
Alya tidak ingin melihat Rian sakit, karenanya ia memijat Rian dengan penuh rasa khawatir.
Wajahnya menunduk, merasa malu dengan apa yang akan ia katakan pada Rian, “Lain kali, kalau gue usir, jangan nurut! Pokoknya jangan nurut!” bentak Alya tiba-tiba, sembari tetap memijat bahu Rian.
Rian terdiam sejenak, “Apa nanti lo bakalan ngusir gue lagi?” tanyanya, Alya berpikir sejenak mendengarnya.
“Ya ... ya ... pokoknya lo jangan nurut! Jangan pergi dari rumah,” bantah Alya dengan kesal, membuat Rian tertawa kecil mendengarnya.
“Iya, gue gak akan pergi dari rumah. Tapi jangan sengaja ngusir gue,” seloroh Rian, membuat Alya sedikit kesal mendengarnya.
“Ih, kalau lo buat salah, ya gue kesel! Terus, gue mau usir lo!” bentak Alya, yang merasa sangat malu dengan apa yang menjadi candaan Rian.
Rian menghela napasnya dengan panjang, “Gue gak akan pernah bikin kesalahan lagi, kok. Gue gak bisa, kalau jauh dari lo,” ujarnya lirih, tetapi masih terdengar oleh Alya.
Alya terdiam, membuat Rian menoleh sedikit ke arah belakangnya. Alya menatap rambut belakang Rian, merasa aneh dengan apa yang menjadi ucapan Rian tadi.
__ADS_1
‘Dia gak bisa tanpa gue? Gue juga gak bisa tanpa dia. Kenapa sih? Kenapa ini?’ batin Alya, yang masih belum menyadari, kalau hal itu adalah cinta.
Alya merasa sedikit malu, kemudian segera mendorong pelan tubuh Rian yang berada di hadapannya.
“Udah, makeup-in gue! Gue udah telat, nih!” bentak Alya, yang menutupi rasa malunya dengan ucapannya itu.
Rian tertawa kecil, melihat ekspresi Alya yang malu-malu kucing seperti itu.
Rian pun bangkit, segera menyiapkan apa yang harusnya ia lakukan, sebelum Alya memulai aktivitasnya.
Melihat Rian yang sudah bersiap-siap dengan pekerjaannya, Alya pun segera bersiap pula. Ia mengganti bajunya, yang akan ia pakai untuk syuting.
Setiap senti dari wajah Alya, terasa begitu sempurna. Walaupun wajahnya cepat sekali memburuk –jika tidak dirawat– tetapi wajahnya itu memiliki pemulihan yang cepat.
Rian terdiam sejenak, karena merasa sangat menyukai bentuk wajah Alya. Ia juga sangat menyukai, kulit wajah Alya yang sangat sensitif, tetapi memiliki pemulihan yang sangat cepat.
__ADS_1
Sejenak mereka saling pandang, membuat Alya merasa gugup melihat bola mata coklat milik Rian.
Jantungnya berdebar, Alya merasa sangat bingung dengan pandangan Rian yang seperti ini terhadapnya.
Rian menghela napasnya dengan panjang, “Maafin gue, ya. Jangan marah-marah lagi. Semangat kerjanya!” ujarnya dengan singkat, lalu mengecup kening Alya dengan singkat.
Mendapati Rian yang menciumnya dengan singkat, sontak membuat Alya merasa sangat tidak menyangka dengan apa yang Rian lakukan padanya.
Rian segera bangkit, dan melanjutkan pekerjaannya kembali. Ia meletakkan kembali peralatan makeup pada tempatnya, karena apa yang ia kerjakan sudah selesai.
Alya memandang dengan pandangan menyipit, wajahnya masih merona, karena merasa malu dengan apa yang Rian lakukan.
‘Kenapa Rian nyium gue? Kenapa gue gak menghindar tadi? Kenapa ... gue juga gak bisa marah sama dia?’ batin Alya, yang merasa sangat aneh dengan yang terjadi pada mereka saat ini.
Alya sudah mulai mengendurkan kewaspadaannya terhadap Rian. Ia juga sudah mulai terbiasa dengan Rian, sampai tidak bisa tanpa Rian.
__ADS_1
Namun, sampai saat ini, Alya masih belum mengetahui, kalau ini adalah cinta.
***