Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam
Bab 77


__ADS_3

Saat ini Kevin dan keempat sahabatnya termasuk Al, sedang berada disebuah kafe. Setelah kedatangan para sahabatnya ke kantornya waktu itu, akhirnya tiga hari kemudian mereka memutuskan untuk kumpul di cafe milik Raditya yang baru buka beberapa bulan ini. Sudah banyak cemilan dan minuman di atas meja, tempat mereka duduk.


"Ternyata pengunjungnya rame ya? Celutuk Kevin, ketika dia melihat kebawah. Posisi duduk mereka ada dilantai atas.


"Iya, Radith berhasil menarik pengunjung yang dengan sengaja membuat konsep cafe kekinian yang diminati anak muda. Siapapun akan betah berlama - lama disini, termasuk aku sendiri. Apalagi lokasinya yang berada dekat dengan kampus, pasti mahasiswa disana larinya kesini!" Sahut Devano.


"Memang untuk itulah tujuan Radith. Membuat dekorasi ala - ala anak muda, karena memang targetnya adalah mahasiswa/i dari kampus depan itu." Ucap Richard, sembari menunjuk kampus yang ada diseberang jalan.


"Tapi jangan salah, pengunjung yang datang bukan hanya kalangan mahasiswa saja. Dari luar juga banyak yang datang, coba perhatikan yang dibawah itu, mereka itu bukan mahasiswa saja." Sahut Devano lagi.


Begitu juga dengan dua orang yang ada disalah satu meja, yang tidak jauh dari tempat Kevin dan sahabat - sahabatnya. Iya, hari ini Kinan dan Kesya janjian, seperti kesepakatan mereka berdua. Dimana Kesya akan mengajak Kinan ke cafe yang ada didekat kampusnya. Tadi malam Kinan sudah minta ijin pada suaminya, kalau dia akan keluar dengan Kesya. Kevin juga mengijinkan, asal jangan membuat Kinan kecapean.


Dan disinilah mereka saat ini, tadi saat memasuki cafe, Kinan langsung suka dengan konsep cafe yang pastinya akan membuat pengunjung cafe nyaman berlama - lama disini. Setiap waiters dicafe ini juga terlihat rapi dan tersenyum ramah kepada para pengunjung cafe. Beberapa menu kesukaan mereka sudah terhidang diatas meja.


"Bukannya itu tuan Kevin dan asistennya, Kin?" Kinan mengikuti arah pandang Kesya, dan benar saja, disana ada suaminya. Kinan masih ingat dengan orang yang ada didekat suaminya. Mereka sahabat suaminya yang datang pada acara resepsi pernikahan mereka waktu itu.


"Iya, itu mas Kevin dan sahabat - sahabatnya."


"Kamu nggak mau gabung dengan mereka?"

__ADS_1


"Nggak ah, mereka punya acara sendiri, kita juga punya."


"Aku nggak nyangka kalau tuan Kevin mau makan ditempat seperti ini. Wajar sih, makanan di cafe ini kan terkenal enak banget. Jangan - jangan cafe ini milik suami mu, atau salah satu dari mereka?" Tebak Kesya.


"Bisa jadi!"


Sementara dimeja Kevin dan yang lain.


Mereka yang lagi asyik mengenang masa - masa mereka kuliah dulu, harus terhenti karena seseorang.


"Bisa kami ikut gabung?" Tanpa menunggu jawaban, ketiga orang yang baru datang langsung duduk dikursi kosong. Meja tempat mereka kumpul memang besar, beberapa kursi masih ada yang kosong.


"Perhatikan tangan anda nona!" Al yang bereaksi, saat tangan wanita itu menyentuh tangan Kevin.


"Siapa kamu?" Ketus Kevin pada wanita yang duduk disampingnya.


"Masa mas Kevin tidak mengenal saya!" Sahutnya dengan lembut. Dia berusaha berbicara selembut mungkin, untuk menarik perhatian Kevin.


Kevin melirik Al, Al yang langsung tanggap menjelaskan. "Dia nona Celine tuan, putri dari tuan Smith." Kevin mengerutkan keningnya, tidak lama dia mengangguk - anggukkan kepalanya saat ingat sesuatu.

__ADS_1


"Ck...!"


"Benar tuan Kevin, saya putri satu - satunya dikeluarga Smith. Saya senang waktu papa saya mengatakan bahwa mas Kevin adalah calon suami saya." Ucapnya dengan percaya diri, dia juga bergelayut dilengan Kevin.


Semua yang duduk mengelilingi meja kaget, mendengar ucapan Celine. Setelahnya mereka saling pandang. Terlebih dua orang yang duduk tidak jauh dari tempat mereka.


"Maksud anda apa nona?" Devano yang lebih dulu tersadar, menyahut.


"Iya tuan Devano, papa saya mengatakan kalau saya dan mas Kevin tidak lama lagi akan bertunangan."


"Bisa tolong dijelaskan apa maksud semua ini, Vin?" Tanya Devano pada Kevin.


"Jangan bicara sembarang nona, bahkan saya tidak mengenal anda!" Kevin berusaha melepaskan tangan Celine yang melingkar dilengannya.


"Tidak perlu mengelak mas. Apa mas malu mengakuinya didepan mereka. Atau mereka belum tahu kalau kita akan bertunangan?"


"Kenapa berita besar seperti ini tidak kamu kasih tahu, Vin?" Ucap Devano, membuat Kevin melototkan matanya.


"Jadi anda calon tunangan Kevin nona?" Devano semakin mengompori tanpa mempedulikan tatapan tajam Kevin.

__ADS_1


"Benar tuan, papa saya sudah membicarakannya dengan tuan dan nyonya William." Devano dan yang lainnya menggelengkan kepalanya. Mereka memuji keberanian wanita didepan mereka ini. Entah dapat keberanian dari mana, hingga wanita ini berani mengatakan kalau dia dan Kevin akan bertunangan. Tapi disaat yang bersamaan, mereka kasihan akan nasibnya nanti, mereka sudah bisa membayangkan, apa yang akan terjadi, kalau Kevin sudah bertindak. Bukan hanya wanita ini, semua keluarganya akan ikut terseret dengan kelancangan wanita ini. Iya, wanita ini terlalu lancang mengklaim kalau Kevin akan menjadi tunangannya. Keadaan semakin mencekam, saat terdengar celutukkan seseorang.


__ADS_2