
Kini keempat orang itu sudah memasuki salah satu toko yang menyediakan kebutuhan pria dan wanita, dengan merk terkenal dan tentunya dengan harga yang fantastis. Setelah Kesya datang, mereka memutuskan untuk melanjutkan kegiatan mereka.
"Kalian belilah apa yang kalian mau, kami akan tunggu disana." Kevin menunjuk tempat duduk yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Bisa saja Kevin mengosongkan toko ini dari orang luar, supaya tidak ada yang mengenali Kevin. Tapi itu akan membuat sang istri mengomel dan mengatainya sombong. Jadi hari ini, biarkan dia membaur dengan orang banyak.
"Mas nggak ikut belanja?"
"Nanti saja kami ikut gabung. Sekarang kalian berdua belanjalah sepuasnya!" Tentu saja Kevin memberikan waktu untuk sang istri belanja bersama temannya itu. Kevin tidak mau mengganggu waktu kedua wanita itu, biarkan mereka berdua menghabiskan waktu belanja bersama. Kalau Kevin ikut, yang ada Kesya akan merasa sungkan nantinya.
"Kami boleh belanja banyak kan mas?"
"Hemmm, lakukan apa yang membuatmu senang. Tapi ingat, jangan sampai kamu kecapean."
"Ok!" Setelahnya Kinan dan Kesya yang mau mengambil troli tidak jadi, karena tidak tahu datangnya dari mana, tahu - tahu, dua orang pengawal wanita sudah ada disamping mereka yang mendorong troli ditangan masing - masing.
"Biar mereka yang membawa belanjaan kalian nanti!" Ujar Kevin. Kinan yang sudah mulai terbiasa dengan kehadiran pengawal yang tiba - tiba seperti itu saat dia dan mertuanya belanja, hanya bisa mengangguk. Setelahnya mereka berempat pergi dari hadapan Kevin dan Al. Sementara Kevin dan Al memilih untuk duduk di tempat yang sudah tersedia disana. Dari tempat mereka duduk, Kevin masih bisa memantau apa yang dilakukan oleh sang istri.
"Apa tidak sebaiknya kita ikut gabung sama mereka?" Tanya Al, setelah dia ikut duduk disamping Kevin.
"Kalau aku ikut, yang ada mereka tidak bebas." Melihat Al yang mengerutkan keningnya, Kevin melanjutkan
"Kalau aku ikut, yang ada temannya itu tidak akan belanja apa - apa karena merasa sungkan. Untuk saat ini biarkan keduanya menikmati waktunya sebentar. Nanti setelah beberapa saat, kita baru ikut gabung."
Al mengangguk - anggukkan kepalanya, setelah mencerna ucapan Kevin.
"Kamu nggak ada niat untuk mendekati gadis itu?"
"Gadis yang mana?"
"Gadis mana lagi, tentu saja teman Kinan itu. Memangnya ada gadis lain yang kamu kenal selain gadis itu?" Kevin tersenyum, yang membuat Al mendelik. Karena Al tahu senyuman Kevin itu adalah senyuman untuk mengejeknya.
"Kamu jangan salah, banyak gadis - gadis yang aku kenal di luar sana. Bahkan mereka berlomba - lomba untuk menjadi kekasihku, kamu saja yang tidak tahu."
"Masa???
"Memangnya cuma kamu yang digilai wanita di luaran sana. Aku juga tidak kalah tampan dari kamu, bahkan kalau dilihat lebih dekat, ketampanan kita hampir sama. Yang membedakan kita hanya di harta saja, kamu lebih kaya sedikit." Al bahkan mendekatkan jari jempolnya dan telunjuknya, kemudian berkata "Ingat hanya sedikit!" Al terkekeh dengan kalimatnya sendiri.
__ADS_1
"Dasar asisten kurang akhlak!" Kevin yang kesal menginjak kaki Al.
"Eits, ini bukan kantor. Jadi saat ini aku bukan asistenmu. Justru kamu harus berterima kasih padaku, karena aku mau meluangkan waktuku untuk menemanimu disini. Itu karena aku baik hati dan tidak sombong, coba kalau aku nggak baik hati, aku sudah memilih menghabiskan waktu dengan kekasihku."
"Ka****" Kevin meninju lengan Al, membuat Al meringis.
"Memangnya kamu sudah punya kekasih?" Tanya Kevin tiba - tiba?
"Belum sih!" Jawab Al, sembari cengar-cengir. Setelahnya keduanya tergelak bersama.
Sementara tidak jauh dari posisi mereka duduk, Kinan dan Kesya sudah memenuhi hampir separuh troli yang di dorong oleh dua orang pengawal yang mengikuti mereka.
"Ini nggak papa kalau aku ikut belanja sebanyak ini, Kin?" Meskipun tadi Kinan sudah memintanya untuk membeli apa saja yang dia mau, tetap saja Kesya merasa tidak enak.
"Nggak papa, Sya. Hitung - hitung kita berdua ikut berpartisipasi untuk membantu mas Kevin menghabiskan sebagian uangnya!" Kekeh Kinan. Tangan Kinan sibuk memilih baju yang kesekian lalu memasukkannya kedalam troli.
"Eh, kenapa kamu malah masukin ketempat belanjaanku Kin?" Kesya yang baru sadar melihat tingkah Kinan yang memasukkan apa yang dia ambil ke dalam belanjaannya, tentu saja heran. Pantesan saja trolinya hampir penuh, pikirnya.
"Atau kamu mau nitip dirumah, biar nanti bisa kamu pakai saat kamu datang kerumah?"
"Kamu ngomong apaan sih, Kin. Tidak kamu belanjain kayak gini pun, kalau kamu bahagia aku juga ikut bahagia. Udah ah, kok jadi mellow sih. Kita kan kesini mau senang - senang." Kesya memeluk Kinan, untung dilorong tempat mereka berdiri tidak ada orang lain.
Dasar bumil, sensitif saja bawaannya. Padahal dulu sekuat baja, sekarang dikit - dikit mewek.
"Udah ah, nggak usah nangis. Nanti aku malah ikutan nangis, kan nggak lucu kalau kita berdua nangis disini. Bisa - bisa suamimu yang dingin itu memarahiku karena sudah membuat istrinya menangis. Nanti malah berimbas dengan menyuruh aku bayar sendiri belanjaan sebanyak ini!" Ucap Kesya setelah dia melepaskan pelukannya.
"Lagian kamu nggak malu, nangis dihadapan dua mbak yang cantik ini?" Kesya menunjuk dua pengawal yang ada dibelakang mereka. Membuat Kinan menundukkan kepalanya. Kinan juga tidak tahu kenapa dia tiba - tiba sensitif seperti itu. Dan kejadian itu malah di saksikan oleh utusan sang suami.
"Udah yok, kita lanjut lagi belanjanya. Aku tidak akan sungkan lagi untuk membeli apa saja. Kalau bisa aku akan membeli semua yang ada di toko ini, ntar dirumah aku bisa jual kembali. Kan lumayan dapat uang banyak." Kesya sengaja mengalihkan pembicaraan, agar Kinan tidak merasa canggung dengan mbak pengawal itu.
Setelahnya mereka kembali melanjutkan acara belanja mereka yang sempat tertunda. Selesai dari bagian baju, mereka lanjut ke bagian tas dan sepatu.
"Kamu nggak capek sayang, dari tadi keliling terus?" Tanya Kevin tiba - tiba, saat dia mendekati sang istri.
"Ehh!" Kinan sedikit kaget dengan kedatangan suaminya yang tiba - tiba. "Nggak capek kok mas. Mas nggak mau beli baju? Mumpung kita udah disini!"
__ADS_1
"Mas udah ambil beberapa potong. Tuh, digabung sama punya Al!" Kevin menunjuk troli yang ada disamping Al, sementara Al masih sibuk memilih beberapa baju. Posisi mereka berjarak beberapa meter dari Al, tapi masih bisa terlihat dalam pandangan mereka. Tadi karena sudah merasa bosan, Kevin dan Al memilih melihat - lihat apa kira - kira yang cocok untuk mereka berdua.
"Iya udah, sini biar aku pilihin lagi untuk mas. Sya, kamu lanjut lagi saja iya, aku mau pilihin baju untuk mas Kevin." Kesya menjawab dengan mengangkat kedua jempolnya.
Setelahnya Kinan menarik tangan suaminya menuju pakaian laki - laki.
"Jalannya pelan - pelan saja, sayang. Nanti kalau kamu jatuh, gimana?" Tentu saja Kevin khawatir dengan cara jalan istrinya yang lumayan cepat.
"Maaf mas!" Kinan malah tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya tanpa dosa.
"Borong yang banyak kak Al, jangan sia - siakan kesempatan yang ada!" Ujar Kinan, begitu Kevin dan Kinan sudah ada didekat Al.
"Tentu saja nona. Untuk apa saya bersama bos, kalau tidak bisa dimanfaatkan!" Al mengedipkan matanya kearah Kevin.
Membuat Kevin mendengus. "Jangan harap aku akan membayar belanjaanmu Al."
"Mas jangan gitu, nanti kalau kak Al ngambek dan minta pulang, gimana? Nggak tiap hari juga kan mas bayarin belanjaan kak Al. Kak Al belanja saja, nanti biar mas Kevin yang bayar."
"Kalau begitu, saya tidak akan sungkan, nona!"
"Kak Al ini, udah dibilangin panggil Kinan saja. Ini masih saja panggil nona terus."
"Kalian masih mau ngobrol atau gimana? Tadi kamu bilang mau pilihin baju buat mas, kenapa sekarang malah ajak ngobrol si Jodi ini!"
"Wah, ada yang cemburu rupanya. Tolong bawa suami anda menjauh dari saya nona, biar saya bisa belanja dengan tenang."
Kinan menggelengkan kepalanya. Kinan sudah tahu kalau Kevin dan Al hanya bercanda. Untuk menghentikan perdebatan keduanya, Kinan menunjukkan kemeja yang cocok untuk sang suami.
"Jangan ambil yang warna pink lagi sayang!" Kevin masih ingat beberapa bulan lalu, saat dia dipaksa sang istri untuk memakai kemeja warna pink.
"Mas tenang saja, aku nggak akan ngambil warna pink." Kevin menghela nafas lega. Dia tersenyum sembari mengacak rambut istrinya. Tapi senyum itu langsung lenyap, saat dia mendengar ucapan istrinya selanjutnya
"Tapi warna kuning dan ungu!"
"Sayang!"
__ADS_1
Kinan tergelak melihat wajah masam suaminya. Kevin hanya bisa pasrah, kala sang istri benaran mengambil warna yang dia sebutkan tadi. Bukan hanya satu, tetapi beberapa warna yang sama, meski modelnya berbeda. Siap - siap saja dia memakai warna - warna yang menurutnya aneh itu.