Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam
Bab 108


__ADS_3

Kevin memeluk sang istri dari belakang. Keadaan perut sang istri yang semakin membesar, menyulitkan Kevin untuk memeluk istrinya dari depan.


"Sudah dong sayang nangisnya. Apa nggak capek dari tadi nangis terus?" Bahkan mata istrinya sudah membengkak, hidung merah juga suara yang mulai serak karena kebanyakan menangis. Gimana tidak membengkak, seharian ini istrinya sudah berkali-kali menangis.


"Perkiraan dokter sepuluh hari lagi kan? Mas perginya hanya tiga hari, tapi sebelum tiga hari, mas akan usahakan menyelesaikan urusan disana, supaya bisa pulang secepatnya!"


Hari ini terpaksa Kevin dan Al harus berangkat ke Bali untuk tiga hari ke depan. Perjalanan bisnis ini tidak bisa diwakilkan pada Al seperti biasa. Hanya daddy Marvin yang bisa mewakilkan, tapi dari kemarin kesehatan sang daddy menurun, hingga tidak bisa di wakilkan oleh sang daddy. Jadilah Kevin harus turun tangan sendiri yang kesana.


Sebenarnya Kevin sendiri pun berat untuk meninggalkan sang istri. Pasalnya sang istri akan melahirkan hanya dalam hitungan hari. Dan dua hari lalu Kinan mengalami kontraksi palsu yang diakibatkan dari pergerakan kedua bayinya yang terlalu aktif. Tapi dokter kandungan yang menangani sang istri menyatakan hal tersebut adalah hal yang wajar terjadi pada saat-saat mendekati hari perkiraan lahir.


Meski demikian, dokter tetap mengingatkan, jika sewaktu-waktu dirasa sakitnya sudah lebih kuat dan jeda waktu kontraksi juga lebih rapat juga disertai dengan rembesan cairan, maka sang istri harus segera dibawa ke rumah sakit.


Karena kontraksi palsu itulah yang membuat Kevin merasa khawatir dan was-was. Jangan sampai sang istri melahirkan, tapi dia tidak ada disampingnya. Ini adalah momen pertama Kevin menanti kelahiran sang buah hati, karena itu dia tidak mau melewatkan sedikit pun proses kelahiran sang buah hati.


Tapi keberangkatannya ke Bali juga tidak bisa diabaikan atau ditunda, karena ini menyangkut semua karyawan yang menggantungkan harapannya pada perusahaan.


"Nggak bisa hanya kak Al saja yang berangkat mas?" Lirih suara Kinan.


"Nggak bisa sayang!" Entah sudah berapa kali istrinya mengulang pertanyaan yang sama dari tadi.


Kinan juga merasakan hal yang sama dengan suaminya. Kinan tidak mau ditinggal sang suami, dia merasa takut kalau tiba-tiba dia melahirkan tapi tidak ada suaminya yang mendampingi. Memang ada mertuanya, tapi rasanya berbeda kalau tidak ada suaminya disampingnya saat melahirkan.


"Bagaimana kalau aku melahirkan nanti malam atau besok?"


"Nggak, mereka berdua akan menunggu daddynya! Ayok, kita duduk saja!" Kevin menuntun sang istri ke arah ranjang dan mendudukkan sang istri dipinggir ranjang. Kevin berjongkok lalu mengusap perut istrinya.


"Kalian tunggu daddy pulang baru keluar iya. Kalian tidak boleh keluar, sebelum daddy pulang. Jaga mommy dan jangan nakal, jangan menendang terlalu kuat. Nanti kalau sudah lahir, kalian boleh menendang sepuasnya." Kevin mengusap-usap perut istrinya, sesekali mengecupnya.

__ADS_1


"Kamu sih nggak mau melahirkan secara caesar. Kalau caesar kan bisa kita tentukan tanggalnya asalkan usia bayinya cukup dan sehat!"


Kinan mengerucutkan bibirnya. Saat pemeriksaan kemarin itu, dokter memang mengatakan kalau kedua anaknya sehat, kondisi Kinan pun stabil. Sehingga kalau ingin menjalani operasi caesar juga bisa. Tapi Kinan menolak, dia ingin melahirkan secara normal dan menunggu kontraksi saja.


"Sudah iya sayang, mas berangkat iya! Nanti biar mommy yang nemanin kamu tidur. Lagian mas juga sudah meminta teman kamu itu untuk datang kesini, biar ikut menemani kamu. Jangan sampai teman kamu yang preman itu datang dan menghajar mas, karena melihat kamu nangis seperti ini!" Kinan terkekeh kecil sambil memukul pelan lengan suaminya, saat suaminya mengatakan Kesya preman.


"Mas perginya nggak lama kok, hanya tiga hari." Kevin berusaha membujuk sang istri, karena dia juga harus segera berangkat.


"Tapi tiga hari itu lama mas, kalau aku tiba-tiba lahiran, gimana?" Lirihnya pelan. Kinan ingin egois kali ini untuk meminta suaminya tetap disampingnya, tidak boleh meninggalkannya, apalagi dengan pergi keluar kota. Entah kenapa Kinan merasa cengeng, apa ini karena ketakutannya menjelang persalinan, pikirnya. Padahal, kalau dipikir-pikir, suaminya juga memiliki tanggung jawab besar yang tidak bisa ditinggal.


"Mas yakin, kalau kamu tidak akan melahirkan sebelum mas pulang, sayang! Mas pergi iya!" Kevin sudah duduk disamping sang istri. Lalu Kevin membingkai wajah istrinya, mengecup kening, pucuk hidung dan terakhir m****** bibir istrinya sebentar.


"Aku kangen!" Rengek Kinan tiba-tiba, setelah Kevin melepaskan ciumannya.


"Astaga! Belum juga pergi!" Kevin tertawa pelan.


"I love sayang!" Bisik Kevin.


"Aku tidak!" Kinan mengerucutkan bibirnya.


"Tidak cinta tapi tidak mau ditinggal dan lebih parahnya lagi, mas belum pergi sudah bilang kangen."


"Anak mas yang kangen bukan aku!" Kinan masih saja mengelak, membuat Kevin gemas melihat istrinya.


"Iya, iya, anak mas yang kangen, mommynya tidak. Baik-baik di rumah iya, kalau ada apa-apa langsung hubungin mas. Kalau merasa sakit atau apa kasih tahu orang rumah."


Kinan hanya bisa mengangguk, air matanya sudah menggenang lagi.

__ADS_1


"Jangan nangis sayang, mas pergi cuma sebentar. Bagaimana kalau anak kita nanti malah ikutan nangis karena mommynya juga nangis!" Kevin tergelak dengan kalimatnya sendiri, sembari mengusap perut istrinya.


"Kok belum turun, nak? Al sudah bosan nungguin kamu dibawah!" Tiba-tiba mommy Cella masuk kamar. Pintu kamar memang terbuka, hingga memudahkan mommy Cella langsung masuk kamar.


Kevin tidak menjawab, hanya menunjuk sang istri dengan dagunya. Membuat mommy Cella tergelak.


"Biarkan suamimu berangkat iya sayang, semakin cepat suamimu nyampe di Bali, semakin cepat juga mereka menyelesaikan urusan yang disana. Kalau urusannya cepat selesai, mereka akan langsung pulang. Kamu tidak perlu khawatir sayang, ada mommy dan yang lainnya yang akan menemani kamu!" Mommy Cella mengusap kepala menantunya. Lalu membawa Kinan duduk diatas ranjang.


"Lihat, matamu udah sebengkak apa itu. Udah kayak digigit lebah!" Mommy Cella mencairkan suasana, yang membuat Kinan tersenyum kecil meski masih ada sisa air mata yang menghiasi wajahnya.


Setelah Kinan merasa tenang, akhirnya Kevin berangkat setelah berpamitan pada sang istri dan mommynya.


Sementara ditempat lain.


Seorang wanita merasa pusing karena sampai saat ini dia belum bisa mencari informasi tentang istri Kevin. Gimana tidak pusing, wanita itu tidak diperbolehkan untuk memasuki kantor Kevin. Di mansion pun dijaga ketat. Sahabat Kevin yang lain pun tidak mau buka mulut. Tapi hanya dalam hitungan detik, dia merasa senang, setelah mendapatkan telpon dari seseorang.


"Akhirnya, sebentar lagi usahaku akan berhasil!" Jessica bahkan lompat-lompat sembari menggenggam ponselnya dengan erat.


Iya, wanita itu adalah Jesicca, setelah hampir sebulan dia putus asa mencari tahu tentang istri Kevin. Akhirnya hari ini dia bisa bernafas lega, karena baru saja orang yang dia tugaskan untuk mengawasi Kevin akan pergi keluar kota. Dengan kepergian Kevin, penjagaan mansion keluarga William pasti tidak seketat biasanya. Sehingga Jessica sangat yakin kalau dia akan bisa mencari informasi tentang istri Kevin dengan mengawasi mansion keluarga William dari dekat.


"Sudahlah Jes, untuk apalagi kamu mengejar Kevin. Carilah kebahagiaanmu sendiri, jangan mengganggu laki-laki yang sudah punya istri. Kamu tidak takut dicap sebagai pelakor? Kamu pasti tahu, sangsi apa yang didapat jika menjadi seorang pelakor. Yang lebih parah itu sangsi sosial. Apalagi yang kamu ganggu adalah anggota keluarga William." Seorang wanita yang bernama Mitha menasehati Jessica.


"Aku tidak akan mundur, Mit. Aku pasti bisa mendapatkan Kevin kembali!"


"Terserah kamu saja Jess, sebagai teman aku hanya bisa mengingatkan. Jangan sampai kamu menyesal." Mitha beranjak dari duduknya berlalu masuk kamar. Sudah diingatkan tapi tak mau dengar, ya sudah, pikirnya.


Jessica yang ditinggal pergi oleh temannya itu hanya mengangkat bahu. Jessica tidak mau melepaskan Kevin begitu saja, hingga apapun akan dia lakukan. Termasuk hal berbahaya sekali pun.

__ADS_1


__ADS_2