Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam
102


__ADS_3

Kinan yang lagi asyik membaca, menghentikan kegiatannya sejenak, karena mendengar suara bel pintu yang berdenting dua kali. Dia mengalihkan pandangannya ke arah jam besar yang menempel di dinding, masih jam sepuluh kurang. Siapa yang datang jam segini, apa mas Kevin pulang, pikirnya. Selama tinggal beberapa hari disini, nggak pernah ada orang yang datang, selain mbak yang kerja. Sementara tadi mbaknya sudah datang. Untuk menjawab rasa penasarannya, Kinan bergegas menuju pintu.


Kinan lebih dulu melihat melalui monitor CCTV yang ada di samping pintu.


"Mommy, Oma!" Lirihnya, kala terlihat dimonitor mommy Cella, Oma Jeny, dan juga bi Surti. Tanpa menunggu lama, Kinan membuka pintu.


"Mommy, oma!" Kinan melebarkan pintu dan mempersilahkan tamunya masuk. Kinan menyalami mertuanya sembari cipika - cipiki.


"Bagaimana kabar menantu dan calon cucu mommy?" Mommy Cella mengusap perut besar Kinan.


"Kami sehat mom, bahkan tendangan si kembar semakin kuat!" Kinan juga mengusap perutnya, kala mommy Cella sudah menjauhkan tangannya dari atas perutnya.


"Mommy senang mendengarnya. Oh iya, kami mau numpang makan siang disini, sayang, bolehkan? Untuk menu makan siangnya, biar bi Surti yang masak. Kamu tenang saja, tadi sebelum kesini, kami juga sudah belanja kok!" Ucap mommy Cella basa - basi.


Membuat Kinan terkekeh, dengan ucapan mertuanya. Memangnya punya hak apa Kinan melarang mertuanya datang ke apartemen ini, sementara apartemen ini punya anaknya.


"Tentu saja boleh, mom. Justru aku senang mommy dan oma datang! Tapi harusnya mommy tidak perlu repot - repot belanja, disini masih ada kok bahan masakan. Kemarin itu kan, aku sama mas Kevin belanja banyak, mom!"


"Tidak papa, kalau kebanyakan disini, nanti bisa dibawa ke mansion!" Kemudian mommy Cella menuntun menantunya menghampiri Oma Jeny yang sudah duduk di ruang keluarga. Lalu Kinan menyalami dan juga cipika - cipiki dengan Oma Jeny.


"Mommy dan oma mau minum apa?"


"Biar bi Surti saja yang menyiapkannya, sayang! Duduk sini, di dekat mommy!" Mommy Cella menepuk sofa di sampingnya, membuat Kinan melangkah ke sana.


"Baru berapa hari tidak jumpa, udah makin cubby saja ini pipi!" Mommy Cella mencubit gemas, pipi Kinan.


Membuat Kinan tersipu malu. Gimana tidak gemuk, kerjaannya hanya ngemil saja.

__ADS_1


"Kamu banyak ngemil iya, sayang?"


"Iya mom!"


"Kalau bisa di kurangi iya, sayang. Takutnya nanti pas melahirkan susah, apalagi kamu pengen lahiran normal kan? Bulan depan, kalau periksa, pasti dokter menyarankan kamu untuk diet hamil." Mommy Cella menjelaskan dengan lembut, supaya menantunya tidak tersinggung. Memang menantunya mengandung bayi kembar, tapi melihat tubuh menantunya yang sekarang, mommy Cella yakin kalau berat badan menantunya sudah melebihi dari batas normal. Yang otomatis berat badan bayinya juga akan berlebih. Dan itu berpengaruh dalam persalinan nantinya.


"Maaf, mom!" Kinan menundukkan kepalanya, selama ini dia asal ngemil saja, tanpa memikirkan akibatnya.


"Bisa saja ngemil, nak, karena orang hamil itu, memang bawaannya lapar terus. Asal di barengin dengan olahraga ringan!" Oma Jeny ikut menambahkan.


"Sebenarnya aku nggak terlalu suka ngemil, mom, tapi calon cucu - cucu mommy yang pengennya ngemil terus!" Celetuk Kinan asal, sembari menunjuk ke arah perutnya. Membuat mommy Cella dan Oma Jeny tersenyum geli.


"Berarti calon cucu mommy nih yang bandel!" Mommy Cella mengusap perut besar Kinan.


"Wah, kalian senang iya, Oma ajak ngobrol?" Mommy Cella berbinar, saat merasakan tendangan kecil pada telapak tangannya.


"Iya, mom. Apalagi kalau diajak ngobrol, mereka pasti langsung merespon!" Kinan mengusap perutnya, begitu mommy Cella menjauhkan tangannya dari sana.


"Eh, siapa teman bi Surti ngobrol di belakang sana?" Tanya mommy Cella, begitu dia mendengar suara orang ngobrol dari arah belakang.


"Itu mbak yang di minta mas Kevin untuk bersih - bersih, mom!" Mommy Cella mengangguk - anggukkan kepalanya, tanda mengerti. Dia sudah yakin kalau anaknya tidak akan membiarkan menantunya untuk membersihkan apartemen ini. Tapi kalau sampai anaknya yang bandel itu tega membiarkan istrinya membersihkan apartemen ini sendirian, lebih baik anaknya itu dimasukkan kembali kedalam perutnya.


Setelahnya mereka mengobrol banyak hal. Bahkan hal yang tidak penting pun mereka bahas. Obrolan mereka terhenti, ketika bi Surti datang memberitahukan kalau makan siang sudah siap.


Sementara di lain tempat.


Saat ini Kevin dan keempat sahabatnya termasuk Al lagi berkumpul di cafe. Lebih tepatnya, cafe dari salah satu sahabatnya. Mereka sengaja mengosongkan lantai atas, supaya mereka bisa mengobrol lebih santai, tanpa takut di dengar oleh pengunjung yang lain.

__ADS_1


Baru beberapa menit yang lalu mereka selesai makan siang. Selain membahas masalah bisnis, mereka sengaja meluangkan waktu untuk berkumpul, mereka juga ingin bersantai sejenak. Kevin memilih ikut berkumpul, karena dia sudah dikasih tahu kalau mommynya dan Oma Jeny ada di apartemen. Dengan begitu, sang istri tidak akan sendirian saat makan siang.


Kalau tidak karena kedatangan mommy dan juga Omanya yang berkunjung ke apartemen, selesai mereka membahas bisnis tadi, Kevin pasti memilih pulang. Supaya bisa menemani sang istri makan siang. Bukan Kevin tidak mau berkumpul dengan para sahabatnya, tapi dia juga harus memikirkan sang istri yang sendirian di apartemen. Tapi berhubung kedatangan kedua wanita yang disayanginya selain sang istri tentu saja, Kevin bisa sedikit meluangkan waktu berkumpul dengan para sahabatnya.


"Kapan istrimu melahirkan, Vin?" Tanya Devano.


"Kurang lebih dua bulan lagi! Kenapa? Kamu sudah memikirkan, kira - kira mau memberikan hadiah apa untuk kedua anakku? Saham 5 % di perusahanmu, sepertinya cocok untuk kedua anakku?" Kevin menaik - turunkan alisnya menggoda Devano.


"Jangankan 5 %, 20 % pun bisa aku kasih. Saham - sahaman, tapi!"


"S*****!" Kevin melempar Devano dengan tissue yang baru saja dia pakai.


"Jangan mengumpat adik ipar! Ingat pesan Kinan, kalau kamu tidak boleh mengumpat!"


Kevin mendengus mendengar ucapan Al. Ingin rasanya Kevin menendang Al, tapi posisi duduk Al tidak dekat dengannya.


"Kok kamu panggil Kevin kakak ipar, Al?" Tanya Devano pada Al.


"Kami sekarang jadi ipar, Van. Ini permintaan Kinan, karena Kinan sudah menganggap aku sebagai kakaknya. Otomatis, Kevin jadi adik iparku, kan?"


"Siapa yang mau jadi adik iparmu!" Kevin menggerutu, membuat yang lainnya tergelak.


Di tengah - tengah perbincangan mereka, tiba - tiba seorang wanita datang dan duduk di samping Kevin. Bukan hanya Kevin yang kaget, tapi sahabat Kevin yang lain juga kaget dengan kedatangan wanita tersebut.


Kevin yang awalnya kaget, segera mengubah ekspresi wajahnya dan bersikap biasa saja. Lalu dia meneguk minumannya dengan santai, seolah tidak menganggap orang yang duduk disampingnya.


Seperti mengingat sesuatu, Kevin langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling cafe. Dia bernafas lega, saat tidak ada orang lain di lantai ini, selain mereka. Padahal, dari awal dia sudah tahu, kalau hanya mereka yang ada di sini, tapi karena kedatangan wanita disampingnya ini, Kevin jadi parno duluan. Kevin juga tahu kalau saat ini sang istri ada di apartemen bersama keluarganya. Tapi Kevin refleks, untuk memastikan kembali, kalau sang istri, tidak ada di tempat ini.

__ADS_1


Bukan apa, Kevin hanya teringat kejadian beberapa bulan lalu. Kejadiannya di tempat ini juga, dimana ada wanita yang duduk disampingnya, dan mengakuinya sebagai calon tunangannya. Yang mengakibatkan sang istri salah paham dan pergi dari rumah. Jangan sampai kejadian itu terulang kembali, pikirnya. Kevin tidak mau berpisah lagi dengan sang istri, apalagi sang istri sebentar lagi mau melahirkan.


__ADS_2