Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam
Bab 104


__ADS_3

Setelah kepergian Jessica, mereka yang ada disana bernafas lega.


"Gitu dong, adik ipar, kamu harus tegas pada orang yang mau mengganggu keluarga kecilmu. Hempaskan jauh - jauh mantanmu itu, dan bukan hanya mantanmu itu saja. Tapi itu berlaku pada wanita manapun, jangan sampai ada celah untuk mereka mengganggu kebahagiaan keluargamu." Al mencairkan suasana yang tadi sedikit tegang karena kedatangan wanita yang bernama Jessica itu, lebih tepatnya mantan Kevin.


"Aku setuju dengan Al. Aku kasih dua jempol deh untuk tindakanmu tadi!" Devano mengacungkan kedua jempolnya pada Kevin.


"Aku pikir kamu akan luluh, saat wanita itu menunjukkan wajah sedihnya. Seperti yang kamu lakukan dulu! Kamu masih ingat kan, kalau dulu kamu sangat tergila-gila padanya. Seperti kata orang 'bucin'. Sehingga kamu akan langsung menuruti semua apa yang dia inginkan!" Tambah Devano lagi, yang diangguki oleh yang lain. Tanda setuju dengan ucapan Devano.


Kevin hanya diam saja, tidak berniat meladeni ocehan sahabatnya itu.


"Tapi kamu benar - benar sudah melupakan wanita itu kan, Vin. Jangan bilang kalau kamu masih mencintainya!" Yang lain ikut menunggu jawaban Kevin atas pertanyaan Devano barusan. Karena mereka pun penasaran, meski dulu Kevin sudah pernah mengatakan kalau dia sudah tidak ada rasa pada wanita itu, saat wanita itu meninggalkannya. Tapi sekarang situasinya berbeda, wanita itu sudah kembali. Dan pasti membuka kembali kenangan diantara keduanya, saat masih menjalin hubungan.


Keempat sahabat Kevin sungguh gemas melihat Kevin yang diam saja. 'Apa susahnya sih, tinggal jawab saja'. Itu adalah isi pikiran mereka berempat. Mereka tidak bisa membaca raut wajah Kevin saat ini.


Tanpa mereka tahu, kalau Kevin berusaha menahan tawanya, karena merasa lucu melihat wajah mereka yang sangat penasaran menunggu jawabannya.


Dan sikap Kevin yang memilih diam, alih - alih menjawab pertanyaan Devano, bukan karena dia masih mencintai wanita itu, karena cinta itu sudah hilang saat wanita itu pergi meninggalkannya dulu. Terlebih saat ini, dia sudah mempunyai istri yang sangat dia cintai. Bahkan sebentar lagi mereka akan punya anak.


Kevin juga menenangkan dirinya sejenak. Karena dia benaran kaget melihat kedatangan tiba - tiba wanita itu. Sempat terlintas dibenaknya kenangan saat kebersamaan mereka dulu. Tapi segera Kevin hilangkan, karena tidak mau larut dengan kenangan itu yang bisa membuatnya luluh, terlebih wanita itu tadi meminta untuk kembali padanya.


Kevin harus membentengi dirinya dan menegaskan kalau dia dan wanita masa lalunya itu sudah berakhir. Sudah tidak ada lagi tempat wanita itu di hatinya. Meski wanita itu datang dan membujuknya dengan semua bujuk rayuan dan cintanya, dia tidak akan tergoda.


Karena kini dihatinya hanya ada nama sang istri tercinta. Semua cinta dan kasih sayangnya sudah dia curahkan pada sang istri. Kevin jadi merindukan istrinya yang sangat menggemaskan itu. Sepertinya dia harus cepat pulang supaya bisa memeluk dan bermanja - manja dengan sang istri.


"Woi, Vin! Kok malah bengong sih!" Devano memukul meja, hingga membuat yang lainnya kaget. Begitu juga dengan Kevin yang tersadar dari lamunannya. Beruntung minuman mereka yang ada diatas meja tidak tumpah, karena Devano memukul meja lumayan kuat.


"Bikin kaget saja kamu, Dev!" Omel Richard, sembari mengelus dadanya.


"Tahu nih, Devano. Kalau tadi kita jantungan dan pingsan, gimana?" Radith ikut menimpali dengan sedikit mendramatisir keadaan.


"Kalau gitu jantung kalian perlu diperiksa, kali aja ada masalah!" Kekeh Devano.


"Lagian ini semua gara - gara si kunyuk satu ini!" Devano mengarahkan pandangannya kepada Kevin.

__ADS_1


"Kenapa malah nyalahin aku?" Kevin mengambil minumannya dan meneguknya sampai habis.


"Habisnya kamu dari tadi diam saja! Kami juga kan pengen tahu dengan apa yang kamu rasakan dengan kehadiran wanita itu!"


"Apa itu perlu?"


"Tentu saja perlu. Bisa saja kan otakmu bergeser, hingga dengan gampang kembali jatuh pada pelukan wanita itu!"


"S***** kau! Kevin melempar kotak tissue pada Devano tapi tidak mengenai tubuhnya karena langsung ditangkap dengan sigap oleh Devano.


"Perhatikan ucapanmu adik ipar! Kamu nggak mau kan tidur diluar kalau Kinan tahu kamu masih sering mengumpat?" Al mengedipkan matanya menggoda Kevin. Membuat Kevin mendengus. Sementara yang lain tergelak.


"Kembali ke pertanyaanku tadi, Vin! Jadi gimana?" Devano masih terus mendesak Kevin.


"Pertanyaan yang mana sih?" Kevin mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan pertanyaan Devano.


"Ck, kamu masih mencintai Jessica tidak?"


"Kalian lupa, kalau dulu aku sudah pernah mengatakan pada kalian, kalau aku sudah tidak mencintai wanita itu, begitu dia meninggalkan aku dan lebih memilih laki - laki lain? Mulai saat itu dan untuk selamanya, hubungan kami sudah berakhir!" Ujar Kevin dengan tegas.


"Tapi masalahnya dia sudah kembali, Vin! Dan yang kita takutkan, melihat kamu yang tergila-gila padanya, tidak menutup kemungkinan kalau kamu kembali padanya!" Raditya yang dari tadi diam saja, ikut memberi komentar.


"DU - LU!" Kevin menekan katanya. Dan melihat para sahabatnya mengerutkan keningnya Kevin melanjutkan....


"Aku memang tergila - gila padanya, tapi DU - LU!" Kembali Kevin menekan kata terakhirnya.


"Aku tidak akan menyangkal kalau aku memang tergila - gila padanya. Tapi itu dulu, tidak untuk sekarang. Apalagi aku sudah tahu gimana sifat aslinya. Kadang aku berfikir kenapa bisa tergila-gila padanya, dulu.


Kalian tenang saja, kalian bisa pegang kata - kataku, kalau aku tidak akan pernah kembali padanya. Walau dia melakukan segala cara atau bahkan te******* dihadapanku, aku tidak akan tergoda. Karena apa......Karena disini sudah ada nama istriku!" Kevin menunjuk dadanya.


"Nama Kinan Anastasya tidak akan tergantikan oleh wanita manapun, termasuk wanita itu. Meskipun awal hubungan kami bisa dikatakan tidak seperti pasangan lainnya, dan pernah berlaku tidak baik pada istriku saat diawal pernikahan, tapi sekarang aku sangat, sangat mencintainya lebih dari yang kalian tahu. Tidak akan ada celah untuk orang ketiga, keempat dan lainnya! Karena hati dan pandanganku hanya tertuju pada istri tercinta!" Tidak ada keraguan dalam setiap ucapan Kevin.


"Prok,, prok,, prok!" Keempat sahabat Kevin serempak bertepuk tangan, mendengar penjelasan Kevin. Sebenarnya mereka sudah tahu kalau Kevin sangat mencintai istrinya. Apalagi saat Kinan pergi meninggalkannya beberapa waktu lalu. Kevin terlihat seperti tidak punya semangat hidup. Dari situ bisa meyakinkan mereka, kalau Kevin sangat mencintai istrinya. Dan tadi mereka menanyakan perasaan Kevin pada wanita masa lalunya hanya untuk lebih meyakinkan saja. Dan kini, mereka sudah mendapatkan jawabannya.

__ADS_1


Al berdiri dari duduknya dan menghampiri Kevin.


"Itu baru adik iparku!" Al memeluk Kevin.


"Apaan sih!" Kevin mendorong tubuh Al, tapi Al justru memeluknya semakin erat. Hingga beberapa detik, Al melepaskan pelukannya karena Kevin hampir jatuh dari kursinya karena terus berontak. Karena posisi Kevin yang memang duduk, jadi gerakannya tidak bebas.


Sementara yang lain menggelengkan kepalanya sambil terkekeh kecil melihat tingkah keduanya.


"Sebaiknya kamu cepat cari pacar, Al!" Ujar Kevin sembari mengibas - ngibaskan bajunya.


"Apa hubungannya!" Al kembali ketempat duduknya semula.


"Biar ada yang bisa kamu peluk!" Kesal Kevin.


"Tapi kamu harus lebih berhati - hati sekarang, Vin!" Melihat Kevin mengerutkan keningnya, Devano melanjutkan....


"Jessica kembali ke tanah air, pasti dengan tujuan tertentu. Bisa jadi di luar sana, dia sudah tidak punya apa - apa. Sehingga dia kembali untuk mencari mangsa lain. Dan mengingat dulu kalian punya hubungan, pasti dia menemuimu. Aku yakin dia sudah tahu, keluarga kalian yang semakin berjaya. Aku tidak tahu, Jessica percaya atau tidak dengan pengakuanmu tadi, kalau kamu sudah menikah.


Jessica pasti akan melakukan segala cara, supaya bisa kembali padamu. Dia juga akan mencari tahu, siapa yang menjadi istrimu. Dan saat itu tiba, dimana dia tahu siapa yang menjadi istrimu, tidak menutup kemungkinan dia akan mencelakai Kinan. Karena dia merasa Kinan sebagai penghalang untuk mendapatkanmu sebagai ladang uangnya untuk menopang hidupnya.


Jadi kamu harus lebih waspada. Memang sih, tidak banyak yang tahu kamu sudah menikah dan mengenal siapa yang menjadi istrimu. Tapi namanya wanita, dia selalu punya cara untuk mencapai suatu tujuan. Karena itu, mulai sekarang tingkatkan pengawasanmu pada Kinan. Apalagi Kinan sudah mau melahirkan, jangan sampai dia kenapa - napa!" Panjang lebar, Devano menjelaskan, supaya Kevin lebih berhati - hati.


"Kita setuju dengan ucapan, Devano. Kamu jangan sampai lengah, Vin! Wanita kalau sudah nekad, tidak bisa berpikir jernih. Tidak peduli mau orang itu sakit atau tidak, tua atau muda, bahkan hamil sekali pun, kalau menurutnya orang itu sebagai penghalang, maka tetap harus di singkirkan!" Radith ikut menyahut.


"Kalau gitu, kita pulang sekarang, Al! Mulai sekarang aku tidak akan pergi kemana - mana. Aku akan menemani Kinan dua puluh empat jam!" Kevin mengambil ponselnya dari atas meja dan berlari turun kebawah. Yang diikuti oleh Al dibelakang.


"Hei..... Tidak begitu juga konsepnya. Ck, dasar Kevin...." Devano menggerutu melihat Kevin yang pulang terburu - buru.


"Kamu sih, menakut - nakutinya!" Richard terkekeh melihat Devano yang masih menggerutu.


"Senang aja melihat Kevin bersikap tegas. Tapi nggak harus jagain Kinan dua puluh empat jam kan?" Ujar Devano.


Setelahnya mereka bertiga tanpa sadar saling pandang lalu tergelak bersama.

__ADS_1


__ADS_2