
Setelah selesai membilas tubuhnya, Alya segera masuk ke dalam kamarnya. Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang Nenek berikan padanya, yang terkesan sangat kuno baginya yang terkenal sangat stylish. Ia mau memakai pakaian itu, karena pakaian yang Nenek berikan itu adalah pakaian yang milik mendiang ibunya. Nenek hanya menyimpan satu pasang pakaian ibunya, sebagai kenang-kenangan untuk dirinya. Sementara pakaian yang lain sudah dibagikan ke orang lain, karena sebuah tradisi di kampung tersebut.
“Pakaian Mama kok begini ya dulu? Apa Mama sebelumnya emang gadis asli kampung sini, makanya pakai pakaian yang begini?” gumam Alya, yang masih belum mengetahui cerita yang sebenarnya.
Alya memandang ke arah tubuhnya dari cermin, melihat setiap sisi pakaian kuno yang ia pakai pada tubuh montoknya itu. Karena baju yang mirip kebaya itu satu ukuran di bawah baju yang biasa Alya pakai, ia merasa sedikit sesak ketika memakai pakaian tersebut.
“Duh ... sempit banget, ya? Jadi kelihatan ngetat gini. Baju Nenek gak ada kaus atau dress, ya? Kenapa harus baju yang kayak kebaya plus kainnya begini? Gue kayak kembang desa kalau begini,” gumam Alya, sembari memandang ke arah lekuk tubuhnya yang terlihat sedikit seksi karena ukuran yang sedikit kecil.
Alya merapikan rambutnya yang masih tergerai, kemudian segera mengepang belakang rambutnya itu, membuat penampilannya menjadi semakin mirip gadis desa.
“Karena pake baju begini, mending sekalian aja ikat rambut kepang begini! Jadi beneran kayak gadis desa, ‘kan!” gumam Alya, sembari tetap mengepang rambutnya yang cukup panjang itu.
Setelah selesai mengepang rambutnya yang panjang, Alya segera melihat kembali ke arah dirinya di hadapan cermin besar di kamar Nenek. Ia merasa dirinya saat ini, sangat berbeda dengan dirinya yang biasa memakai pakaian yang sangat mewah di lokasi syuting. Apalagi saat ada acara penghargaan atau pertemuan resmi.
Kalau ia tidak pergi secara tiba-tiba malam itu, mungkin ia sudah bisa mengemas pakaiannya sendiri dan tidak akan memakai pakaian yang Nenek berikan.
“Eh, beda banget!” gumam Alya yang merasa sangat lucu melihat dirinya di cermin saat ini.
Dengan sangat antusias, Alya pun segera merogoh handphone-nya di dalam tasnya. Ia ingin sekali memotret dirinya, yang sedang memakai pakaian ibunya itu. Ia ingin melihat dirinya ketika memakai pakaian yang sekuno ini.
Ketika Alya hendak memotret tubuhnya pada cermin, ia terhenti karena melihat beberapa pesan singkat dari Dion yang ternyata baru saja masuk ke pesan masuknya. Alya teringat, signal di sini yang sangat sulit, sehingga terkadang ia tidak bisa menggunakan telepon selular dengan benar.
Walaupun merasa sendu, tetapi Alya mengabaikan pesan singkat tersebut dan meneruskan niatnya untuk memotret tubuhnya yang menggunakan pakaian kuno seperti ini.
__ADS_1
CKREK!
Satu foto sudah terambil di album foto kamera handphone-nya. Ia melihat hasilnya, dan tersenyum karena melihat dirinya yang sangat berbeda jauh dari dirinya biasanya.
“Beda banget, gak seperti Alya biasanya,” gumamnya, dengan senyuman yang masih melekat di pipinya.
Walaupun sudah mengabaikan pesan singkat dari Dion, Alya tetap saja masih merasa sangat penasaran dengan pesan apa yang Dion kirimkan padanya. Akhirnya ia menghela napasnya dengan panjang, kemudian membuka pesan singkat tersebut.
“Lo di mana? Pulang sekarang, atau gue jemput paksa ke sana!”
“Alya, produser udah kasih tenggang waktu cuti buat lo selama seminggu. Ini hari pertama lo cuti, jangan bikin malu gue!”
“Kita masih harus syuting acara yang lagi berjalan. Masih ada sisa 1 bulan untuk lo selesaikan. Gue gak mau tau, ya! Lo gak boleh batalin projek sisa 1 bulan ini!”
‘Waktunya masih ada 6 hari lagi, bukan? Harus bener-bener refresh pikiran, biar gak spaneng!’ batin Alya, yang merasa harus memanfaatkan waktu.
Mumpung masih ada di tempat ini.
‘Besok gue harus liat-liat pemandangan buat refresh pikiran. Gue harus ke gunung besok,’ batin Alya, yang merasa harus memanfaatkan waktu sebisa mungkin, sebelum kembali bekerja dengan sibuknya.
“Alya!” panggil seseorang dari arah pintu kamar tersebut, yang diketahui adalah Rian.
Rian tidak berani masuk, hanya berdiri di hadapan pintu kamar yang tertutup tirai kain yang sederhana. Ia tidak ingin mengganggu privasi Alya.
__ADS_1
“Kenapa, Yan?” tanya Alya yang berteriak agak keras dari dalam kamar.
“Nenek minta lo temenin dia ngobrol.”
Mendengar jawaban Rian, Alya merasa harus bisa mengisi waktu kosongnya dengan banyak-banyak menemani Nenek berbincang. Ia mengerti, tidak selamanya ia bisa menemani berbicara Nenek yang sudah tidak muda lagi.
“Ya, sebentar. Duluan aja,” ucap Alya, membuat Rian mengerti dengan maksudnya.
“Oke, gue tunggu di ruang tamu.” Rian pun pergi dari arah kamar Alya, menuju ke ruangan tamu untuk menemani Nenek lebih dulu.
Alya menghela napasnya dengan panjang, karena ia melihat wajahnya yang baru satu hari tidak ia rawat, yang ternyata sudah terasa tidak enak. Sudah menjadi sebuah rutinitas baginya, untuk merawat wajahnya menggunakan produk skincare yang ia miliki. Namun, ketika ia melarikan diri dari lokasi syuting, ia tidak sempat membawa produk skincare miliknya. Jangankan skincare, baju dan pakaian dalam pun tidak ia bawa.
“Muka gue gak keurus, baju gak bawa, pakaian dalem gak bawa, makeup juga gak bawa! Bener-bener jadi gadis desa selama seminggu kalau begini caranya,” gumam Alya, sembari memegangi wajahnya dan memperhatikan dari arah cermin.
Alya tersadar, dan lekas menuju ke arah ruangan tamu untuk menemui dan menemani Nenek berbincang.
Saat sudah berhadapan dengan Nenek, Alya pun tersenyum di hadapan Nenek.
“Nenek,” sapa Alya, membuat Rian yang duduk membelakanginya menjadi menoleh ke arahnya.
Pandangan mata Rian sejenak membeku karena melihat pakaian yang Alya kenakan, dan juga wajah Alya yang tanpa polesan makeup sama sekali. Apalagi ditambah dengan rambut Alya yang dikepang, semakin mendukung penampilan Alya di hadapannya.
Rian benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia hanya bisa memandang ke arah Alya, yang ada di hadapannya itu. Wajah Alya yang tanpa menggunakan riasan, semakin membuat Rian merasa sangat tertarik dengan penampilan Alya yang seperti ini, dibandingkan dengan waktu pertama kali mereka bertemu.
__ADS_1
‘Dia lebih cantik kalau gak dandan, dan pakai pakaian yang begini sederhana. Ini lebih baik daripada saat pertama kita ketemu. Pakaiannya yang aneh, dan juga riasan makeup yang sudah luntur, bikin aku jadi setengah sadar melihat dia,’ batin Rian, yang merasa hanya memandang Alya sebelah mata, ketika saat pertama kali mereka bertemu.