Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Alasan Tersendiri


__ADS_3

Rian membawa Alya agak jauh dari tempat mereka sarapan tadi. Setelah dirasa agak jauh, Rian pun melepaskan lengan tangan Alya, dan kini mereka saling berhadapan satu sama lain.


“Lo gak malu ngomong begitu pas banyak orang-orang tadi?” tanya Rian, Alya terdiam karena tanpa ia mengatakannya pun, ia sudah sangat malu melihat tatapan mereka ke arahnya tadi.


Untung saja mereka tidak mengenali Alya dengan jelas.


Rian menghela napasnya dengan panjang. Ia tidak bermaksud untuk membuat Alya marah, dengan perkataannya yang seperti itu padanya.


“Maaf, gue gak maksud bikin lo marah. Gue cuma khawatir loe marah sama gue, kalau mereka sampai ngehina lo karena deket sama waria kayak gue,” ucap Rian, sontak membuat Alya mendelik kaget mendengarnya.


Alya merasa sangat kaget, karena ternyata Rian sampai memikirkan hal seperti itu demi dirinya. Ia memang merasa malu karena dekat dengan seorang waria seperti Rian, tetapi ia sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Ia tidak ingin melukai perasaan Rian, hanya saja ... ia tidak ingin ada kaitannya dengan Rian.


“Kenapa lo ngomongnya gitu? Lo masih mikirin gue? Kenapa lo gak mikirin diri lo sendiri?” tanya Alya, Rian hanya bisa diam mendengarnya.


Sejenak Rian berpikir tentang apa yang Alya katakan, tetapi ia sama sekali tidak bisa menjawabnya. Ia merasa khawatir, Alya sampai malu karena dekat dengan dirinya.


Alya memandang Rian dengan dalam, “Gue sama sekali gak mau deket sama lo, Rian. Entah lo itu siapa, dan lo itu bagaimana, gue gak peduli. Gue gak mau deket sama lo, apalagi jadi istri lo,” ucapnya dengan nada yang rendah, membuat Rian memandangnya dengan bingung.


Perasaannya kini campur aduk, entah kenapa dirinya merasa tidak nyaman ketika Alya mengatakan hal seperti itu padanya. Mungkin karena pertolongan Alya malam itu sangat membekas di hatinya, membuatnya menjadi sangat berterimakasih dengan Alya, dan ingin terus dekat dengannya. Namun, lagi-lagi ia dilema dengan dirinya yang seperti ini, ditambah lagi dengan ucapan Alya yang seperti itu padanya.


Rian menatapnya dengan dalam, “Jadi, gue harus gimana?” tanyanya.

__ADS_1


“Lo tinggal bilang talak ke gue, urusan beres. Gue gak mau jadi istri orang yang sama sekali gak gue sayang. Apalagi, lo sama gue baru aja ketemu tadi malam. Gue beneran gak bisa nerima lo. Gue sama sekali gak ada rasa sama lo. Gue harap, lo bisa ngerti apa yang gue maksud,” ucap Alya menjelaskan panjang lebar kepada Rian.


Rian menghela napasnya dengan panjang. Memang benar yang ia pikirkan, mempertahankan tidak semudah mendapatkan. Ia merasa sangat menyayangkan hubungan ini, jika memang benar dirinya akan menalak Alya nantinya.


“Jadi, lo mau gue nalak lo?” tanya Rian, Alya mengangguk kecil mendengarnya. “Itu tandanya, lo siap jadi janda?” tanyanya lagi, membuat Alya seketika terdiam mendengarnya.


Alya benar-benar tidak memikirkan hal itu. Seumur hidupnya, ia merasa tidak ingin menyandang predikat seperti itu, dengan cara perceraian.


Banyak sekali artis papan atas yang mempermainkan pernikahan, hanya demi popularitas mereka. Mereka menikah dengan pasangannya, sehingga menjadi perbincangan hangat pada saat itu. Mereka mulai melakukan hal yang bisa membuat berita mereka naik, dan dikonsumsi publik dengan mudahnya, sehingga mereka bisa dengan mudah juga mendapatkan income dengan menjual hubungan mereka ke publik. Setelah berita tentang mereka karam, mereka pun mulai kembali membuat sensasi yang menghebohkan, dengan jalur drama kemudian menuju ke perceraian.


Untuk beberapa saat, mungkin berita tersebut bisa menaikkan ketenaran mereka, sebelum akhirnya mereka kembali mencari pasangan untuk membuat sensasi di dalam hidup mereka lagi. Itu pasti akan menyita perhatian publik, untuk sementara waktu.


Alya terdiam merenung, tak bisa lagi berkata-kata. Rian memandangnya dengan bingung, karena Alya sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.


“Gue gak mau jadi istri lo, gue juga gak mau jadi janda.”


Mendengar ucapan dan penjelasan Alya yang singkat, Rian pun mengerti dengan keadaan dan situasi Alya yang sepertinya sangat dilema. Rian menghela napasnya, karena ia juga memiliki alasan tersendiri untuk mempertahankan hubungan yang tidak jelas ini, bersama dengan Alya.


“Jadi lo punya alasan untuk itu? Sama, gue juga punya alasan sendiri, kenapa gue gak asal ucap talak ke lo,” ucap Rian, membuat Alya merasa sangat penasaran mendengarnya.


“Apa alasannya?” tanya Alya.

__ADS_1


“Ada ... nanti lo juga bakal tau,” jawab Rian, menggantungkan topik pembicaraan yang sedang mereka bicarakan.


Karena tidak tahu lagi harus berkata apa, mereka hanya bisa diam dengan keadaan yang sangat canggung. Mereka sama-sama tidak berkata apa pun, membuat suasana ini menjadi sangat tidak nyaman. Apalagi, saat ini mereka yang sedang berada di tengah hutan, pasti akan membuat semua orang salah paham lagi terhadap mereka.


Rian memandang ke arah Alya, “Kalau lo sama gue, sama-sama punya alasan untuk gak mengakhiri hubungan ini, gimana ... kalau kita jalanin hubungan ini dulu?” tawar Rian, sontak membuat Alya mendelik kaget mendengarnya.


“Apa?! Jalanin hubungan ini sama lo?!” pekik Alya, yang tidak habis pikir jadinya seperti apa.


Alya sudah berpikiran macam-macam, sampai ia merasa tremor memikirkannya.


Menjalani kehidupan pernikahan dengan orang yang sama sekali tidak Alya cintai, membuat perasaan hatinya menjadi bimbang dan ragu.


‘Kalau gue beneran jalanin hubungan sebagai suami istri sama waria ini, gimana? Nanti ... siapa yang akan memperkosa siapa?!’ batinnya yang sudah berpikiran aneh terhadap hubungan mereka itu.


Tiba-tiba saja, terbayang di benak Alya tentang mereka yang sudah sama-sama menerima keadaan. Di benaknya, Alya dan Rian sedang berada di sebuah kamar yang entah milik siapa itu. Mereka sama-sama salah tingkah, sambil berusaha untuk duduk bersebelahan.


Mereka saling melempar pandangan, dengan senyuman yang selalu terukir pada wajah mereka. Senyuman malu-malu itu sangat jelas terlihat, dari sikap mereka yang sama-sama malu di hadapan satu sama lain.


Beberapa saat berlalu, tetapi mereka hanya bisa saling melempar pandangan dan senyuman, membuat Alya yang tidak sabaran mereka sedikit kesal menunggu tindakan Rian pada malam pertama mereka itu.


‘Duh ... dia kenapa diem aja, sih? Malah senyum-senyum gak jelas, bikin orang kesel!’ batin Alya, yang merasa sedikit kesal, karena sudah menunggu terlalu lama untuk memulai pertempuran yang sangat seru baginya.

__ADS_1


Tak hanya Alya, Rian pun sama-sama sedang menunggu reaksi Alya terhadapnya. Ia memandang Alya, memperhatikan gerak-gerik dan ekspresi Alya yang sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda apa pun untuk memulai kegiatan mengasyikan itu.


‘Dia kok diem aja, sih? Kenapa gak nyentuh gue duluan? Dari tadi padahal udah gue kasih kode,’ batin Rian, yang malah menunggu tindakan Alya terhadapnya.


__ADS_2