Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam
Bab 80


__ADS_3

Saat ini Kevin sudah ada didepan rumah yang ditempati Kinan dulu. Sudah beberapa kali dia mengetuk pintu, tapi tidak ada yang membuka pintu. Suara sahutan pun tidak terdengar, rumah kelihatan sepi. Apa mungkin mereka belum sampai, pikirnya.


"Sepertinya tidak ada siapa - siapa didalam, Vin!" Ucap Al, mengemukakan pendapatnya. Dia belum tahu apa yang terjadi. Tadi dia lagi asyik ngobrol dengan pengawal yang ada di mansion, saat Kevin keluar dan memintanya untuk mengantar kerumah lama Kinan. Sudah hampir lima belas menit mereka disini, tidak ada tanda - tanda, kalau penghuni rumah ada didalam.


"Kita tunggu saja sebentar lagi, siapa tahu mereka masih dijalan. Tadi mommy bilang, mereka mau kesini, pasti sebentar lagi nyampe!" Kevin duduk dikursi panjang, yang terbuat dari kayu yang ada didepan rumah.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Al yang dari tadi penasaran, akhirnya bertanya. Dia juga duduk disamping Kevin.


Kevin mengusap wajahnya kasar dan menarik nafas dalam. "Kata mommy Kinan sempat pulang kerumah, tapi dia langsung pergi dengan membawa tas pakaian. Katanya dia mau menginap dirumah ini, dan parahnya dia bilang pada mommy kalau aku udah kasih ijin."


"Masalahnya dimana? Kan hanya menginap, kamu juga bisa menginap disini. Siapa tahu itu bawaan bayi." Al mengerutkan keningnya, merasa bingung. Kalau hanya menginap kenapa harus bersikap berlebihan seperti ini, pikirnya.


"Kamu kan Jodi, nggak akan ngerti apa apa."


"Kok bawa - bawa status sih?"


"Kamu dengar nggak waktu dicafe tadi, Kinan bilang aku tidur diluar tiga bulan?" Kevin mengangkat tiga jarinya.


"Terus?"


"Aku pikir hanya menyuruhku tidur diluar, dan kami masih tinggal di atap yang sama. Dengan begitu aku masih bisa membujuknya untuk membatalkan niatnya itu. Tapi kalau sudah seperti ini, gimana caranya aku mau membujuknya. Kinan bukan hanya menginap sebentar Al, kata mommy dia disini sampai dia mau melahirkan, apa nggak gila namanya itu?"


Al mengangguk - anggukkan kepalanya, sekarang dia udah paham situasinya. Ternyata ini ada hubungannya saat di cafe tadi. Al tersenyum kecil, bukannya bersimpati akan nasib sahabat sekaligus tuannya itu, dia justru mengatakan


"Wajar Kinan bersikap seperti itu, siapa sih yang rela, kalau ada wanita yang mengakui suaminya sebagai calon tunangannya. Parahnya lagi, suaminya hanya diam saja, apa lagi pas disentuh - sentuh gitu!" Al bukannya menenangkan, tapi malah memperkeruh suasana.


"Si**** kau!" Kevin menendang kaki Al. Setelah terdiam beberapa saat, Kevin menanyakan

__ADS_1


"Kamu udah urus wanita itu kan, Al? Aku nggak mau wanita itu muncul dihadapanku lagi."


"Beres, bahkan beberapa investor sudah menarik saham mereka dari perusahaan keluarganya. Beberapa klien juga membatalkan kerja samanya dengan mereka." Kevin mengangguk tanda mengerti.


"Tapi aku heran, dari mana dia bisa dengan beraninya mengatakan kalau aku calon tunangannya. Aku saja nggak pernah jumpa dengan orang tuanya, sehabis kejadian waktu itu!" Kevin tidak habis pikir, dari mana datangnya seseorang mengatakan dia calon tunangan, bertatap muka saja mereka tidak pernah.


"Nona Celine itu termasuk wanita yang ambisius, Vin. Setiap apa yang dia minta harus terpenuhi, belum lagi dia sangat dimanja oleh orang tuanya. Mungkin dia pernah mengatakan pada orang tuanya kalau dia menginginkanmu, dan tuan Smith yang sangat menyayanginya mengiyakan begitu saja. Mungkin tuan Smith pernah membicarakan pertunangan dan Celine yang percaya pada ayahnya dengan rasa percaya dirinya yang tinggi sudah menganggap anda calon tunangannya. Jadilah seperti kejadian tadi di cafe!"


"Wanita gila!" gumam Kevin, dia melihat jam yang melingkar ditangannya. Sudah hampir satu jam mereka disini, tapi sang istri tidak menampakkan diri.


"Kemana sih mereka, jarak dari mansion kesini, paling lama setengah jam harusnya sudah tiba. Tapi ini....?"


"Sepertinya mereka tidak pulang kesini, Vin?"


"Maksudmu?"


Al menggendikkan bahunya. "Bisa jadi mereka pergi ke suatu tempat untuk menghindar." Dengan santai Al berucap, tanpa tahu kalau ucapannya itu membuat Kevin kesal.


"Ini gara - gara wanita itu!" Geram Kevin.


"Kamu tenang saja, nona Celine tidak akan berani menampakkan dirinya dihadapanmu. Bahkan untuk berkumpul dengan teman - temannya pun, dia tidak akan berani."


"Bukan dia yang aku maksud, tapi teman Kinan itu!"


" Maksudmu Kesya? Apa hubungannya dengan Kesya?"


"Kalau bukan dia yang duluan memprovokasi Kinan, Kinan tidak mungkin memintaku tidur diluar. Apalagi pergi dari rumah seperti ini, pasti ada campur tangan temannya itu!" Kevin ingat saat pertama kali Kesya bercelatuk, akan menghukum suaminya yang dekat dengan wanita lain, dengan tidur diluar. Makanya Kinan jadi ikut - ikutan, pikirnya.

__ADS_1


"Kita pulang saja. Minta orang untuk mengawasi tempat ini, cek juga CCTV dimana Kinan dan temannya itu terakhir kali terlihat." Kevin mendahului Al, melangkah meninggalkan halaman rumah lama Kinan. Dengan sedikit berlari, Al mengejar Kevin. Mereka harus melewati gang, kecil untuk sampai ketempat mobil mereka parkir. Kevin yang frustasi karena tidak menemukan sang istri, berbanding terbalik dengan Kinan.


Kinan dan Kesya terlihat saling bercanda sembari menikmati banyak cemilan di sebuah kamar yang ada di paviliun belakang. Kamar ini sangat luas, selain kamar mandi, ada tv besar, sofa dan sebuah ranjang besar. Bahkan lemari pakaian juga ada. Kinan tidak tahu ini kamar siapa, tadi saat tiba dirumah dia menceritakan semua apa yang terjadi dicafe pada mommy Cella dan Oma. Awalnya mommy Cella dan Oma Jeny, tidak setuju kalau Kinan pergi dari rumah untuk mengerjai suaminya. Tapi melihat usaha Kinan yang mau mengerjai suaminya, dan mungkin itu bawaan bayi, mommy Cella setuju merahasiakan persembunyian Kinan dengan catatan mereka akan tinggal di paviliun belakang.


"Gimana kalau suamimu datang kerumah, Kin?" Tanya Kesya di sela - sela makannya.


"Pastilah mas Kevin kesana, seperti kesepakatan kita, kalau mommy Cella akan mengatakan kalau aku pergi kerumah sana sama kamu! Bisa jadi sekarang mereka disana!"


"Kalau suamimu malah menyalahkan aku, gimana Kin? Bisa - bisa aku dipecat benaran dari kerjaan!"


"Tidak akan, tadi mommy Cella udah bilang akan mengurus masalah kerjaan. Jadi kamu bisa libur, selama kita disini. Anggap saja kita lagi liburan, meski hanya didalam kamar!" Kekeh Kinan.


"Memangnya kamu kuat berjauhan dengan suamimu? Apalagi kalian terbiasa tidur bersama!" Kesya menaik - turunkan alisnya menggoda Kinan.


"Jangan bahas itu, aku lagi kesal." Tiba - tiba Kinan terisak membuat Kesya kaget.


"Eh...eh...kok malah nangis sih?"


"Siapa yang tidak kesal coba, mau - maunya mas Kevin disentuh wanita genit itu, mana dandanannya menor gitu. Mas Kevin diam saja lagi. Apa mas Kevin senang diakui calon tunangan sama wanita genit itu? Tidak ingat kalau dia sudah punya istri, coba kalau aku tidak ada disana, mungkin saja mereka akan mesra - mesraan disana!"


Suara Kinan terdengar serak, tidak lama dia mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


"Hehehe.... Biarin saja mas Kevin kebingungan mencari kita. Itu hukuman untuknya!" Ucap Kinan santai, lalu mengambil garpu dan menusuk potongan buah yang ada dipiring dan memasukkannya kedalam mulutnya.


Kesya terbengong melihat tingkah Kinan. Tidak lama dia menggelengkan kepalanya, dasar bumil, pikirnya. Sebentar marah, sebentar nangis, sebentar tertawa. Kesya tidak mengatakan apa - apa lagi, dia mengikuti Kinan menghabiskan buah yang disediakan bi Surti untuk mereka berdua.


🌻🌻🌹🌹

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya like, vote dan komen 😃


Terimakasih 🙏


__ADS_2