengusap perut sang menantu.
Sementara Kinan tersenyum senang kala kedua mertuanya berebutan mengusap perutnya. Kinan juga menikmati perhatian yang diberikan mertuanya pada calon anaknya.
Kevin juga merasa senang menyaksikan keluarganya yang sangat antusias menanti kelahiran calon anaknya sekaligus cucu keluarga William itu. Calon penerus keluarga William yang baru.
"Mama nggak ikut menyentuh perut cucu menantu mama ini?" Setelah puas dengan kegiatannya, daddy Marvin mengalihkan pandangannya pada sang mama.
"Mama juga pengen! Tapi kasihan Kinan, pasti dia capek kelamaan berdiri gara-gara ulah kalian itu."
Daddy Marvin dan mommy Cella jadi salah tingkah.
"Maafkan daddy dan mommy iya sayang. Daddy dan mommy terlalu senang, hingga tidak sadar menahan kamu berdiri disini!" Lalu mommy Cella menuntun Kinan untuk duduk di sofa.
Membuat Kinan tersenyum kecil.
"Oh iya, kalian udah makan malam belum?" Tanya mommy Cella, saat mereka semua sudah duduk.
"Sudah mom, tadi sebelum kesini, kita makan malam dulu!" Ujar Kevin, memang tadi sebelum pulang ke mansion, Kevin mengajak sang istri untuk makan malam terlebih dahulu.
Mommy Cella mengangguk tanda mengerti. Setelahnya mereka membicarakan banyak hal, hingga beberapa menit kemudian, Kevin pamit untuk mengajak sang istri masuk kamar untuk istirahat.
"Setelah mengantar Kinan, daddy tunggu kamu diruang kerja daddy, Vin. Ada hal yang mau daddy bicarakan denganmu!"
"Hemmm!" Kevin menuntun Kinan menaiki tangga untuk ke lantai dua.
"Bagaimana kalau kita pindah ke kamar bawah untuk sementara, sayang? Setidaknya sampai kamu melahirkan, mas sedikit ngeri kalau kamu naik atau turun tangga sendirian. Kalau mas lagi dirumah, mas bisa nuntun kamu kayak gini, tapi kalau mas lagi kerja, siapa yang akan menuntunmu!"
"Tapi kamu harus tetap hati-hati saat naik-turun tangga iya, sayang. Dan kalau bisa kamu kurangin turun kebawah, kalau ada yang kamu butuhkan kamu bisa minta tolong pada Pak Salman atau bi Surti!" Kevin membuka pintu kamar, lalu menutupnya kembali, begitu keduanya masuk kedalam.
"Kangen sama ranjang ini!" Kinan yang sudah duduk di pinggir ranjang, menyapukan tangannya ke permukaan ranjang.
"Ranjang ini kamu kangenin, tapi mas nggak pernah tuh, kamu kangenin!"
"Gimana mau kangen, wong tiap hari kita ketemu!" Ledek Kinan.
"Untuk menyenangkan hati mas, apa susahnya sih bilang kangen, sayang!"
"Kalau mas gimana?"
"Kalau mas jangan ditanya, sayang. Setiap saat mas kangen sama kamu. Seandainya bisa, mas akan bawa kamu kemana pun mas pergi!"
"Lebay deh....Eh, bukannya mas diminta daddy untuk ke ruang kerja daddy iya mas?" Kinan ingat, sebelum meninggalkan ruang keluarga tadi, daddy Marvin meminta suaminya untuk menemuinya.
"Iya, ini mau kesana kok. Nggak papa kan kalau mas tinggal? Kalau kamu ngantuk, tidur duluan nggak papa!"
"Kira-kira daddy mau ngomongin apa iya mas?"
"Kalau kamu penasaran, ikut saja?"
"Apaan sih?" Kinan memukul pelan lengan suaminya. Membuat Kevin tergelak.
__ADS_1
"Iya udah, mas keluar dulu iya!" Setelah Kevin mengecup kening istrinya, dia keluar kamar.
Di ruang kerja daddy Marvin.
"Daddy mau ngomongin apa?" Kevin sudah duduk di depan sang daddy. Keduanya duduk disofa yang ada di ruangan itu.
"Katanya wanita itu sudah kembali?" Daddy Marvin langsung to the point.
"Terus?" Kini Kevin sudah bisa menarik garis besar kemana arah pembicaraan sang daddy. Ternyata ada hubungannya dengan wanita masa lalunya. Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa sang daddy membahas ini, apa wanita itu datang menemui daddynya, pikirnya.
"Jangan bilang, kalau kamu akan kembali pada wanita itu!"
"Menurut daddy?" Kevin malah menggoda sang daddy. Tapi melihat wajah serius sang daddy, Kevin melanjutkan....
"Kalau daddy punya pemikiran aku akan balik lagi pada wanita itu, daddy salah besar. Percayalah dad, aku sudah melupakan wanita itu sejak dia pergi meninggalkanku. Seandainya pun aku belum menikah, aku tidak akan mengulangi kesalahanku dengan kembali padanya. Dan untungnya sekarang aku sudah punya tempat untuk pulang. Istriku tercinta, bidadariku dan calon ibu dari anak-anakku." Kevin menarik nafas sejenak, lalu melanjutkan.....
"Aku bahagia dengan keluarga kecilku sekarang dad. Belum lagi, tidak menunggu waktu lama, aku akan menjadi seorang ayah. Karena itu, aku tidak akan menukar semua itu dengan wanita manapun, termasuk wanita itu.
Daddy tidak usah memikirkan hal yang tidak penting. Yang harus daddy pikiran dari sekarang adalah, hadiah apa yang akan daddy berikan untuk kedua anakku. Secara aku akan memberikan daddy, dua cucu sekaligus. Sepertinya sebuah pulau cocok untuk kedua anakku. Tidak usah jauh-jauh deh, pulau yang di kota xx pun jadi!" Kevin menaik-turunkan alisnya menggoda sang daddy.
Daddy Marvin mendengus mendengar ucapan anaknya. Tanpa anaknya minta pun, dia sudah menyiapkan hadiah untuk kedua cucunya. Dan dia cukup puas mendengar semua penjelasan anaknya.
"Daddy pegang omongan kamu. Dan ingat, kalau sampai kamu menyakiti hati menantu daddy karena wanita itu, kamu akan berhadapan dengan daddy!"
"Iya, dad!"
"Iya udah, sana balik ke kamar! Kasihan istrimu sendirian!" Daddy Marvin mengibaskan tangannya mengusir anaknya.
"Astaga! Jadi daddy hanya ngomongin itu?"
"Daddy hanya tidak mau, kamu melakukan kesalahan yang sama!"
"Tahu gitu tadi, aku nggak kesini?" Kevin beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Kevin yang mau memegang handle pintu, tidak jadi karena panggilan sang daddy. Kevin juga membalikkan tubuhnya.
"Satu lagi, nak. Kamu jangan sampai lengah mengawasi istrimu. Okelah, kemarin wanita itu tidak masuk ke apartemenmu, tapi wanita itu tidak akan berhenti sampai disana. Dia pasti mencari cara lain untuk bisa berjumpa dengan istrimu."
"Daddy tahu kalau...." Kevin tidak melanjutkan ucapannya, begitu melihat sang daddy mengangguk.
"Kamu lupa, kalau daddy mengawasi kamu, semenjak kejadian beberapa bulan lalu?"
Kevin mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Pantesan daddynya tahu kalau wanita itu berkeliaran di sekitar apartemen beberapa hari lalu, ternyata orang- orang daddy masih mengawasi, pikirnya.
"Daddy tenang saja, aku sudah menempatkan pengawal dua puluh empat jam untuk mengawasi istriku. Lagian untuk sementara waktu, Kinan tidak akan keluar rumah dad!"
"Bukan gitu juga konsepnya, nak. Jangan sampai karena kamu mengurungnya dirumah membuatnya tertekan. Dan itu akan berakibat pada calon cucu daddy. Apalagi sebentar lagi istrimu melahirkan, pikiran dan hatinya harus tetap tenang. Takutnya istrimu malah mikir yang aneh-aneh, karena tidak bisa kemana-mana."
"Istriku sudah ngerti kok dad, karena aku sudah menjelaskan semuanya padanya. Pokoknya daddy tenang aja. Udah iya dad, aku mau ke kamar!"
"Selamat malam, selamat istirahat, dad!"
Setelahnya Kevin membuka pintu dan keluar dari sana. Dia juga mau istirahat sembari memeluk sang istri.
__ADS_1