
Pagi harinya, Kinan bangun jam enam pagi. Dia ingat kalau mereka sedang ada di apartemen, yang mana tidak ada seorangpun pelayan disana, hingga Kinan yang mengambil alih semua termasuk memasak. Dan memang itulah keinginannya, tinggal berdua dengan sang suami. Memasak sendiri tanpa bantuan pelayan.
Dan disinilah Kinan saat ini, di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Untuk pagi ini, Kinan hanya membuat sarapan dengan menu yang gampang saja. Roti bakar tuna dengan keju lumer, untuk sang suami. Untuk dia sendiri, cukup roti bakar dengan selai coklat saja.
"Waktu aku meminta mas Kevin masak urap tempo hari, kenapa mas Kevin bilang tidak pernah memasak sebelumnya? Sementara disini peralatan masak lengkap semuanya. Apa mas Kevin bohong, pura - pura tidak bisa masak, padahal sebenarnya bisa. Nggak mungkin kan beli semua peralatan ini hanya untuk pajangan saja!"
"Tapi kalau dilihat dari video waktu mas Kevin masak waktu itu, disana terlihat jelas kalau mas Kevin seperti orang yang belum pernah masak. Tapi peralatan ini....Ck, dasar orang kaya, asal main beli saja, tapi tidak dipakai!" Sembari tangannya bekerja, mulut Kinan juga mengoceh sendiri. Kadang dia mengangguk, kadang menggelengkan kepalanya. Tidak tahu saja dia, kalau semua tingkahnya itu dilihat oleh sang suami. Yang membuat sang suami senyum - senyum.
Iya, tidak lama setelah Kinan bangun, Kevin juga bangun dan langsung membersihkan diri. Awalnya dia mau membantu sang istri, tapi begitu dia sampai di belakang, dia menghentikan langkahnya karena mendengar ocehan istrinya. Hingga Kevin menghentikan niatnya untuk membantu sang istri dan lebih memilih mendengarkan semua ocehan istrinya itu. Setelah sang istri diam, Kevin pun mendekat.
"Kamu masak apa sayang?"
"Astaga mas!" Kinan hampir menjatuhkan piring yang dia pegang, karena terkejut mendengar suara sang suami.
"Mas kebiasaan deh, bikin orang kaget. Gimana kalau piringnya tadi jatuh!" Dengan mengerucutkan bibirnya, Kinan meletakkan piring yang isinya roti bakar yang sudah jadi ke atas meja.
"Kalau jatuh pasti kebawah. Dan kalau pecah, tinggal ganti. Mas tidak akan jatuh miskin gara - gara satu piring pecah."
"Bukan masalah piringnya mas, tapi rotinya. Itu kan sarapan untuk kita, kalau tadi jatuh, sia - sia dong aku membuatnya tadi, tapi tidak bisa dimakan!" Kinan semakin mengerucutkan bibirnya yang membuat Kevin gemas dan mengecupnya kilat.
"Mas!" Seru Kinan kaget.
"Makanya bibirnya jangan manyun gitu! Ayok duduk sini!" Kevin menarik salah satu kursi untuk sang istri. Setelah sang istri duduk dengan nyaman, Kevin juga menarik kursi untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelahnya keduanya sarapan dengan diam. Hingga beberapa menit acara sarapan pun selesai.
"Mas tidak bohong sayang, perihal memasak. Kalau untuk urusan yang satu itu, mas angkat tangan!" Ujar Kevin setelah dia menghabiskan kopinya. Membuat Kinan membelalakkan matanya.
"Berarti mas mendengar....?" Kinan merasa malu, begitu sang suami mengangguk. Ingin rasanya dia sembunyi, supaya tidak bertatapan dengan suaminya.
"Waktu mas tinggal disini, Al juga sering disini sayang. Sama seperti di mansion, disini juga Al punya kamar sendiri, meski apartemen dia ada dibawah. Jadi dia yang pakai itu semua. Kalau tidak ada Al, iya seperti ucapan kamu tadi, dijadikan pajangan!" Kinan mengangguk - anggukkan kepalanya tanda mengerti. Saat mereka ditaman kemarin, suaminya sudah kasih tahu kenapa Al bisa ada di taman itu. Dan ternyata Al juga tinggal di gedung ini, bahkan apartemen Al persis dibawah apartemen sang suami.
"Ayok ke depan, kamu harus pakaikan dasi mas, sayang. Setelah itu, baru mas turun, kalau mas lama turunnya, bisa - bisa Al ngamuk lagi!" Kevin beranjak dari duduknya.
"Jangan gitu mas. Biar gimanapun, sekarang kan kak Al sudah jadi kakak iparnya mas!" Kinan menaik turunkan alisnya menggoda sang suami.
"Ck, dia akan semakin besar kepala, kalau mas panggil dia kakak ipar!" Dengan menggerutu, Kevin menggandeng tangan sang istri untuk meninggalkan meja makan. Tiba diruang keluarga, Kevin memberikan dasi yang dia letakkan diatas sofa tadi ke tangan Kinan. Dengan sigap, Kinan menerimanya dan memasangkannya dileher sang suami. Selesai dengan dasi, Kinan juga memakaikan jas suaminya.
"Kalau pagi - pagi itu harus diawali dengan senyuman, mas. Bukan malah menggerutu tidak jelas!" Ujar Kinan, setelah selesai dengan tugasnya.
Tidak mempedulikan ledekkan sang istri, Kevin justru berjongkok di depan perut besar Kinan. Menempelkan tangannya disana, lalu mengusapnya beberapa kali.
"Selamat pagi anak - anak daddy, lagi apa didalam sana? Kalian berdua jaga mommy iya, hari ini mommy sendirian dirumah. Jadi daddy mohon, kalian berdua jangan nakal. Jangan buat mommy susah, kalau daddy sudah pulang, kalian bebas mau melakukan apa pun. Atau main bola dengan kuat juga bisa!"
Kinan yang awalnya tersenyum mendengar pesan sang suami pada calon anaknya, seketika mendelik, begitu mendengar kalimat terakhir suaminya.
"Mas jangan ngomong yang aneh - aneh iya!"
__ADS_1
Kevin mendongakkan kepalanya, menatap wajah sang istri. "Mas nggak ngomong aneh - aneh, mereka saja setuju kok dengan ucapan daddynya!" Kevin tersenyum, saat merasakan kedua anaknya merespon. Setelahnya Kevin menciumi perut Kinan beberapa kali, lalu berdiri.
"Nggak usah bersih - bersih iya sayang. Kamu istirahat saja, nonton atau apalah. Intinya jangan capek - capek. Nanti siang mas usahakan pulang, supaya kamu ada temannya untuk makan siang. Kalau nggak sanggup buat masak, pesan saja dari bawah."
"Kalau ujungnya pesan makanan yang jadi, terus untuk apa kita tadi malam belanja banyak mas!" Kinan memukul pelan lengan suaminya.
"Mas nggak perlu khawatir, aku nggak mungkin membahayakan keselamatan calon anak kita. Oh iya, kalau mas mau makan siang disini, sekalian ajak kak Al iya, mas. Kan kasian, kak Al makan sendirian.
"Hemmm!"
"Sudah sana berangkat, ntar telat lagi."
"Kamu lupa kalau suami tampanmu ini yang punya perusahaan. Mau telat atau tidak, nggak akan ada yang marah."
"Sombong! Justru karena mas yang punya, jadi harus memberikan contoh yang baik untuk karyawan disana. Sudah sana berangkat, mas nggak mau kan, kalau kakak ipar mas ninggalin mas!"
"Ck, kakak ipar apaan! Iya udah, mas berangkat iya!" Tidak lupa Kevin mencium kening dan bibir sang istri. Setelahnya Kinan mengantar sang suami sampai ke depan pintu. Sebelum pergi, Kevin pamit pada calon anaknya.
"Daddy kerja dulu iya nak, jaga mommy kalian!" Kevin mengecup perut besar Kinan. Sekali lagi, Kevin mengecup bibir istrinya sebelum pergi.
"Mas!"
Kevin yang sudah berjalan beberapa langkah, menghentikan langkahnya dan berbalik.
__ADS_1
"Kenapa sayang?"
"Di kantor, yang akur iya sama kakak ipar mas!" Kinan mengedipkan matanya. Membuat Kevin mendengus. Dan tanpa membalas ucapan sang istri, Kevin melanjutkan langkahnya. Sementara Kinan terkikik geli. Setelah Kinan melihat sang suami masuk lift, Kinan juga masuk kedalam. Dia ingin membersihkan diri, karena tadi dia hanya cuci muka saja.