
Sudah hampir satu bulan, sejak mereka melakukan hubungan intim. Hubungan keduanya semakin membaik setiap harinya. Meski tidak ada pernyataan cinta dari istrinya untuk membalas perasaannya, tapi Kevin tidak masalah. Yang penting, sang istri selalu melayani segala kebutuhannya, termasuk kebutuhan ranjang. Sudah beberapa kali mereka melakukannya kembali, setelah malam itu. Tapi ada satu hal yang beberapa hari ini membuat Kevin sedikit kesal.
Gimana tidak kesal, sang istri memintanya untuk mencari beberapa makanan yang tidak pernah dia lihat, apalagi dimakan. Sudah gitu, pas makanan yang diinginkan istrinya sudah ada dihadapannya, sang istri bukannya makan, tapi Kevin sendiri yang disuruh habiskan. Pengen rasanya dia marah, tapi ketika mendengar sang mommy, kalau itu bagian dari ngidam, yang berpengaruh pada calon anaknya kalau tidak dituruti, maka dengan terpaksa dia harus menurutinya.
Seperti saat ini, masih jam sembilan pagi, istrinya sudah menghubunginya untuk segera pulang. Pada hal, tadi dia lagi meeting dengan beberapa klien penting. Terpaksa dia batalkan, karena dia harus pulang. Kevin membanting pintu mobil, ketika dia sudah keluar dari mobil.
"Selamat datang tuan?"
"Mana Kinan Pak?" Tanyanya pada Pak Salman, tanpa menghiraukan sapaan Pak Salman, yang menyambutnya didepan rumah.
"Nona muda ada diruang keluarga, tuan." Sahut Pak Salman, sambil mengikuti tuannya yang sudah berlalu kedalam rumah.
"Mas udah datang, cepat sekali nyampe. Kinan baru hubungi mas Kevin lima menit, padahal." Ucap Kinan polos, menyambut sang suami. Kevin duduk disamping istrinya, setelah memberikan kecupan di keningnya.
"Mas sibuk tidak?"
"Tidak Ay, mas ngak sibuk, makanya langsung pulang, begitu kamu menghubungi, mas." Sahut Kevin selembut mungkin. Dia berusaha meredam emosinya. Membuat mommy Cella dan Oma Jeny yang ada disana, tersenyum kecil. Mereka sudah tahu, akan ada drama lagi yang akan terjadi.
"Kamu mau apa, sayang?" Kevin mengusap kepala istrinya. Kinan sudah mulai terbiasa, mendengar suaminya memanggilnya 'sayang' didepan banyak orang.
"Mas tahu aja, kalau Kinan pengen sesuatu. Mas benaran mau memberikan apa pun yang akan Kinan minta kan?"
"Iya sayang, kamu mau apa, hm?"
"Mas sudah janji, ngak boleh ingkar ya?"
"Iya sayang!"
"Kinan pengen makan siang dengan urap dan ayam goreng buatan mas Kevin!" Ucap Kinan dengan mata berbinar. Dia sudah membayangkan makanan itu ada dihadapannya, bahkan air liurnya hampir menetes, hanya membayangkannya saja.
"Makanan apa itu? Jangan minta yang aneh - aneh ya? Ujung - ujungnya tidak kamu makan, seperti yang sudah-sudah." Tanpa sadar Kevin meninggikan suaranya. Membuat Kinan menundukkan kepalanya. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
"Maaf sayang, mas tidak bermaksud membentak kamu. Maafkan mas ya?" Ucap Kevin, ketika dia melihat istrinya menunduk. Dia juga merutuki dirinya, yang tidak bisa mengontrol emosinya. Kevin membingkai wajah sang istri dengan kedua tangannya, dia semakin kaget, pipi istrinya sudah banjir air mata. Kevin membawa sang istri kepelukannya.
__ADS_1
"Maaf...!" Kevin mengusap - usap punggung istrinya. Dia merasa bersalah, telah membuat istrinya menangis. Dia juga memberikan kecupan dikepala sang istri. Setelah istrinya merasa tenang, dia melepaskan pelukannya. " Maafkan mas ya, mas tadi kaget, karena ngak pernah dengar makanan itu, apalagi memakannya. Kamu mau kan memaafkan mas?" Kinan mengangguk, sebagai jawaban.
"Kamu benaran mau makan, apa tadi namanya?" Tanya Kevin.
"Urap mas. Bukan Kinan yang mau, mas. Tapi anak mas yang mau." Kinan menunjuk perutnya.
"Iya....iya. Anak daddy yang mau. Kamu senang banget ngerjain daddy ya, nak." Kevin mengusap perut istrinya yang semakin membuncit.
"Itu makanan apa sih mom, yang dibilang Kinan itu?" Kevin bertanya pada sang mommy.
"Itu urap nak, terbuat dari beberapa sayuran dicampur dengan kelapa parut."
"Bukannya urap, sayuran mentah. Itu kan tidak baik untuk ibu hamil. Mending pecel aja, sayurannya itu kan direbus dulu, bukan kayak urap." Celutuk Al, yang ikut duduk di sana.
"Tapi Kinan pengen urap. Maksud Kinan, anak mas pengen urap." Kinan segera melarat ucapannya, ketika sang suami menatapnya.
Bisa aja bumil satu ini ngelesnya.
Kevin menggelengkan kepalanya, melihat tingkah sang istri. "Gimana sayang, kata Al, itu makanan mentah?"
Sementara yang jadi tersangka cuek saja. Al menggendikkan bahunya. Tidak berpengaruh dengan pelototan tuannya.
"Kinan sayang, hari ini kan udah makan urap, udah banyak sayurannya. Makan pecelnya, kapan - kapan saja ya. Itu kan dari sayuran juga. Apa kamu ngak bosan makan sayuran terus. Itu ngak bagus, Ay!" Ucap Kevin konyol, dia ingin membatalkan permintaan sang istri.
"Nggak bagus apanya. Justru makan sayur banyak itu, bagus untuk ibu hamil. Kamu berguru dari mana, hingga punya pemikiran kayak gitu." Sahut mommy Cella. Membuat Kevin cengar-cengir.
"Ayok mas, Kinan pengen makan masakan mas Kevin. Nanti malam Kinan akan memberikan pelayanan yang terbaik." Kinan mengedipkan matanya. Kevin langsung semangat. Tapi saat ingat, mau masak, Kevin langsung lemas. Dia sama sekali tidak pernah memasak. Bahkan bumbu dapur pun ,dia nggak tahu sama sekali.
"Tapi mas ngak pernah masak, Ay. Gimana kalau bibi saja yang masak? Atau Al aja yang masak, gimana? Al pintar masak lho, Ay!" Kevin menyeringai kearah Al. Membuat Al mendengus, tapi dia tidak mau kalah.
"Itu kan permintaan calon anak anda tuan. Anda mau, kalau calon anak anda menganggap saya daddynya." Al tersenyum penuh kemenangan.
"Iya mas, kak Al benar. Atau mas mau, calon anak mas ini, ganti daddy." Kinan mengusap perutnya.
__ADS_1
"Gampang kok, nak masak urap itu. Sayurnya hanya direbus saja. Terus giling bumbu, dicampur dengan kelapa dan dimasak sebentar. Udah deh jadi." Ujar mommy Cella.
Gampang apanya, ribet kayak gitu.
Tapi demi istri dan calon anaknya, Kevin akan memasak untuk pertama kalinya. "Oke, mas akan memasak. Ayok Al, kamu juga ikut." Kevin yang mau beranjak dari duduknya, tidak jadi, karena mendengar suara Pak Salman.
"Maaf tuan muda, bahan - bahan yang ada dibelakang tidak lengkap untuk membuat makanan yang diinginkan nona muda." Ucap Pak Salman yang berdiri tidak jauh dari ruang keluarga. Dari tadi dia juga ikut menyimak pembicaraan mereka.
"Iya udah, tunggu apa lagi, cepat belanja sana. Kenapa malah bengong disitu." Ketus Kevin.
"Ahaa....." Kinan menjentikkan jarinya. Melihat itu, Kevin langsung curiga, kalau sang istri akan meminta hal aneh lagi.
"Kenapa Ay? Kamu mau yang lain, karena bahannya tidak lengkap?" Kevin berharap, sang istri membatalkan permintaannya. Meskipun dia ragu, sebenarnya.
"Tidak mas, karena bahannya tidak lengkap. Kinan pengen mas Kevin yang belanja." Ucap Kinan santai.
"Apa!!!"
"Kenapa mas Kevin teriak? Sudah, berangkat sana. Jangan lupa ya kak Al, untuk memvideokan kegiatan mas Kevin saat belanja nanti. Kinan pengen bukti, takutnya mas Kevin menyuruh kak Al yang belanja."
Kevin mengusap wajahnya kasar. Ada - ada saja istrinya ini, sudah disuruh masak, masa dia harus belanja juga. Untung sayang, kalau tidak, Kevin sudah ngamuk dari tadi.
"Lebih baik kalian berangkat sekarang, nak. Nanti kelamaan, belum lagi masaknya. Oma nggak mau ya, kalau calon cicit Oma terlambat makan." Oma Jeny yang dari tadi hanya diam saja, ikut menyahut.
"Benar nak, jangan membuang-buang waktu. Ajak bi Surti juga." Ucap mommy Cella.
Dengan terpaksa Kevin dan Al, beranjak dari duduknya. Sebelum pergi, Kevin mengecup kening dan bibir istrinya kilat. Tidak perduli dengan orang sekitar. Sebelum benar-benar meninggalkan ruang keluarga, Kinan memberikan semangat untuk sang suami.
"Ingat mas, hadiah besar menanti mas nanti malam." Lagi - lagi, Kinan mengedipkan matanya. Kevin kembali semangat, membayangkan nanti malam. Dia akan melakukan pekerjaan yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Demi istri dan calon anaknya, jangan lupakan dengan hadiah yang dia terima.
🌻🌻🌹🌹
Jangan lupa dukungannya ya, like, vote dan komen.
__ADS_1
Terimakasih 🙏😃