
Rian menunggu lift ini turun ke lantai dasar gedung ini. Ia sudah memakai masker dan topi milik Alya sebelumnya, berjaga-jaga jika ada wartawan yang mengenalinya.
Wajahnya yang putih bersih, membuatnya tidak membutuhkan makeup apa pun, untuk menunjang penampilannya. Ia sudah sangat percaya diri, hanya dengan menggunakan celana pendek, masker hitam dan juga topi hitam.
Rian sudah sampai di lantai dasar gedung ini. Ia melangkah dengan hati-hati, sembari melirik ke segala arah.
Dari arah pintu gedung, sudah terlihat banyak sekali orang yang membawa kamera. Dapat dipastikan kalau mereka adalah para wartawan yang hendak bertanya kepada Alya, tentang trending topic yang ada saat ini.
Rian menghela napasnya dengan panjang, ‘Bener, ternyata banyak banget wartawan yang udah ada di gedung ini. Untung pakai masker sama topi,’ batinnya, sembari tetap melangkah keluar gedung, dan membenarkan topinya.
Berbekal informasi yang diberikan Alya, Rian melangkah menuju ke gedung yang berada di seberang gedung ini. Ia melihat ada mini market berwarna biru merah dengan logo yang sangat familiar.
Karena tidak bisa membaca tulis, Rian hanya bisa mengandalkan apa yang ia lihat saja.
__ADS_1
“Oh ... ini mungkin ya?” gumamnya bertanya-tanya.
Rian pun masuk ke dalam mini market tersebut. Ia melihat makanan yang tersusun pada rak tersebut, yang terlihat sangat rapi. Rian baru pertama kali masuk ke mini market seperti ini, membuatnya tidak menyangka ada tempat senyaman ini untuk berbelanja.
“Wah ... di desa belum ada yang begini. Sekalipun ada, gue gak akan bisa masuk karena gak punya duit,” gumam Rian, sembari melihat-lihat ke arah makanan yang banyak tersebut.
Rian merasa senang, karena ia bisa melihat makanan yang baru pertama kali ia lihat. Ia mengabsen satu per satu makanan tersebut, sembari mencari keberadaan mi instan yang ingin ia beli.
Setelah selesai bermain-main di mini market, Rian yang sudah mendapatkan apa yang ia inginkan, segera pergi dari sana untuk kembali ke ruangan apartemennya.
Baru saja tiga langkah keluar dari mini market tersebut, pandangannya terasa sangat gelap. Kedua tangan dan kakinya seperti sedang dipegangi beberapa orang, tubuhnya diangkat dan dibawa pergi ke suatu tempat.
Walaupun sudah memberontak, Rian sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari orang-orang tersebut.
__ADS_1
“Lepasin!” teriak Rian, tetapi mereka sama sekali tidak melepaskan Rian.
Mereka membawanya ke sebuah tempat, lalu meletakkan Rian di atas aspal, yang kepalanya sudah tertutup sebuah karung. Mereka melancarkan aksinya, dengan memukuli dan mengeroyok Rian.
“Ah!!” teriak Rian, yang merintih kesakitan karena menerima pukulan mereka pada tubuhnya.
Pukulan tersebut terasa sangat menyakitan, apalagi yang memukulinya tidak hanya satu orang.
Rian sudah terlihat lemas, sehingga tidak bisa lagi berteriak atau memberontak. Ia benar-benar tidak bisa melakukan apa pun lagi saat ini.
Melihat Rian yang sudah tidak bisa melakukan apa pun, mereka pun menghentikan semua yang mereka lakukan pada Rian.
Seseorang yang diketahui adalah Dion, menatap tajam dan sinis ke arah Rian yang sudah terkapar lemas di sana. Ia masih belum puas, tetapi Rian sudah terlanjur terkapar lemas di atas aspal, sehingga membuat hasrat Dion menghajarnya menjadi tertahan.
__ADS_1