Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam
Bab 75


__ADS_3

Keesokan harinya terjadi perdebatan antara Kinan dan Kevin. Gimana tidak berdebat, Kevin yang mau pakai baju kerja, kaget melihat baju yang disiapkan sang istri. Bukan Kevin tidak suka, sang istri menyiapkan kebutuhannya. Masalahnya warna kemeja yang dia permasalahkan.


"Jangan macam - macam ya, Ay! Yang benar aja, mas pakai warna itu!"


"Warna ini bangus tahu mas!"


"Bagus apanya? Mas pakai warna yang lain aja ya, Ay?" Kevin memelas, berharap sang istri luluh.


"Nggak boleh. Pokoknya mas harus pakai kemeja itu. Kalau nggak Kinan marah, tidak mau ngomong sama mas!"


"Kenapa sih harus pakai warna itu? Apa kata karyawan kantor nanti, kalau mas pakai itu. Terus kalau mas ketemu klien, gimana?"


"Iya nggak gimana, gimana. Mas kan pakai baju. Lain hal kalau mas nggak pakai baju."


"Mas tetap nggak mau. Apaan pakai warna norak kayak gitu!" Kevin yang sudah melangkah menuju ruang ganti, menghentikan langkahnya, mendengar suara serak sang istri.


"Padahal ini permintaan anak kita. Maafkan mommy ya nak. Mommy nggak bisa mewujudkan keinginanmu. Mommy harap kamu tidak sedih!" Kinan yang duduk di pinggir ranjang, mengusap perutnya. Matanya sudah berkaca - kaca.


Kevin menarik nafas dalam. Setelahnya Kevin mendekati ranjang dan duduk disamping istrinya.


"Iya udah, kalau ini permintaan anak kita, mas akan memakai kemeja itu." Kevin menempelkan tangannya diatas punggung tangan istrinya dan ikut mengusap perutnya.


"Mas yakin?" Kinan menatap suaminya dengan mata berbinar.


"Hmm...." Kevin hanya bisa pasrah, terlebih ketika melihat wajah ceria istrinya. Kevin memeluk sang istri dari samping, lalu mengecup kepala istrinya.


Nanti aku akan minta mommy, untuk pesan warna seperti ini yang banyak. Ditambah warna yang lain juga nggak papa.


Tanpa Kevin tahu, kalau Kinan tersenyum licik. Dia juga sudah membayangkan hal lainnya, yang akan suaminya lakukan. Dimana hal itu sebelumnya, belum pernah dilakukan oleh suaminya. Kinan menjauhkan tubuhnya.


"Kalau gitu, cepat mas pakai baju. Nanti kita kelamaan turun." Kinan membantu memakaikan kemeja suaminya. Hari ini, mas nggak nggak usah pakai jas, kalau mas pakai jas, sama aja dong warna pinknya nggak kelihatan!" Iya, kemeja yang diperdebatkan adalah kemeja warna pink yang dibeli Kinan, waktu dia dan mommy Cella shopping.


"Terserah kamulah Ay! Ngomong - ngomong, dari mana kamu dapat warna seperti ini? Perasaan nggak ada kemeja warna pink dilemari?"


"Kinan yang beli mas!" Kinan tersenyum malu. "Bukan hanya kemeja, dasi juga ada. Ini dasinya!" Kinan menunjukkan dasi yang mau dia pasangkan dileher sang suami. "Besok mas harus pakai warna pink lagi, nanti Kinan mau beli lagi. Supaya besok bisa mas pakai."


"Bukan cuma hari ini, Ay?" Melihat sang istri menggelengkan kepalanya, Kevin menarik nafas dalam. Ternyata penderitaannya berlanjut untuk besok. Iya, menurutnya ini penderitaan, dia yang biasanya memakai pakaian warna gelap, tiba - tiba pakai warna terang. Mana warna pink lagi. Okelah, karyawan kantor tidak akan berani berkomentar. Gimana kalau nanti ada meeting dengan klien, mau ditaruh dimana wajahnya. Mudah - mudahan hari ini tidak ada kunjungan dari sahabat - sahabatnya. Mengingat kebiasaan para sahabatnya yang selalu datang tiba - tiba.


"Apa Kinan bilang, mas Kevin semakin tampan dengan memakai warna ini!" Ujar Kinan, begitu Kinan selesai memasang dasi suaminya. "Kita foto dulu mas." Kinan mengambil ponselnya dari atas nakas.


Kevin tersenyum masam, bukan tampan karena baju ini. Memang udah tampan dari sananya, pikirnya.

__ADS_1


"Senyum dong, mas, jangan cemberut terus!" Kinan yang sudah mengambil beberapa foto suaminya protes.


"Iya Ay!" Kevin tersenyum, bukan tersenyum paksa, tapi tersenyum senang. Karena tiba - tiba melintas suatu ide dipikirannya.


Nanti dikantor kan, aku bisa ganti. Kinan tidak akan tahu. Pas mau pulang baru ganti lagi.


Kevin semakin melebarkan senyumnya. Dia tidak tahu, sebanyak apa istrinya mengambil fotonya, saking senangnya dengan ide itu.


"Cukup mas, tadi aja nggak mau senyum. Sekarang malah senyum - senyum terus."


"Mas senang aja Ay, ternyata pakai warna ini bagus juga." Ucapnya asal.


"Benarkan mas? Mas nggak boleh ganti ya, sampai pulang nanti, mas harus pakai ini. Kinan bisa tahu lho, mas ganti atau tidak! Insting ibu hamil itu kuat mas, jadi jangan coba - coba bohong!"


"Apa!" Senyum yang tadi menghiasi bibirnya hilang entah kemana, mendengar ucapan istrinya.


"Kok teriak sih mas? Mas nggak berniat kan, menggantinya dikantor?"


"Tentu saja tidak Ay!" Kevin yang kaget, mengubah ekspresi wajahnya. "Mas nggak mungkin ganti Ay, mas akan pakai baju ini sampai pulang, sesuai permintaan kamu."


"Baguslah, awas kalau mas ganti. Udah selesai kan mas? Turun yok....!"


Kevin tersenyum kecut, hari yang panjang akan dimulai, pikirnya. Setelahnya keduanya keluar dari kamar.


"Tunggu mas!" Kevin yang mau membuka pintu tidak jadi, karena mendengar suara istrinya.


"Kenapa Ay?"


"Kemarin itu waktu Kinan dan mommy belanja, Kinan menghabiskan banyak uang mas! Tapi Kinan lupa kasih tahu mas Kevin."


"Terus?"


"Mas nggak marah?"


"Marah kenapa Ay? Kalau kamu sanggup, habiskan aja!" Sahut Kevin santai. "Tanpa kamu kasih tahu, mas udah tahu berapa banyak yang kalian habiskan Ay. Kan laporannya ada, mas yakin mommy yang minta belanja sebanyak itu kan?" Dengan sedikit ragu, Kinan mengangguk. Semua belanjaan mereka, mommy Cella yang ambil, Kinan hanya ambil kemeja dan dasi suaminya.


"Kalau kamu pengen sesuatu, beli aja Ay. Nggak usah ditahan - tahan. Kamu pantas menikmati apa yang mas miliki."


"Berarti kalau nanti Kinan belanja lagi, bisa?"


"Hemm.... Memangnya mau belanja apa, hm?"

__ADS_1


"Mau beli kemeja untuk mas Kevin, biar warna pinknya banyak. Kayak kemeja mas yang lain!"


"Lakukan apa yang membuat kamu senang, Ay!" Kevin mengusap kepala istrinya. Mau bilang jangan pun percuma. Jadi terima saja, pikirnya. Setelahnya keduanya keluar dari kamar.


Pak Salman yang menunggu tuan dan nona mudanya turun, menahan senyumnya, begitu melihat warna kemeja yang dipakai tuan mudanya. Bahkan pelayan yang ada disekitar sana, yang lagi mengerjakan pekerjaannya, juga melakukan hal yang sama.


"Selamat pagi tuan dan nona muda!"


"Selamat pagi Pak!" Kinan yang menjawab, Kevin hanya mengangguk. Kevin dan Kinan langsung menuju ke meja makan.


"Uhukkk....uhukkk!" Daddy Marvin yang lagi minum kopi tersedak melihat anaknya yang mendekati meja makan. Bukan kedatangannya yang membuatnya kaget, tapi warna kemeja anaknya itu, yang tidak seperti biasanya.


"Kenapa daddy bisa tersedak?" Mommy Cella yang belum menyadari kedatangan anak dan menantunya bertanya.


"Selamat pagi semuanya!" Ucap Kevin dan Kinan serempak.


"Selamat pagi nak!"


"Ayok du..... Astaga!" Mommy Cella yang awalnya kaget, tersenyum kecil, melihat tampilan anaknya. Pantas saja daddy tersedak, pikirnya. Dia ingat kemeja dan dasi itu, kemeja dan dasi yang dibeli menantunya, waktu mereka shopping. Oma Jeny juga mengulum senyum.


"Mommy suka warna kemejamu, nak!" Ledek mommy Cella.


Kevin tidak menanggapi ledekan sang mommy. Dia menerima piring yang sudah ada isinya, dari tangan sang istri. Kevin menyuapkan makanan kedalam mulutnya, tanpa mempedulikan sekitarnya.


Sementara mommy Cella dan Kinan terkikik. Mommy Cella juga mengacungkan jempolnya kearah menantunya. Tidak lama acara sarapan berakhir. Kini kedua pasangan suami istri itu sudah ada didepan rumah. Sama dengan reaksi yang lainnya, Al yang sudah berdiri disamping mobil, tidak dapat menahan tawanya melihat Kevin. Al baru menghentikan tawanya, ketika Kevin menatapnya dengan tatapan tajam.


"Gitu dong Vin, sekali - sekali pakai warna cerah. Selama ini kamu selalu pakai warna gelap!" Daddy Marvin yang sudah menahan saat di meja makan tadi, bercelatuk, sambil menepuk bahu anaknya. Membuat Kevin mendengus.


"Daddy mau pakai warna kayak gitu juga? Biar besok daddy dan mas Kevin bisa pakai warna yang sama!" Celetuk Kinan.


"Tidak nak, daddy pakai yang ada aja!" Daddy Marvin langsung gelagapan. Setelah itu dia langsung pamit dan masuk mobil. Jangan sampai dia ikut jadi korban. Dia tahu permintaan ibu hamil tidak boleh di abaikan. Menurutnya saat ini, menghindar adalah yang terbaik.


Sedangkan mommy Cella, Kinan dan Kevin tergelak, melihat daddy Marvin yang buru - buru masuk mobil. Setelahnya Kevin masuk mobil setelah memberikan kecupan pada kening dan bibir istrinya. Kevin tidak peduli pada Al yang berdiri disamping pintu. Setelah Kevin duduk, Al mengitari mobil dan duduk dikursi kemudi.


"Lama - lama matamu aku congkel ya, Al!" Kevin tahu, asistennya itu meliriknya dari spion. Meski menahan tawa, Al menjalankan mobil dengan perlahan, keluar dari gerbang mansion.


🌻🌻🌹🌹


Jangan lupa dukungannya ya like, vote dan komen. 😃


Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2