
Tiba di perusahaan, Kevin langsung turun dari dalam mobil begitu pintu mobil dibuka dari luar oleh pengawal yang ada disana. Semua orang yang ada di lobi terkejut melihat CEO mereka. Gimana tidak terkejut, penampilan CEO mereka hari ini, tidak seperti biasanya. Kevin bukan tidak menyadari tatapan heran dari para karyawannya. Tapi Kevin cuek saja, dia melanjutkan langkahnya menuju lift. Al yang ada dibelakang Kevin, memberikan tatapan tajam pada mereka yang masih memandang Kevin. Sehingga mereka mengalihkan pandangannya kearah lain. Sebagian ada yang bergegas meninggalkan lobi. Mereka masih sayang nyawa dan pekerjaan mereka. Jangan sampai mereka kena marah, atau lebih parahnya dipecat karena ketahuan membicarakan CEO mereka.
Kevin dan Al masuk ke dalam lift, meninggalkan bisik - bisik para karyawan dilantai satu. Hanya beberapa detik, keduanya telah sampai dilantai yang dituju. Pintu lift terbuka, keduanya langsung berjalan menuju ruangan Kevin.
Kevin langsung menghempaskan tubuhnya di sofa, begitu dia memasuki ruangannya. Lalu menarik nafas dalam.
"Apa lihat - lihat. Kalau mau ketawa, ketawa saja, nggak usah kau tahan - tahan." Ketus Kevin membuat Al tergelak.
"Ternyata kamu cantik pakai warna pink, Vin!" Celetuk Al.
"Dasar asisten tidak ada akhlak!" Kevin menendang meja.Yang sepertinya mengenai kaki Al, karena Al terlihat meringis sembari mengusap kakinya.
"Lagian sejak kapan kamu suka pakai baju warna yang cerah, Vin? Mana warna pink lagi!"
"Kamu pikir ini atas kemauanku sendiri? Kalau bukan Kinan yang minta, aku nggak akan pakai ini."
"Jadi maksudmu......"
"Hemm, aku nggak tahu, dia ngidam atau hanya ngerjain aku saja. Yang jelas aku harus pakai ini sampai pulang nanti. Gila nggak itu?" Kevin mengusap wajahnya kasar.
"Ibu hamil memang aneh - aneh ya permintaannya? Selalu diluar nalar, tapi kalau diperhatikan, bagus kok, kamu kelihatan imut!" Al mengedipkan matanya.
"Kamu mau mati ya? Sana keruanganmu, pagi - pagi bikin emosi saja. Udah dirumah tadi bikin emosi, kamu malah ikut - ikutan. Mudah - mudahan orang - orang rese itu tidak datang. Kalau sempat mereka datang, bisa habis aku diledek sama mereka." Maksud Kevin adalah, ketiga sahabatnya yang lain.
"Iya udah, aku keruanganku dulu! Jangan lupa berkas yang diatas meja ditanda tangani." Al beranjak dari duduknya. Al yang hampir menyentuh handle pintu, mengurungkan niatnya saat mendengar suara Kevin. Lalu membalikkan tubuhnya.
"Hari ini nggak ada meeting penting kan? Kalau bisa, semua meeting hari ini batalkan saja. Aku nggak mau meeting dengan baju seperti ini."
__ADS_1
"Habis makan siang nanti, ada meeting dengan perusahaan **."
"Reschedule saja! Satu lagi, kalau mereka bertiga datang, jangan biarkan mereka masuk keruanganku. Terserah kamu mau kasih alasan apa, yang penting jangan sampai mereka masuk ke ruanganku." Al yang sudah tahu, siapa yang dimaksud Kevin, menganggukkan kepalanya.
"Kenapa tidak kamu ganti saja kemejanya, nanti pas mau pulang kerumah ganti lagi. Istrimu pasti tidak tahu kalau kamu ganti, toh nanti mau pulang pakai lagi kan?"
"Aku juga sempat berpikir seperti itu tadi. Tapi Kinan udah mengancam duluan, nggak boleh ganti. Katanya insting ibu hamil itu kuat. Dia bisa tahu aku pakai baju ini seharian atau nggak."
"Memangnya ada seperti itu?"
"Mana aku tahu!" Al tergelak, melihat Kevin yang semakin kesal.
"Kalau gitu sabar sajalah, kan cuma sehari! Tapi benaran, kamu makin imut, kalau aku seorang gadis, udah dari tadi aku cium kamu karena gemes." Al buru - buru melarikan diri ke ruangannya sebelum Kevin mengamuk.
"Alvaro s*****" Kevin bergidik ngeri, membayangkan Al menciumnya. "Gara - gara Al, aku jadi membayangkan yang tidak - tidak." Gerutu Kevin, sambil berjalan menuju kursi kebesarannya. Setelah itu, Kevin menghidupkan laptopnya lalu memeriksa tumpukan map yang ada diatas meja.
Sepertinya hari ini, keberuntungan tidak berpihak kepada Kevin. Di saat Kevin fokus ke layar laptopnya, pintu ruangannya dibuka dengan kasar. Membuat Kevin mendengus. Dia sudah tahu ulah siapa itu. Padahal, dia udah pesan pada Al, untuk tidak membiarkan orang rese itu masuk ke ruangannya.
"Kamu kenapa sih Vin, tidak ma....wow, apa ini hari valentine?" Seru Devano, salah satu sahabat Kevin. Iya yang membuka pintu ruangan Kevin adalah ketiga sahabat Kevin, diikuti oleh Al dibelakang. Al mengangkat kedua tangannya keatas, ketika Kevin menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kalian ngapain kesini?" Ketus Kevin.
"Tadi iseng saja sih mampirnya, dan ternyata nggak sia - sia kami datang kesini. Kami bisa melihat pertunjukan menarik disini. Sayang lah, kalau kami melewatkan momen ini!" Ujar Devano, membuat yang lainnya menganggukkan kepala, tanda setuju dengan ucapan Devano.
"Tapi sepertinya ini bukan hari valentine, kenapa sahabat kita yang satu ini pakai warna pink? Mana serasi lagi dengan kemeja dan dasinya." Devano yang jahil mencolek dagu Kevin, membuat Kevin melempar Devano dengan pena. Devano tergelak, setelah itu dia duduk disofa. Kevin pun beranjak dari kursinya dan bergabung dengan para sahabatnya di sofa. Kevin menyandarkan punggungnya kesadaran sofa.
"Kenapa sih kalian harus datang sekarang?"
__ADS_1
"Kalau kami tidak datang, kami nggak tahu kalau seleramu sudah berubah, Vin!" Ujar sahabat Kevin yang lain.
"Biar aku tebak, pasti istrimu yang minta kamu pakai itu kan?" Celetuk Richard.
"Kok kamu tahu?" Tanya Kevin. Membuat Richard tergelak. Berarti benar, pikirnya.
"Aku pernah lihat sepupuku kalang kabut waktu istrinya hamil. Bahkan lebih gila dari yang kamu alami ini."
"Jangan sampai Kinan meminta yang lebih aneh dari ini!" Keluh Kevin, membuat yang lainnya tergelak.
"Bukannya udah kejadian?" Gumam Al, membuat yang lainnya saling pandang. Meski pelan, mereka masih bisa mendengar gumaman Al.
"Maksud kamu apa, Al?" Tanya Devano.
Al bukan tidak melihat tatapan tajam Kevin, tapi Al pura - pura tidak lihat. "Kemarin itu, Kinan pernah meminta Kevin belanja kepasar. Bukan hanya belanja, bahkan pulang dari pasar, Kevin disuruh untuk memasak."
Ketika sahabat Kevin tertawa terbahak - bahak. Tidak bisa mereka bayangkan, orang seperti Kevin yang terbiasa dilayani, harus pergi ke pasar dan memasak.
"Aku doakan, kalau istri kalian hamil nanti, kalian akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Mudah - mudahan lebih parah dari yang aku rasakan." Ketus Kevin. Membuat ketiga sahabat Kevin menghentikan tawanya.
"Doamu jelek banget sih, Vin!"
"Tahu nih, kalau mendoakan orang itu yang bagus - bagus."
"Sebenarnya kalian mau apa kesini?" Kevin tidak peduli dengan protes sahabatnya.
"Cuma mampir aja, sekalian mau ngajakin kamu dan Al untuk hangout. Udah lama kita nggak hangout!"
__ADS_1
Kevin membenarkan ucapan Devano, apalagi semenjak dia menikah. Dia udah jarang keluar dengan para sahabatnya. Setelahnya mereka mengobrol santai. Mereka memutuskan untuk makan siang bersama diruangan Kevin.