
Sementara Kinan yang ada di paviliun belakang tidak bisa berkata - kata. Tapi jauh di lubuk hatinya, dia senang dengan pengakuan suaminya. Iya, tanpa disadari oleh Kevin dan yang lainnya, Kinan mendengarkan semua pembicaraan mereka diruang keluarga melalui sambungan telepon yang sengaja mommy Cella sambungankan pada Kinan. Sebenarnya Kevin sudah sering mengatakan perasaannya pada Kinan, tapi Kinan tidak menyangka kalau suaminya mengakui perasaannya pada Kinan, didepan mommy Cella. Membuat Kinan ingin berlari memeluk sang suami.
"Cie....cie.... Senang ya dapat pengakuan cinta dari suamimu?" Kesya yang ikut mendengar meledek Kinan. Membuat Kinan tersadar.
"Apaan sih!" Kinan tersipu malu, dia menunduk sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Membuat Kesya semakin meledeknya.
"Lihat wajahmu Kin, udah semerah apa itu. Pake malu segala, yang ada malu - maluin ntar. Coba periksa jantungmu, Kin?"
"Eh, ada apa dengan jantungku? Kinan yang tadinya menunduk, mendongak dan memegang dadanya.
"Siapa tahu jantungmu copot mendengar pengakuan suamimu tadi?" Kesya mengedipkan matanya.
"Nggak lucu!" Kinan mendengus.
"Wajar nggak lucu, aku kan nggak lagi ngelawak."
"Ishhhh....." Kinan yang tidak mau meladeni Kesya, memilih membuka bungkusan keripik bayam yang ada didepannya.
"Eh, ngomong - ngomong kamu nggak pengen menemui suamimu, saat mendengar yang tadi?"
"Pengen sih, tapi kalau aku kesana, ketahuan dong kalau kita disini! Lagian ini bukan pertama kalinya mas Kevin mengakui perasaannya."
"Maksudnya?"
"Mas Kevin udah sering mengatakan itu, Sya."
"Oh iya? Berarti kalian udah saling tahu isi hati masing - masing dong?"
__ADS_1
"Nggak lah, aku belum pernah membalas. Dan mas Kevin tidak memaksa, katanya mas Kevin akan sabar menunggu kapan aku membalas perasaannya."
"Wow, ternyata tuan Kevin sudah takluk dengan pesona seorang Kinan Anastasya!" Seru Kesya antusias. "Memangnya kamu tidak mencintai suamimu, Kin? Aku tahu, tidak gampang melupakan kejadian waktu itu. Tapi sepertinya tuan Kevin sudah berubah, terlihat bagaimana tuan Kevin memperlakukan kamu. Masa kamu nggak berdebar - debat sih berada didekat tuan Kevin?"
"Nggak, biasa saja!" Kinan mengarahkan pandangannya kearah lain, tidak mau bertatapan dengan Kesya.
"Di mulut kamu bisa bilang biasa saja, tapi dihatimu beda. Kamu nggak usah bohong sama aku, Kin! Jujur saja napa sih?" Kesya menaik turunkan alisnya menggoda Kinan.
"Benaran kok, aku tidak mencintai mas Kevin!" Sahut Kinan dengan pelan, karena ucapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Tidak bisa dipungkiri kalau dia juga sudah mencintai suaminya dari jauh - jauh hari. Gimana tidak cinta, setiap hari mereka bersama, bahkan Kinan yang mempersiapkan segala kebutuhannya, jangan lupakan dengan tidur di ranjang yang sama. Tapi Kinan tidak mau mengakuinya langsung, cukup dia melayani suaminya dengan baik. Suaminya pasti tahu, gimana perasaan Kinan yang sebenarnya. Bukan tanpa alasan, Kinan tidak mengungkapkannya, Kinan hanya menunggu momen yang tepat.
"Terserah kamulah, itu hak kamu. Nggak mungkin aku paksa kamu untuk mencintai suamimu kan?" Kesya tersenyum geli melihat Kinan. Meski Kinan mengelak, tapi Kesya yakin kalau Kinan sudah mencintai suaminya. Terlihat dari Kinan yang tersipu dan wajah merah. Mungkin Kinan punya alasan kenapa dia masih mengulur waktu untuk menyatakan perasaannya pada suaminya.
"Udah ah, aku mau mandi, dari tadi kita ngemil terus. Bisa - bisa pulang dari sini timbanganku naik dua kali lipat!" Ucap Kesya, sembari beranjak dari duduknya. Tapi tangannya tetap mencomot keripik yang ada ditangan Kinan, seolah dia lupa kalau baru saja dia membahas mengenai berat badan. Membuat Kinan mendelik pada sahabatnya itu.
*****
"Kamu itu cacingan atau apa sih Kin? Dari tadi grusak - grusuk kayak gitu?"
Kinan tidak langsung menjawab, dia lebih dulu mendudukkan tubuhnya ditengah ranjang. "Aku nggak bisa tidur!" Lirihnya.
Kesya mengerutkan keningnya. "Bukannya tadi kita sama tidurnya?"
"Iya, tapi tidak lama, aku langsung bangun. Aku udah coba paksain tutup mata, tetap saja nggak bisa tidur. Aku sampai iri lihat kamu, tidurnya pulas banget. Makanya bolak - balik ganti posisi, tapi sama saja nggak bisa tidur!" Keluh Kinan.
"Kamu lapar apa gimana? Kamu bilang, kalau tengah malam kamu biasa bangun karena lapar kan? Jam berapa sih ini? Eh, baru setengah satu rupanya." Ucap Kesya, ketika dia melirik kearah jam yang ada didinding.
"Aku nggak lapar, Sya, tapi...tapi aku kangen sama mas Kevin. Biasanya kalau tidur, mas Kevin selalu memelukku." Suara Kinan terdengar serak, karena menahan tangis, dia menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Sementara Kesya terbengong dengan ucapan Kinan. Apa ini bawaan bayi, belum sehari mereka berjauhan udah kangen, pikirnya. Kesya tersadar dari lamunannya saat mendengar suara isakan. Bergegas Kesya menghampiri Kinan dan membawanya kedalam pelukannya. Membuat Kinan semakin menangis, dia menumpahkan tangisannya didalam pelukan Kesya. Dengan sabar, Kesya mengusap - usap punggung Kinan.
Yang begini katanya tidak cinta. Tapi baru pisah bentar udah nangis - nangis. Dasar ibu hamil gengsian.
Kesya terkikik geli melihat tingkah Kinan. Padahal Kinan yang ngotot untuk mengerjai suaminya dengan pergi dari rumah, tapi Kinan sendiri yang tersiksa karena jauh dari suaminya. Setelah beberapa saat, tidak terdengar lagi tangisan Kinan, meski masih terlihat sesunggukan. Kesya melepaskan pelukannya dan menggenggam kedua tangan Kinan.
"Jadi sekarang maunya gimana, kamu mau menyelinap masuk kekamar kalian?" Kinan menggelengkan kepalanya.
"Terus mau apa dong? Kamu lho yang punya ide ini, padahal. Kalau memang kamu tidak kuat berjauhan dengan suamimu, tinggal sudahi saja acara kabur - kaburan ini, dari pada bikin diri sendiri susah."
"Aku memang kangen pada mas Kevin, dan tidak bisa tidur kalau tidak dipeluk. Tapi aku juga nggak mau pulang sekarang." Ucap Kinan pelan.
"Dasar bumil, ada - ada saja tingkahnya. Jadi kita mau ngapain ini? Atau kita nonton saja?"
"Aku tahu!" Seru Kinan heboh, bahkan dia sudah terlihat ceria kembali. Membuat Kesya takjub melihatnya, kemana Kinan yang barusan nangis, pikirnya. "Tolong ambilkan ponselku, Sya?" Meskipun Kesya bingung, tapi tak urung dia menuruti keinginan Kinan. Dia turun dari atas ranjang dan mengambil ponsel Kinan dari atas meja.
"Kamu mau hubungi suamimu?" Tanya Kesya, sembari memberikan ponsel Kinan. Kinan menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidur saja Sya, maaf udah mengganggu tidurmu. Aku mau nonton video waktu mas Kevin belanja kepasar sama waktu masak kemarin itu!" Kinan mengubah posisinya menjadi bersandar dikepala ranjang.
"Nontonnya sambil tiduran saja, siapa tahu habis nonton video itu, kamu bisa tidur nanti." Kinan membenarkan ucapan Kesya, dia pun membaringkan tubuhnya dan mulai menonton video suaminya.
"Lucu banget sih mas Kevin, waktu milihin sayurannya!"
Kesya menggelengkan kepalanya, apa setiap ibu hamil seperti ini? Tadi aja nangis - nangis, sekarang malah senyum - senyum sendiri, pikirnya. Kesya membiarkan Kinan dengan kesenangannya, sementara dia memilih tidur. Dia masih ngantuk, saudara!
Tidak tahu berapa kali Kinan memutar video suaminya, sampai dia tertidur dengan sebuah senyuman manis masih tersungging di bibirnya.
__ADS_1