
Setelah Kevin dan Kinan selesai sarapan, keduanya pindah ke balkon menikmati udara pagi. Kinan berdiri sambil merentangkan kedua tangannya. Lalu dia mengarahkan pandangannya, melihat aktivitas orang - orang yang ada dibawah sana.
"Ayok duduk, kamu jangan berdiri terlalu lama." Kevin mengajak Kinan duduk dikursi yang ada disana. Kinan hanya pasrah saat sang suami menuntunnya duduk.
"Kinan tidak menyangka, kalau mas Kevin bisa romantis juga. Sampai mengubah rooftop menjadi tempat makan malam romantis. Belum lagi kamar dihias, seperti kamar pengantin. Kinan pikir mas Kevin hanya tahu kerja dan kerja saja." Ucap Kinan, ketika keduanya sudah duduk.
Kevin menyandarkan punggungnya kesandaran kursi, lalu menarik nafas dalam -dalam. "Mas juga ngak tahu, awalnya mas mau ngajak makan malam diluar. Tapi ketika mas meminta Al, untuk reservasi tempat, Al malah menyarankan, membuat acara makan malam itu menjadi berkesan dan spesial. Dan seperti yang kamu lihat, dia melakukannya dengan baik. Kamu tidak suka?"
"Kinan suka kok, mas."
"Syukurlah kalau kamu suka."
"Kalau soal cincin tadi malam, apa kak Al juga yang menyarankannya pada mas?"
"Kalau cincin, murni keinginan mas sendiri. Menurut mas, tadi malam itu, momen yang tepat untuk mengungkapkan isi hati mas sama kamu."
"Kinan jadi merasa dilamar sama pacar." Gumam Kinan, tapi masih bisa didengar sama Kevin.
"Anggap saja begitu."
"Mana bisa, kita kan sudah menikah."
"Kemarin kita nikah, ngak ada acara lamaran kan? Jadi anggap saja yang tadi malam itu, mas melamar kamu."
"Ngaklah, kita kan udah menikah, sudah jadi suami - istri." Masa suami - istri masih lamar - lamaran."
"Astaga......Harus ya, kita ribut bahas itu." Ucap Kevin ketus. Kinan terkekeh, melihat suaminya yang sudah mulai kesal. Dia paling suka, kalau melihat suaminya kesal. Entahlah dengan bumil satu itu, menurutnya wajah kesal sang suami terlihat lucu.
__ADS_1
"Gitu aja ngambek." Kinan mencolek dagu suaminya. Membuat Kevin mengalihkan pandangannya. Kevin ingin sang istri merayunya, atau ngak mendapat ciuman dari sang istri. Hehehe
"Yakin nih, masih ngambek?" Kinan menusuk - nusuk pipi suaminya dengan jari telunjuknya. Tapi Kevin masih bertahan untuk mengalihkan pandangannya. Dia tidak mau menatap sang istri.
"Daddy ambekan ya, nak. Apa sebaiknya kita ganti daddy saja. Sepertinya salah satu sahabat daddy, cocok untuk kita jadikan kandidat, ya nak." Kinan mengusap perutnya.
"Sembarang aja mau ganti daddy!" Tanpa sadar, Kevin meninggikan suaranya.
"Tuh kan nak, daddy malah teriakin kita." Kinan pura - pura sedih, dan terus mengusap - usap perutnya.
"Maafkan mas, Ay. Habisnya kamu pun aneh - aneh aja mau ganti daddy." Kevin merasa bersalah melihat wajah sedih sang istri. Dia membawa sang istri kedalam pelukannya. Tanpa dia tahu, kalau Kinan tersenyum penuh kemenangan, karena berhasil mengerjai suaminya. Kevin mencium kepala istrinya dengan sayang. Lalu melepaskan pelukannya.
"Maafkan mas ya. Jangan pernah ngomong untuk ganti daddy lagi." Kevin berpindah posisi, dia berjongkok dan menciumi perut sang istri. "Kamu ngak mau kan nak, kalau ganti daddy. Daddy adalah daddy terbaik. Bilang sama mommy jangan sekali-kali mengucapkan kalimat itu lagi."
Wah - wah, tuan muda satu ini, ikut - ikutan memanfaatkan anaknya. Kamu ada dipijak mommy kan nak, untuk mengerjai daddy.
"Sudah - sudah mas, jangan cium - cium lagi. Geli tahu!"
"Ini permintaan anak kita, Ay. Dia pengen dicium terus sama daddynya." Ucap Kevin polos. Membuat Kinan tertawa.
"Mas dapat kata - kata itu dari mana? Udah duduk sini." Kinan menepuk kursi disampingnya.
"Terimakasih ya." Kevin mengusap dan mencium kepala istrinya, setelah dia duduk disamping sang istri.
"Terimakasih untuk apa mas?"
"Untuk semuanya. Terlebih untuk yang semalam." Kevin mengedipkan matanya.
__ADS_1
"Apaan sih mas!" Kinan menundukkan kepalanya, wajahnya terasa panas, saat suaminya membahas tentang tadi malam. Kevin tersenyum kecil melihat wajah malu - malu istrinya. Kembali Kevin membawa Kinan kedalam pelukannya.
"Terimakasih Ay, terimakasih." Kevin senang sekaligus terharu karena sang istri mampu melawan traumanya. Meski dia tahu, tadi malam tubuh sang istri tegang, tapi dia berusaha membuat istrinya nyaman.
Kinan membalas pelukan suaminya. "Mas tidak perlu berterima kasih. Justru Kinan yang minta maaf, karena baru tadi malam, bisa memberikan hak mas. Padahal pernikahan kita sudah beberapa bulan."
"Tidak apa, Ay. Kita berdua tahu, apa alasan, kita baru melakukannya. Kan kata dokter kita tidak boleh berhubungan, karena kandunganmu masih muda. Jadi kamu tidak usah merasa bersalah seperti itu." Kevin tentu tidak mau membahas hal lainnya. Takut membuat sang istri tidak nyaman.
"I love you, Ay!" Bisik Kevin tiba - tiba. Melihat istrinya tidak membalas ucapannya, Kevin melepaskan pelukannya. "Kok ngak dibalas Ay?"
"Balas apa?" Tanya Kinan polos.
"Perasaan maslah, apalagi?"
"Kan Kinan tidak cinta!" Sahut Kinan santai.
"Tidak papa, mas akan setia menunggu kamu membalas perasaan mas. Mas juga berjanji akan membuat kamu mencintai mas." Ucap Kevin lembut. Dia tidak marah atau pun kecewa, sang istri belum mencintainya. Dia tidak mau memaksa istrinya untuk membalas perasaannya, kalau memang sang istri belum ada rasa. Justru dia berjanji pada dirinya, untuk membuat istrinya jatuh cinta padanya.
Kinan tahu, suaminya pasti kecewa karena dia tidak membalas perasaan sang suami. Tapi dia punya cara sendiri, untuk menunjukkannya, tanpa harus diungkapkan. Tunggu waktu yang tepat, dia akan mengucapkannya. "Oh iya, mas, kalau tidak salah, ditempat ini Kinan pernah dengar seseorang mengatakan 'Aku akan memperlakukanmu dengan baik, tapi kamu harus ingat akan satu hal, aku tidak bisa memberimu cinta'. Pernah loh mas, Kinan dengar kayak gitu." Kinan menahan senyumnya, melihat wajah masam sang suami.
Membuat Kevin mendengus. "Bisa tidak sih, ngak usah ingat bagian itu? Mas ngaku kalah deh!" Kevin mengangkat kedua tangannya, seperti orang menyerah. Membuat Kinan tergelak geli.
"Kok mas kayak kesal gitu, emangnya mas tahu, siapa yang Kinan maksud?"
"Sekarang sudah pintar ya, nyindir - nyindir orang." Kevin yang gemas dengan sang istri, menggelitiki istrinya. Membuat Kinan tertawa, juga kegelian. Akhirnya keduanya melanjutkan obrolan santai. Karena cuaca semakin panas, keduanya pindah kedalam. Seperti ucapan Kevin diawal, keduanya menghabiskan waktu seharian dikamar. Padahal, Kinan sudah meminta untuk pulang kerumah, tapi sang suami tidak mau menuruti keinginan istrinya. Dengan wajah cemberut, Kinan setuju, kalau mereka pulang malam.
Banyak hal yang mereka bahas, sampai hal yang tidak penting juga ikut dibahas. Karena rayuan sang suami, Kinan akhirnya pasrah, ketika suaminya meminta untuk mengulang kejadian tadi malam, yang berakhir membuat keduanya kelelahan dan tertidur. Hingga menjelang malam, setelah keduanya makan malam, baru mereka meninggalkan hotel dan pulang kerumah.
__ADS_1