
"Mas kapan pulang?"
"Kenapa sayang, kamu kontraksi palsu lagi atau apa?" Kevin ingat, beberapa hari sebelum dia berangkat ke Bali, istrinya mengalami kontraksi palsu.
Saat ini Kevin dan Kinan sedang video call.
"Aku mohon mas pulang sekarang!" Bukannya menjawab pertanyaan sang suami, Kinan malah meminta suaminya untuk segera pulang.
"Kenapa sayang? Sudah ada tanda-tanda mau melahirkan?" Tentu saja Kevin panik, dengan permintaan sang istri. Tapi melihat sang istri menggelengkan kepala, membuat Kevin mengerutkan keningnya. Kalau belum ada tanda-tanda, kenapa disuruh pulang, pikirnya.
"Benaran nih, belum kontraksi? Kamu jangan tahan-tahan sayang. Kalau memang merasa sakit panggil mommy."
"Belum sakit! Tapi aku pengen mas pulang sekarang!" Bahkan suara Kinan sudah terdengar serak, menahan tangisnya.
"Atau kamu kangen iya sama mas, makanya minta mas pulang sekarang! Baru juga sehari mas pergi, udah kangen. Kangennya tahan dulu iya sayang, nanti kalau mas udah pulang, kamu bebas mau melakukan apapun pada mas!" Kevin mengedipkan matanya.
"Aku serius mas! Pokoknya aku nggak mau tahu, mas pulang sekarang. Huhuhu....." Kinan malah menangis.
Membuat Kevin diseberang sana, kelabakan melihat sang istri menangis.
"Kok malah nangis sayang? Sayang, hei....." Tidak mendapat respon dari sang istri, Kevin memutuskan panggilan.
Hingga tidak sampai lima menit, mommy Cella dan bi Surti datang ke kamar. Sepertinya Kevin mematikan panggilannya, agar bisa menghubungi sang mommy. Supaya sang mommy melihat keadaan istrinya dikamar.
Mommy Cella pun kaget melihat menantunya yang sudah terisak-isak diatas ranjang.
"Kenapa nak?" Mommy Cella duduk disamping Kinan sembari memegang bahu Kinan.
Hingga terdengar ponsel yang ada disamping Kinan berbunyi. Melihat anaknya yang video call, mommy Cella menjawab panggilan tersebut.
"Ada apa dengan Kinan, mom?" Tanpa basa-basi, Kevin langsung bertanya, begitu terlihat wajah sang mommy di layar.
__ADS_1
"Mommy juga nggak tahu nak! Ini mommy baru nanya!" Mommy Cella mengarahkan ponsel ke Kinan, supaya Kevin bisa melihat Kinan.
"Kinan sayang, lihat mas!" Kinan menoleh sejenak. Kevin dapat melihat wajah sang istri yang sudah merah, air matanya meleleh dipipi chubbynya. Hingga membuat Kevin salah fokus dibuatnya. Meski sang istri lagi nangis, istrinya tetap terlihat cantik. Kevin jadi gemas, pengen rasanya Kevin mencubit bahkan menggigit pipi istrinya yang makin hari semakin chubby itu.
Kevin menggelengkan kepalanya, yang malah berpikiran ke hal yang lain. Dan kembali fokus pada sang istri. Terlihat dilayar istrinya mengusap wajah dan hidung menggunakan tissue yang di sodorkan oleh sang mommy. Tangisan istrinya sudah mereda, hanya tersisa isakannya saja.
"Kinan sayang, coba tarik nafas lalu keluarkan!" Dengan polosnya Kinan mengikuti instruksi sang suami.
"Tarik nafas lagi, baru keluarkan. Tarik nafas lagi, baru keluarkan." Beberapa kali Kinan melakukannya, hingga entah yang ke berapa, Kinan baru tersadar.
"Mas pikir aku mau melahirkan!" Lirih Kinan.
Membuat Kevin yang di seberang sana tergelak. Sementara mommy Cella hanya diam saja. Dan mommy Cella bisa pastikan, menantunya menangis bukan karena kontraksi. Terlihat dari wajah menantunya yang tidak menunjukkan menahan sakit. Jadilah mommy Cella hanya memperhatikan interaksi anak dan menantunya.
"Sudah merasa tenang?" Melihat sang istri mengangguk, Kevin melanjutkan
"Jadi kenapa tiba-tiba minta mas pulang, malah pakai nangis segala? Kamu tahu, sepanik apa mas tadi, lihat kamu nangis tiba-tiba! Mas pikir anak kita mau lahir sekarang, tanpa menunggu daddynya pulang. Ayok, cerita sama mas, ada apa hm?"
"Kesya mas!" Lirih Kinan.
Sementara mommy Cella mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Ternyata menantunya sedih, karena masalah Kesya yang tidak bisa dihubungi.
"Kesya diculik mas!"
"Hahaha....." Kevin malah tertawa terbahak-bahak, mendengar ucapan sang istri.
"Kok mas malah ketawa sih? Memangnya ada yang lucu?" Kinan mengerucutkan bibirnya. Suaminya bukannya sedih mendengar temannya diculik, malah menertawakannya.
"Iya, kamunya lucu sayang. Siapa yang mau menculik temanmu yang preman itu!" Kembali Kevin tertawa. Tapi dalam sekejap, Kevin menghentikan tawanya, begitu melihat wajah sang istri yang terlihat sendu. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca kembali. Kevin yakin, sekali sang istri berkedip, air mata itu akan meluncur bebas dari manik matanya yang hitam legam, membasahi wajah sang istri kembali.
"Maaf sayang, ini benaran apa gimana?" Dengan lembut Kevin bertanya.
__ADS_1
"Iya, mas. Kesya diculik."
"Diculik gimana sih? Coba ceritakan gimana kronologinya, hingga kamu bisa menyimpulkan kalau temanmu yang preman itu diculik."
"Kesya bukan preman!" Sewot Kinan.
"Iya, iya, dia bukan preman!" 'Tapi kepala preman'. Kevin melanjutkan dalam hati.
Lalu Kinan menceritakan kedatangan Kesya, sampai dia tidak pulang tadi malam ke mansion. Kinan juga bilang kalau tadi pagi sampai siang tadi, ponsel Kesya masih aktif meskipun panggilan dan What***pnya tidak ada balasan.Tapi sore ini, ponsel Kesya sudah tidak aktif. Mommy Cella pun sudah bertanya pada orang hotel tempat Kesya kerja. Tapi hari ini Kesya tidak masuk kerja dan tidak ada pemberitahuan apapun dari Kesya. Pak Sony pun sudah kerumah Kesya, tapi rumah terlihat sepi. Karena itulah, Kinan menyimpulkan kalau Kesya diculik.
"Jangan-jangan dia pergi ke suatu tempat, seperti kalian waktu itu sayang!" Ucap Kevin, begitu istrinya selesai dengan penjelasannya. Bukan tanpa alasan Kevin bilang seperti itu, mengingat kejadian beberapa waktu lalu, yang Kevin kira sang istri diculik karena tidak ada jejak sang istri dimana pun. Tapi sang istri justru pergi ke suatu tempat, yang tidak lain di paviliun yang ada dibelakang mansion.
"Tidak mungkin mas. Lagian dia mau sembunyi dari siapa? Aku yakin, Kesya pasti diculik!" Kinan masih kekeh dengan pendapatnya.
"Atau jangan-jangan temanmu itu pergi liburan dengan pacarnya. Mungkin temanmu itu sengaja mematikan ponselnya, supaya tidak ada yang mengganggu waktu liburannya."
"Kesya tidak punya pacar mas! Bukannya mas tahu, kalau aku mau mendekatkan Kesya sama kak Al!"
Kevin yang diseberang sana menjadi bingung sendiri. Masa sih wanita itu diculik? Terus apa motif penculiknya, kalau mau minta tebusan pada siapa? Sementara wanita itu tidak punya siapa-siapa. Lagian bisa-bisanya sih preman seperti itu diculik. Kevin tersadar dari lamunannya, begitu mendengar suara sang istri.
"Makanya mas pulang sekarang, mas harus nyari Kesya sampai ketemu. Gimana kalau penculiknya tidak kasih Kesya makan? Terus penculiknya menyiksa Kesya dan memper**** Kesya! Aku nggak mau iya mas, terjadi sesuatu pada Kesya. Kita harus menemukan Kesya, sebelum hal buruk terjadi padanya." Semakin serak suara Kinan.
"Mas akan minta orang-orang mas untuk mencari temanmu itu sampai ketemu. Tapi mas minta supaya kamu tetap tenang dan jangan banyak pikiran. Dan berdoa saja, semoga temanmu itu baik-baik saja."
Dengan lembut, Kevin menenangkan sang istri, walau dengan hanya kata-kata. Harusnya Kevin menenangkan sang istri dengan pelukan hangat, tapi saat ini keduanya terpisah oleh jarak yang jauh. Dan entah kenapa, Kevin tidak sepenuhnya yakin, kalau teman istrinya itu diculik, tapi Kevin tetap akan meminta orang-orangnya untuk mencari keberadaan wanita itu.
"Jadi mas pulang kan hari ini?"
"Tidak bisa sayang! Kita kan sudah membahas ini sebelumnya, kalau mas tiga hari disini! Jangan khawatir, meski mas disini, tapi mas akan meminta orang-orang mas untuk melakukan pencarian. Habis ini, mas akan hubungin mereka."
"Benar kata suamimu nak, biarkan suamimu menyelesaikan urusannya disana. Untuk urusan Kesya, mommy juga akan meminta daddy untuk ikut mencarinya." Mommy Cella yang dari tadi hanya diam saja mendengarkan pembahasan anak dan menantunya, ikut angkat suara.
__ADS_1
Mommy Cella tahu bagaimana kedekatan Kinan dan Kesya. Makanya menantunya itu begitu emosional, begitu Kesya tidak bisa dihubungi. Belum lagi, begitu tahu Kesya tidak ada dirumah atau ditempat kerjanya, membuat menantunya semakin kepikiran. Mommy Cella berdoa, semoga Kesya baik-baik saja, dimana pun dia berada.
Setelah istrinya merasa tenang, Kevin memutuskan panggilannya. Karena dia akan menghubungi orang-orangnya untuk memulai pencarian terhadap teman sang istri.