
Menjelang sore hari, setelah selesai membersihkan diri, para sahabat Kevin datang berkunjung ke ruangan Kinan. Tentu saja Kevin dan Kinan, menyambut kedatangan mereka, tapi ada hal yang lebih menarik perhatian Kinan, yaitu Kesya yang ikut serta dalam rombongan para sahabat sang suami.
Kinan langsung tersenyum lebar, melihat kedatangan Kesya. Kalau saja memungkinkan, pengen rasanya Kinan melompat dari tempat tidur, dan berlari untuk memeluk teman terbaiknya itu. Tapi senyum itu langsung hilang, begitu pandangan Kinan jatuh pada satu titik. Saking fokusnya Kinan pada satu titik tersebut, Kinan tidak sadar, kalau Kesya sudah ada dihadapannya.
"Bengong aja ibu muda!" Kesya melambaikan tangannya, di depan wajah Kinan. Membuat Kinan tersadar dan langsung memeluk Kesya. Baik Kinan atau Kesya tidak ada yang mengeluarkan suara, hingga beberapa detik, terdengar suara isak lirih. Dan lama kelamaan isak tangis itu berubah menjadi mengeras.
"Hiks, hiks, hiks!"
Kevin yang mendengar suara tangis Kinan, menoleh dan berniat untuk menghampiri sang istri. Tapi baru saja Kevin mau melangkah, tangan seseorang menahannya.
"Berikan mereka waktu. Istrimu itu senang melihat temannya sudah kembali, setelah menghilang dua hari. Makanya Kinan sampai nangis kayak gitu, itu tangisan bahagia. Biasalah wanita, selalu meluapkan perasaannya dengan tangisan. Bukan pas sedih saja nangis, ketika merasa senang pun, wanita kadang menangis." Ujar Devano. Iya Devanolah yang menahan langkah Kevin, supaya tidak menghampiri Kinan.
"Tapi....."
"Udah, kita disini aja!"
Akhirnya Kevin mengikuti saran Devano. Kevin bergabung dengan sahabatnya yang lain, yang lagi mengerumuni boks bayi.
Sementara, Kesya membiarkan Kinan menangis di pelukannya. Kesya tahu, pasti Kinan khawatir dengan apa yang terjadi padanya, yang dua hari ini hilang tanpa kabar. Apalagi Kesya muncul dengan kondisi tangan yang luka. Kesya juga tahu, begitu tadi dia masuk ruangan, perban yang membalut lengannya sudah mencuri perhatian Kinan.
Kini Kesya hanya bisa mengusap-usap punggung Kinan. Tiba-tiba Kesya meringis kecil, karena Kinan menyenggol lukanya. Kesya pun mencoba untuk melepaskan pelukan Kinan. Tapi bukannya lepas, Kinan justru mengeratkan pelukannya.
"Sudah dong nangisnya, ibu muda. Aku nggak papa kok, ini hanya luka kecil." Kesya menggigit bibir, menahan sakit.
"Aku nggak mau iya, kalau ingusmu mengenai bajuku." Celetuk Kesya, berharap Kinan melepaskan pelukannya. Dan berhasil, meski dengan sedikit tidak rela, Kinan melepaskan pelukannya. Kinan menyambar tissue yang di sodorkan Kesya, lalu mengusap air matanya.
Kesya menghela nafas lega, akhirnya lepas juga, pikirnya. Lalu dia menarik kursi supaya bisa duduk lebih dekat dengan Kinan.
Merasa sudah sedikit tenang, tanpa basa-basi, Kinan yang penasaran dengan apa yang terjadi pada Kesya, segera bertanya.
"Gimana ceritanya sih, Sya, kamu bisa diculik? Masa seorang Kesya bisa di culik sih? Terus siapa yang menculik kamu? Ini lagi, kenapa bisa luka kayak gitu? Memangnya kamu sudah kehilangan semua jurusmu, hingga bisa terluka seperti itu. Harusnya kamu menghajar penculik itu, bukan membiarkan penculik itu melukaimu. Dimana Kesya yang dulu, yang bisa dengan mudah mengalahkan tiga preman pasar." Bagai penyanyi rap, Kinan mencecar Kesya dengan cepat.
"Sudah nanyanya?" Kinan yang terlihat ngos-ngosan, dengan polos, mengangguk. Membuat Kesya tergelak. Lalu memberikan segelas air minum pada Kinan. Yang langsung disambar cepat oleh Kinan dan langsung menghabiskannya.
"Aku pikir, saat melahirkan si kembar tadi malam, kamu sudah kehabisan tenaga. Ternyata....Kamu masih punya tenaga banyak untuk mengoceh, secepat kereta api." Ledek Kesya. Membuat Kinan mengerucutkan bibirnya.
"Jadi yang mana dulu nih, yang mau aku jawab? Tapi sebelum aku menjawab semua pertanyaanmu yang seabrek itu, ada baiknya aku mau mengucapkan....." Dengan sebelah tangannya, Kesya menggenggam tangan Kinan.
"Selamat untukmu, yang sudah sah menyandang gelar sebagai ibu muda. Maaf tidak bisa menemanimu, disaat- saat terberatmu dalam melahirkan si kembar." Lirih suara Kesya di akhir kalimatnya.
"Tapi ingat, seorang ibu tidak akan dikatakan berhasil dan hebat kalau hanya melahirkan saja. Iya, meski aku tahu, pengorbanan seorang ibu melahirkan itu sangat besar. Tapi tidak cukup sampai disana. Kamu dikatakan berhasil, kalau kamu tahu, bagaimana caramu mengasihi, mendidik dan juga membesarkan anak-anakmu. Tapi aku yakin, kamu dan suamimu akan memberikan kasih sayang dan didikan yang tepat untuk anak-anakmu."
"Oh iya, gimana rasanya punya anak, mana langsung dua lagi?" Kesya menaik turunkan alisnya, menggoda Kinan.
"Terimakasih, Sya. Aku akan ingat semua nasehatmu. Sedih sih, kamu nggak ikut menyemangatiku secara langsung, tapi mau gimana lagi, keadaan tidak mendukung. Dan kamu juga ikut naik pangkat, menjadi Tante untuk sikembar." Kekeh Kinan.
"Jangan bilang nasehatlah, berasa udah tua banget aku jadinya. Ini lagi, tante, tante. Aunty lah, biar keren dikit." Kekeh Kesya.
"Terus gimana rasanya?"
"Kasih tahu nggak iya.....? Jangan deh, itu rahasia. Makanya buruan meried, biar tahu gimana rasanya!" Gantian Kinan yang menggoda Kesya.
"Pengen sih, tapi mau gimana lagi, calonnya aja belum lahir."
"Nggak usah nunggu yang belum lahir. Tinggal pilih saja dari mereka, masa kamu nggak tertarik salah satu dari mereka." Kinan mengalihkan pandangannya ke arah para sahabat suaminya yang masih asik mengelilingi boks bayi kembarnya.
__ADS_1
Kesya pun mengikuti arah pandang Kinan.
"Jangan aneh-aneh, nggak mungkin mereka melirik orang sepertiku!"
"Kenapa tidak mungkin, kamu nggak lihat, aku dan mas Kevin. Kalau ada yang kamu suka, bilang aja, nanti aku minta mas Kevin yang mengurusnya."
Tiba-tiba Kesya menyeringai.
"Sebenarnya ada satu orang yang....."
"Siapa? Siapa orangnya, katakan saja. Aku akan bantu untuk mendekatkan kalian. Atau kak Al iya?" Belum Kesya melanjutkan ucapannya, Kinan sudah menyambar.
"Benaran kamu mau bantu?" Dengan semangat, Kinan mengangguk.
"Katakan saja siapa?"
"Aku mau tuan Kevin." Bisik Kesya.
"Apa!" Kinan membelalakkan matanya.
"Kesya, kamu....." Kinan tidak sanggup melanjutkan ucapannya, karena tidak menyangka kalau temannya menginginkan......
Kesya yang tidak kuat menahan tawa, akhirnya melepaskan tawanya, hingga Kesya terbahak-bahak. Sungguh terhibur, melihat wajah kaget Kinan. Bahkan para laki-laki yang di sudut sana, menoleh sekilas, karena mendengar suara tawa Kesya.
"Kok malah ketawa sih, Sya? Kamu serius suka sama....."
"Iya nggaklah. Kamu pikir aku wanita apaan, yang tega merebut suami teman sendiri."
"Aku pikir kamu benaran milih suamiku, Sya. Kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan pernah memaafkanmu, dan pertemanan kita putus."
"Tapi nggak harus suamiku juga kan, Sya?"
"Loh, salahku dimana, coba? Kan kamu nggak ada bilang pengecualian. Kamu cuma bilang, 'pilih salah satu', jadi terserah aku dong, menjatuhkan pilihan pada siapa!"
"Tau ah, kesel." Kinan mengerucutkan bibirnya.
Bukannya simpati, Kesya malah tersenyum melihat wajah masam Kinan. Tidak bisa dipungkiri, kalau Kesya merindukan momen-momen seperti ini. Dimana dulu, waktu Kesya dan Kinan tinggal bersama, mereka berdua selalu punya cara untuk membuat mereka tertawa. Sekedar melepas lelah dan segala kerumitan hidup yang mereka jalani.
Bahkan keduanya sengaja membuat perdebatan kecil. Dan kalau tidak ada yang mau mengalah, mereka akan tutup dengan tertawa lepas, juga tidak lupa makan mie rebus dengan cabe yang banyak. Begitulah mereka bertingkah konyol, untuk menghibur diri.
Tapi setelah Kinan menikah, dan pisah rumah dari Kesya, tentu kebiasaan itu sudah tidak pernah terjadi. Berhubung tadi ada celah, tentu Kesya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dan beginilah ujungnya, Kinan yang berwajah masam karena kejahilan Kesya.
"Kok malah bengong sih, Sya? Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi kan? Sekarang waktunya kamu menjelaskan semuanya." Kinan yang ingat belum mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya, kembali mencecar Kesya.
Kesya menarik nafas dalam.
"Malam itu......." Di saat Kesya menceritakan apa yang terjadi padanya dan siapa pelakunya, masih diruangan yang sama, lebih tepatnya, di tempat di mana boks bayi si kembar diletakkan. Setelah para sahabat Kevin memberikan selamat pada Kevin, mereka langsung mengelilingi boks bayi berukuran besar itu.
"Wahhh, keponakan uncle Devano ganteng- ganteng banget sih? Mirip banget sama uncle iya?" Dengan santai dan tanpa dosa, Devano bercelatuk.
"Sembarangan! Ngapain pula anakku mirip denganmu. Keluar sana!" Dengan kesal, Kevin mendorong tubuh Devano.
"Kalau nggak percaya, tanyakan saja yang lain. Mereka juga pasti bisa melihat, kalau si kembar mirip denganku." Devano tidak mau kalah, dia kembali mendekati boks si kembar.
"Kamu salah Dev, mereka lebih mirip denganku." Al ikut menimpali.
__ADS_1
"Kalian berdua benar. Si kembar memang sama dengan Devano dan Al." Ucap Richard tiba-tiba.
"Tuh kan...." Devano dan Al tersenyum penuh kemenangan, karena ada yang mendukungnya. Sementara Kevin hanya bisa mengepalkan tangannya, untuk meredam amarahnya.
"Sama-sama laki-laki, tentunya." Sambung Richard, membuat Devano dan Al mendengus. Gantian Kevin yang tersenyum mengejek Devano dan Al.
"Mereka lucu banget sih, Vin? Boleh nggak sih, aku bawa satu pulang ke rumah." Radith ikut bercelatuk.
"Enak aja main bawa satu. Makanya buat sana sama pacarmu. Mereka ini punyaku." Kevin mengecup kening si kembar dengan sayang.
"Tapi gemas banget Vin, lihatnya." Radith menggerakkan tangannya untuk menyentuh tangan si kembar, tapi belum juga kesampaian, Kevin langsung menepiskan tangannya.
"Jangan pegang-pegang, tanganmu kotor. Aku nggak mau, kuman yang di tanganmu menempel pada mereka."
"Astaga, Vin, tanganku bersih iya." Radith menunjukkan telapak tangannya pada Kevin. Meski merasa tangannya bersih, Radith tetap melangkah masuk kamar mandi dan cuci tangan. Karena dia sudah gemas pengen menyentuh kedua bayi mungil itu.
"Aku udah cuci tangan iya, bukan hanya menyentuh, gendong juga bisa kale." Radith bersiap mau menggendong salah satu, lagi-lagi Kevin menghalangi.
"Nanti badan anakku pada sakit semua kalau kamu gendong."
"Pelit banget sih, Vin." Radith mendengus, karena tidak di ijinkan untuk mengendong, akhirnya Radith hanya toel-toel saja.
"Kita pindah aja, suara kalian mengganggu tidur mereka!" Ucap Richard yang sudah merasa puas memperhatikan si kembar. Bukan apa-apa, beberapa kali terlihat si kembar menggeliat. Mungkin tidur mereka terusik karena suara berisik mereka.
Mereka berlima pun pindah ke sofa, tapi sebelum duduk disofa, para sahabat Kevin lebih dulu menyapa dan memberikan selamat pada Kinan.
"Gimana hasil penyelidikan kalian?" Kini kelimanya sudah duduk di sofa. Penyelidikan yang dimaksud Kevin adalah tentang penculikan Kesya.
"Siapa lagi dalangnya, kalau bukan mantanmu yang g*** itu." Sahut Devano.
"Sudah pasti dia dalangnya?" Tanya Kevin.
"Pasti 100 %, karena menurut penjelasan Kesya, Jessica sempat datang ke tempat penyekapan itu, untuk meminta Kesya untuk meninggalkanmu, karena Jessica mengira, kamu tidak mau kembali padanya karena ada istrimu. Jessica bersedia memberikan uang untuk Kesya, asalkan Kesya mau meninggalkanmu. Ada apa dengan pertanyaanmu itu? Seolah-olah kamu masih peduli pada Jessica." Devano memicingkan matanya pada Kevin.
"Bukan peduli, aneh aja. Teman istriku itu kan tidak ada hubungannya denganku, kenapa malah dia yang diculik?"
"Itulah bodohnya Jessica. Kita juga heran, kok bisa Jessica menganggap Kesya istrimu." Devano menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Mungkin sebelumnya, Jessica sudah mencoba untuk mencari tahu siapa istrimu. Dan mungkin juga tanpa sepengetahuanmu, Jessica meminta seseorang mengintai di sekitar kediaman kalian. Kamu kan sudah membatasi, supaya Kinan tidak keluar rumah. Jadi pas orang yang mengintai itu melihat ada gadis muda keluar dari mansion, orang itu mengira kalau Kesya itu istrimu. Seperti inilah ujungnya, mereka salah sasaran." Richard menimpali, sesuai analisanya.
Membuat yang lain mengangguk tanda setuju dengan penjelasan Richard.
"Kamu harus berterima kasih pada Kesya, Vin." Celetuk Radith.
Kevin mengerutkan keningnya.
"Kenapa aku harus mengucapkan terimakasih padanya?"
"Ck, beruntung Kesya yang diculik. Gimana ceritanya, kalau Kinan yang diculik dengan keadaan hamil besar seperti itu. Asal kamu tahu aja, untuk sampai ketempat penyekapan itu butuh waktu hampir dua jam. Apa kabar kalau istrimu di bawa kesana, bisa melahirkan di jalan dia." Radith masih ingat, sepanjang jalan menggerutu karena jauhnya tempat itu.
Kevin membenarkan ucapan Radith. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah tempat tidur. Disana Kinan dan temannya itu masih asik ngobrol. Kevin tidak tahu apa yang dibicarakan kedua wanita itu, tapi Kevin bisa melihat kalau istrinya tersenyum.
Sepertinya mulai sekarang, Kevin harus bersikap baik pada teman istrinya itu. Sebenarnya Kevin pun tidak begitu paham, kenapa tidak begitu respek pada teman istrinya itu. Atau bisa jadi karena dulu, wanita itu dengan berani memberi bogem mentah pada wajahnya. Secara selama ini, belum pernah ada yang berani mengangkat tangan padanya. Tidak salah lagi, bisa jadi itulah awal mula Kevin kurang suka pada teman istrinya itu.
Dan sekarang, Kevin harus melupakan kejadian itu dan mulai berdamai dengan wanita preman itu.
__ADS_1