
Diperusahaan William's Company Corp, Kevin yang baru saja menyelesaikan meeting kedua yang dilakukan sore ini sedang uring - uringan diruangannya. Gimana tidak, dia yang harusnya pulang kerumah habis meeting harus tertunda karena sebentar lagi akan mengadakan meeting dadakan. Ada sedikit masalah dengan salah satu devisi yang ada diperusahaan. Ingin Kevin wakilkan dengan daddy atau asistennya, tapi masalah yang ada cukup serius. Bisa - bisanya beberapa data rahasia perusahaan menyebar keluar.
"Anda kenapa sih, tuan? Bukannya kita sudah biasa mengadakan meeting dadakan seperti ini. Ini bukan hal yang pertama!" Al yang sudah bosan melihat tingkah Kevin yang dari tadi menggerutu dan mondar mandir tidak jelas, akhirnya buka suara. Sungguh aneh sikap tuan sekaligus sahabatnya ini, semenjak tahu akan ada meeting dadakan. Biasanya Kevin bersiap biasa saja, tapi sekarang......
"Kamu tidak tahu apa yang aku pikirkan Al. Harusnya aku sudah bisa pulang sekarang. Tapi karena masalah sialan ini, aku harus tertahan disini. Ini udah hampir jam tujuh, jam berapa lagi aku pulang kerumah?" Ketusnya, sambil mendudukkan bokongnya dengan kasar disofa.
Al menepuk keningnya. Jadi karena masalah pulang yang bikin Kevin uring - uringan dari tadi. Al pikir ada masalah yang lain. "Kita kan udah biasa pulang malam tuan. Bahkan kita pernah beberapa kali nggak pulang dan memilih tidur dikantor. Tapi sekarang, kenapa tuan bersikap seolah - olah ini adalah hal yang pertama."
"Sekali lagi kamu panggil tuan, aku lempar kamu dari jendela itu!"
"Yang diomongin apa, yang dijawab apa. Biasanya juga panggil 'tuan'. Kenapa sekarang dipermasalahkan?" Gumam Al sepelan mungkin.
"Maafkan saya tuan, maksudku, Vin!" Al langsung meralat ucapannya, saat Kevin melototkan matanya. "Kenapa kamu mempermasalahkan itu?" Akhirnya Al memilih berbicara santai, dari pada dilempar dari gedung ini, pikirnya. "Ini belum jam tujuh, paling nanti meeting sekitar dua jam atau lebih dikit. Paling lama kita sudah pulang jam sepuluh. Kenapa harus bersikap berlebihan seperti itu?"
"Kamu mana ngerti, kamu kan Jodi!"
"Kenapa malah bahas status sih?" Tidak salah lagi, Kevin harus segera dibawa kerumah sakit. Takutnya penyakitnya tambah parah. Kevin tidak nyambung diajak bicara. Dengan polosnya Al mengambil ponselnya yang dia letakkan diatas meja, dan mencari no seseorang.
"Kamu mau nelpon siapa?"
"Aku mau nelpon dokter pribadi keluarga William!"
"Untuk apa kamu menelpon dokter?"
__ADS_1
"Untuk periksa kamulah, apa lagi!"
"Kamu pikir aku sakit!"
"Bukannya iya? Dari tadi aku tanya apa, kamu jawab apa. Kan aneh, kamu harus diperiksa."
"Kamu jangan macam - macam. Aku tidak sakit."
"Kalau tidak sakit, kenapa dari tadi mempermasalahkan yang mau meeting dadakan, juga pulang?"
"Kalau aku pulang lama, berarti aku nggak bisa mendapat hadiahku dodol. Kalau kita pulang lama, takutnya istriku tidur duluan. Udah kubilang, kamu Jodi mana ngerti. Coba cek sana, mereka udah kumpul atau nggak diruang meeting. Lebih cepat meeting lebih baik!"
Sementara Al melongo mendengar alasan Kevin. Jadi karena hadiah nona mudanya. Alasan apa itu, kalau tidak bisa malam ini, kan masih ada malam yang lain. Kapan pun mereka bisa melakukannya, pikirnya.
"Mereka sudah kumpul semua, kita bisa ke sana sekarang!" Tanpa berlama - lama, keduanya keluar dari ruangan Kevin. Mereka masuk lift dan turun dua lantai dari ruangan Kevin, tempat meeting diadakan. Semua yang ada diruangan serempak berdiri, saat melihat siapa yang datang. Kevin dan Al duduk didepan. Mereka duduk kembali, ketika Al memberi kode. Salah satu staf memberikan map pada Al. Al menerima dan membacanya sebentar, lalu memberikannya pada Kevin.
Kevin juga melakukan hal yang sama. Dia membuka dan membolak - balikkan isinya. Setelah beberapa saat, Kevin meletakkan map dengan kasar. Terdengar helaan nafasnya.
"Kalian sudah bosan kerja disini? Atau sudah bosan hidup?" Kevin mengarahkan pandangannya ke lima orang yang ada dihadapannya, yang sedang menundukkan kepalanya.
"Apa gaji yang diberikan perusahaan ini kurang, sehingga kalian menjual rahasia perusahaan pada orang lain? Kalian tidak bisu kan? Kalau sudah ketahuan, kalian jadi tuli dan bisu."
Salah satu dari kelima orang itu, berdiri dan langsung berlutut dikaki Kevin. Bahkan Kevin sempat kaget, tapi dia langsung mengubah ekspresi wajahnya. "Maafkan kami tuan, kami mengaku salah. Tolong jangan pecat kami tuan. Keluarga kami mau makan apa, kalau kami dipecat tuan?"
__ADS_1
"Ck, kamu pikir aku sebaik itu?" Kevin mengetuk - ngetukkan tangannya dimeja. "Bukan hanya dipecat, tapi kalian harus dipenjara. Atau kalian pengen merasakan bagaimana aku memperlakukan orang yang berkhianat, tanpa melibatkan polisi?" Kevin menyeringai melihat wajah yang ketakutan didepannya.
"Kalau sudah ketahuan, kalian baru memikirkan keluarga?"
"Ampuni kami tuan, tolong ampuni kami!"
"Baiklah, kita akan selesaikan ini dengan cepat!" Setelah memberikan hukuman bagi kelima orang itu. Kevin memanggil bagian IT perusahaan. Untuk memulihkan beberapa data - data yang tersebar keluar. Butuh waktu yang lumayan lama untuk menyelesaikan semuanya. Hingga tidak terasa, sudah jam sepuluh malam, mereka semua keluar dari ruang meeting.
Kevin kembali ke ruangannya. Hanya beberapa menit dia keluar dan mendapati Al sudah berdiri didepan ruangannya. Tidak ada yang bersuara, sampai keduanya sudah keluar dari gerbang perusahaan. Jalanan yang mulai sepi, memuluskan mereka untuk sampai ke mansion.
"Sekarang waktunya minta hadiah!" Celutuk Al, sembari melirik Kevin dari spion. Kini mobil yang dikemudikan Al sudah melewati gerbang mansion. Kevin menendang kursi kemudi mendengar celutukkan Al.
"Kamu nggak usah pulang, Al. Tidur disini aja." Al mengangguk sebagai jawaban. Setelah mobil berhenti, Kevin bergegas turun, sebelum Al membuka pintu. Sudah ada Pak Salman menyambut mereka disana.
"Selamat malam tuan muda!" Kevin hanya mengangguk.
"Oh iya Al, besok pagi kamu duluan berangkat ke kantor. Kamu nggak usah nunggu aku. Kemungkinan aku akan berangkat siang!"
"Ingat batasan, Vin. Nona muda lagi hamil, jangan dibuat kecapean." Al menaik - turunkan alisnya, menggoda Kevin.
"Jangan sok ngajarin. Tahu apa kamu masalah gituan, pacar aja kamu tidak punya." Ledek Kevin, Kevin melanjutkan langkahnya masuk rumah, tanpa memperdulikan Al yang berwajah masam.
Sementara Pak Salman tersenyum kecil, melihat perdebatan tuannya. Dia juga mengikuti langkah tuannya.
__ADS_1