
Sementara Kevin dan Kinan sudah duduk diatas ranjang. Keduanya lebih memilih duduk diatas ranjang, dengan Kinan yang bersandar dikepala ranjang sementara Kevin duduk dihadapannya.
"Hanya hitungan hari kamu pergi dari rumah, tapi pulang - pulang, kamu semakin jahil dan berani iya, Ay!"
"Jahil gimana maksud mas?"
"Apa namanya kalau nggak jahil, dengan ninggalin mas dibalkon tadi. Kamu nyuruh mas tutup mata, lalu kamu cium. Tak tahunya kamu malah menghilang, ninggalin mas disana. Belum lagi tadi dibawah, emangnya yang tadi malam masih kurang mas!" Kevin menirukan gaya bicara Kinan. "Kamu ngomong seperti itu kan tadi?" Kinan terkikik geli, melihat suaminya menirukan gaya bicaranya.
"Kalau mas jawab masih kurang, gimana? Sepertinya melakukannya saat ini tidak masalah!" Kevin mengedipkan matanya menggoda istrinya, dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Membuat Kinan dengan refleks menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kevin terkekeh, dia mengecup punggung tangan sang istri yang menutupi wajahnya.
"Udah, lepas tangannya, mas nggak akan melakukannya sekarang. Masih ada hal yang harus kita bahas! Jangan mengulur - ngulur waktu lagi, yang ada kamu nggak jadi menjelaskan semuanya." Kevin menurunkan tangan istrinya dari wajahnya.
"Mas serius nggak akan melakukannya sekarang?"
"Iya bawel! Mas nggak akan melakukannya sekarang, tapi nanti!"
"Mas!" Kinan yang mau memukul lengan suaminya tidak jadi, karena tangannya sudah dipegang lebih dulu oleh suaminya.
"Sekarang saatnya kamu ceritakan kemana kalian pergi beberapa hari ini. Kenapa begitu sulit menemukan kalian?"
"Memangnya harus iya, mas tahu?"
"Sayang! Sepertinya kamu lebih suka kalau kita....."
"Tapi mas janji dulu, kalau mas tidak akan marah!" Kinan langsung memotong ucapan suaminya, karena dia tahu apa kelanjutannya.
"Iya, mas janji nggak akan marah!"
"Termasuk untuk yang lainnya juga!"
Kevin mengerutkan keningnya. "Yang lainnya siapa?"
__ADS_1
"Adalah, mas sudah janji lho!"
"Hemmm!"
"Yang serius dong mas!"
"Mas serius Ay!"
"Mas harus janji seperti ini. 'Aku Kevin Chandra William berjanji tidak akan marah pada siapapun yang membantu istriku bersembunyi selama beberapa hari ini. Kalau aku melanggar, aku bersedia tidur diluar dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Dan juga tidak boleh dekat - dekat atau cium istriku, apalagi mendapat jatah. Hal itu juga berlaku untuk batas waktu yang tidak ditentukan, meski kami tinggal satu atap."
"Astaga Ay, seram banget itu hukumannya!"
"Kalau mas tidak mau janji, tidak apa - apa. Aku nggak maksa kok, jadi aku nggak harus mengatakan dimana tempatnya. Dengan begitu, aku bisa dengan mudah untuk kabur nantinya, tanpa takut ketahuan oleh mas!"
"Baiklah, baiklah, mas janji!" Dengan terpaksa Kevin berjanji dengan mengulang ucapan Kinan tadi.
"Puas?" Kesal Kevin, begitu dia selesai mengucapkan janjinya.
Tapi dengan suaminya yang sudah berjanji, Kinan bisa tenang. Meski tidak menutup kemungkinan kalau suaminya bisa marah dan kecewa karena merasa dibohongi. Sebenarnya wajar sih suaminya marah. Suaminya sudah seperti orang tidak waras mencari istrinya ke banyak tempat. Tahu - tahunya, semua yang dia lakukan sia - sia, karena semua penghuni rumah tahu keberadaan sang istri. Tapi mereka sengaja tutup mulut. Tapi kembali lagi seperti perjanjian yang dia buat, suaminya tidak boleh marah karena sudah berjanji.
"Sekarang katakan pada mas, dimana tempatnya?"
Kinan lebih dulu menarik nafas dalam, setelah merasa tenang Kinan mengatakan...
"Sebenarnya kami tidak pergi jauh mas!" Melihat suaminya mengerutkan keningnya, Kinan melanjutkan....
"Beberapa hari ini, kami tinggal di paviliun belakang mas!"
"Apa!" Kevin meninggikan suaranya. Membuat Kinan menundukkan kepalanya.
"Maaf sayang, mas hanya kaget saja!" Kevin yang sadar dengan nada suaranya yang tinggi, segera menggenggam kedua tangan sang istri.
__ADS_1
"Maaf iya sayang, mas benaran nggak marah kok, hanya kaget saja tadi. Sekarang tolong jelaskan pelan - pelan, apa maksudnya kalau kalian ada di paviliun belakang."
Kinan mengangkat kepalanya menatap wajah suaminya. Dia perhatian wajah suaminya, terlihat seperti marah dan kecewa tergambar disana, tapi ditutup dengan senyum dibibir suaminya. Entah senyum tulus atau senyum yang dipaksakan.
"Beberapa hari ini, kami memang tinggal di paviliun belakang mas. Mas ingat kejadian di cafe kan?" Kevin mengangguk, tentu saja dia ingat. Kejadian itulah awal dari perginya sang istri dari rumah.
"Hari itu, begitu aku tiba dirumah, aku menceritakan semuanya pada mommy dan oma. Karena aku marah dan kesal sama mas, aku berniat untuk sementara tinggal dirumah lama bersama Kesya. Atau nggak kami akan pergi kesuatu tempat, supaya tidak jumpa sama mas. Tapi mommy melarang dan mengusulkan agar kami tinggal di paviliun belakang saja. Supaya mommy bisa setiap saat mengunjungi kami kesana. Mommy juga janji tidak akan memberitahu keberadaan kami pada mas. Termasuk yang lainnya juga, mereka akan pura - pura tidak tahu kemana kami pergi." Kinan menutup penjelasannya dengan sedikit takut. Takut kalau suaminya ngamuk.
Sementara Kevin mengepalkan kedua tangannya. Dia baru ingat kalau dipavilun belakang memang ada sebuah kamar kosong. Beberapa kali Kevin pernah tidur disana kala dia jenuh dengan segala pekerjaannya, dan tidak mau tidur dirumah atau diapartemennya. Selain di hotel, biasanya dia akan kesana. Tapi kemarin itu dia tidak kepikiran untuk mencari istrinya kesana.
Pengen marah, tapi dia sudah berjanji tidak akan marah. Siapa yang tidak marah, beberapa hari ini dia seperti orang bodoh. Mencari istrinya kesemua tempat, meski orang tuanya berpesan untuk tidak mencari istrinya, tapi dia tidak bisa tinggal diam. Dia terus meminta orang - orangnya untuk mencari sang istri. Pantas saja istrinya tidak ditemukan jejaknya dimana pun, ternyata ada campur tangan oleh orang tuanya.
Harusnya dia sudah curiga melihat orang tuanya yang bersikap biasa saja, padahal menantu kesayangannya pergi dari rumah. Belum lagi keadaan menantunya yang lagi hamil besar. Ternyata mereka yang sudah menyembunyikan istrinya. Pura - pura mengatakan tidak usah dicari, karena Kinan pasti butuh waktu untuk sendiri. Tak tahunya.....
Kevin menarik nafas dalam-dalam beberapa kali dan mengeluarkannya secara perlahan. Berharap bisa meredam emosi, marah dan kecewa bercampur jadi satu, yang dia rasakan. Dia tidak mau kalau dia emosi akan berakibat fatal. Dan lebih parahnya akan menyakiti istri dan calon anaknya.
"Mas!" Kinan menggeser tubuhnya supaya lebih dekat dengan suaminya. Lalu dia memeluk suaminya dari samping.
Kevin langsung tersadar, begitu merasakan pelukan sang istri. Dia pun melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya. Keduanya terdiam beberapa saat, sesekali Kevin menciumi puncak kepala sang istri.
Hingga beberapa menit berlalu, Kinan melepaskan pelukannya. Lalu kedua tangannya membingkai wajah suaminya.
"Mas marah?" Kevin menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Mas marah?" Kembali Kevin menggelengkan kepalanya.
"Mas marah?"
"Mas nggak marah, Ay! Kan tadi sudah janji, kalau mas tidak akan marah!"
"Kalau nggak marah, mas senyum dong!"Mau tak mau, Kevin tersenyum kecil.
__ADS_1
"Senyumnya yang ikhlas dong, jangan kayak dipaksa gitu." Kevin memberikan senyum terbaiknya untuk sang istri dan tanpa dia duga, istrinya mempertemukan bibir keduanya. Kevin mengira kalau sang istri hanya mengecup, ternyata sang istri malah m********. Kevin yang awalnya kaget, lama - kelamaan justru menikmatinya. Bahkan dia membalas ciuman sang istri. Dia juga meletakkan satu tangannya dibelakang kepala istrinya untuk menahan tengkuknya. Hingga yang awalnya ciuman lembut berubah menjadi lebih menuntut. Sang istri sudah memulai duluan, tentu saja Kevin tidak mau melewatkan kesempatan yang ada.