
Alya mengangguk kecil, “Ya, gue itu artis. Ya tapi gue udah menduga sih, lo gak akan kenal sama gue. Gue juga gak mau ngasih tau ke lo sebenernya, tapi berhubung lo harus tau kebenaranya, jadi gue terpaksa bilang ke lo soal ini,” ucapnya menjelaskan, agar tidak terjadi kesalahpahaman nantinya.
Rian terdiam sejenak, berusaha untuk menerima keadaan yang sama sekali tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ia menunduk, memikirkan hal ini seorang diri.
‘Gue nikah sama ... artis? Mimpi apa gue semalem?’ batin Rian, yang merasa sangat aneh dengan keadaan ini.
***
Karena Alya yang harus kembali melakukan pekerjaannya, mereka berpamitan kepada nenek siang itu juga. Alya tidak ingin terburu-buru besok, sampai tidak bisa beristirahat sebelum memulai kembali pekerjaannya.
Berat hati Alya untuk meninggalkan nenek seorang diri di sini, tetapi mau bagaimana lagi, ia harus kembali beraktivitas seperti sebelumnya.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan nenek, Alya dan Rian segera menuju ke kota. Alya sangat bingung, karena tidak pernah terpikirkan tentang Rian dan Dion yang tentu saja nantinya akan bertemu.
Sebelum mereka bertemu, Alya menyiasati untuk mendandani Rian terlebih dahulu. Ia tidak ingin, Rian menjadi tidak percaya diri, karena berhadapan dengan Dion nantinya. Biar bagaimanapun juga, Dion adalah sosok lelaki yang sangat tampan. Perawakannya yang tinggi, serta kulitnya yang putih, membuatnya lebih terlihat seperti seorang wanita.
Sebenarnya Rian juga sangat tampan, bilan berdandan seperti seorang lelaki. Hanya saja, pakaiannya yang sederhana, yang membuat aura ketampanannya tidak terpancar sama sekali.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu kurang lebih lima jam lamanya, mereka akhirnya tiba di kota tempat Alya bekerja. Karena Alya yang ingin menunjukkan sosok Rian pada Dion, ia harus membuat Rian menjadi sangat keren di mata Dion. Ia tidak ingin Dion sampai menginjak-injak harga dirinya, hanya karena penampilan Rian yang sekadarnya saja.
Mereka sudah memilah baju yang cocok, yang akan Rian kenakan setiap harinya nanti. Perasaan canggung menyelimuti Rian, karena dirinya yang sama sekali tidak pernah berbelanja di tempat semewah ini. Apalagi, semua yang ia tunjuk benar-benar akan dibelikan oleh Alya. Ia tidak pernah bermimpi akan seperti ini.
Rian mengangguk pasrah, “Ya udah, terserah lo aja,” ucapnya.
__ADS_1
Alya mengambil semua kemeja yang ia lihat sangat bagus, kemudian tidak meminta Rian untuk mencobanya lebih dulu. Ia sudah merasa yakin, kalau baju yang ia pilihkan untuk Rian, semuanya pasti akan terlihat bagus.
Setelah selesai mencari baju dan celana, mereka pergi ke tempat aksesoris. Alya mulai gelap mata, karena ia merasa sangat senang memakai aksesoris, terlebih lagi gelang dan kalung.
Alya mengajak Rian masuk ke dalam toko aksesoris tersebut, dan mulai melihat-lihat aksesoris yang mereka jual.
“Semuanya bagus,” gumam Alya, yang melihat barang-barang itu, walau hanya sekilas.
Rian memandangnya dengan tatapan khawatir, “Jangan bilang kalo lo bakal beli semuanya yang ada di sini,” ujarnya, sontak membuat Alya tertawa mendengarnya.
“Ya gak mungkin, dong! Duit tabungan gue pasti langsung ludes kalau begitu caranya!” sanggah Alya, masih dengan tawanya.
__ADS_1
Rian menghela napas sambil mengusap dadanya dengan perasaan yang lega, “Bagus deh kalau begitu.”
Alya tersenyum, kemudian tak sengaja melihat sebuah aksesoris yang sepertinya sangat cocok dikenakan oleh Rian.