
Alya tersenyum, dan menjabat tangan orang yang ia sebut sebagai Senpai-nya.
“Apa kabar, Senpai? Gimana yang latihan di sini? Masih sama kayak dulu?” tanyanya bertubi-tubi, membuat Senpai tertawa mendengarnya.
“Jangan panggil Senpai, ah! Kesannya kayak udah tua banget, padahal umur kita gak beda jauh,” ujarnya keberatan, membuat Alya tertawa kecil mendengarnya.
“Ya ... kan lo senior gue, jadi gak masalah dong, gue panggil Senpai?” seloroh Alya, membuat lelaki itu tertawa kembali setelah mendengarnya.
“Kita dulu masuk bareng, kenapa lo manggil gue Senpai segala, sih?”
Alya mengerutkan dahinya, “Walaupun kita masuk bareng, tapi ‘kan ... lo bertahan sampai sabuk warna coklat, sedangkan gue ... masih bertahan di hijau. Haha, hijau abadi,” ujarnya, membuat Senpai kembali tertawa mendengarnya.
Memang, mereka masuk akademi ini pada waktu yang bersamaan. Namun, karena kesibukan Alya sebagai seorang artis, ia tidak bisa mengikuti setiap kegiatan yang ada, sehingga ia hanya bisa memegang sabuk berwarna hijau saja.
Butuh dua tingkat lagi, untuk bisa menyamai tingkat sabuk seperti Senpai ini.
__ADS_1
“Gak usah Senpai Senpai segala, panggil aja nama gue!” bantahnya, membuat Alya menghentikan tawanya sejenak.
“Nama lo aja sampe lupa gue, gara-gara keseringan gue panggil Senpai,” selorohnya masih dengan tawanya.
Melihat mereka yang asyik berbincang dan tertawa di hadapan Rian, Rian merasa sangat bingung harus melakukan apa. Timbullah sebuah perasaan, yang membuatnya tidak bisa melihat Alya berbicara dengan lawan jenis selain bersamanya.
‘Kenapa gue malah gak seneng mereka ngobrol ketawa-ketiwi begitu? Apa begini rasanya perasaan Alya, saat gue ngobrol sama Rachel kemarin?’ batin Rian, yang menyadari tentang hal itu.
Karena berbincang dengan Rachel kemarin, Alya sampai bersikap ketus kepadanya seharian.
Pasalnya, apa pun yang Rian lakukan, selalu tidak akan menang di mata Alya. Karena pasal satu adalah perempuan selalu benar. Pasal dua, jika perempuan salah, lihat pasal satu.
Lelaki itu memandang lekat ke arah Alya, “Masa sih, nama gue lo lupa? Kita ‘kan ... udah kenal lama banget, jauh sebelum lu kenal Dion,” selorohnya.
Matanya melirik sedikit ke arah Rian, membuat Rian merasa tidak nyaman dilirik seperti itu olehnya. Rian jadi merasa, kalau dirinya hendak memulai pertikaian dengannya.
__ADS_1
‘Oh, lirik-lirik sinis, mau bikin gue panas?’ batin Rian, yang merasa sangat kesal melihat sikap lelaki aneh ini.
Mendengar ucapan Senpai-nya, Alya merasa sangat kesal. Ia sudah tidak ingin membahas Dion lagi, karena ia sudah menyakiti Rian dengan cara mengeroyoknya.
Pandangan Alya sinis ke arahnya, “Ah, jangan bicarain Dion lagi! Gue udah muak sama dia!” bentaknya, sontak membuat Senpai mengerutkan dahinya.
“Kenapa sama Dion? Lo ... udah putus sama dia?” tanyanya, membuat Alya mengangguk kecil mendengarnya.
Berbagai spekulasi muncul di pikiran Senpai, membuatnya merasa yakin kalau lelaki asing yang ada di hadapannya, adalah pengganti dari Dion.
‘Jangan-jangan ... dia pengganti Dion?’ batinnya, yang sudah sangat yakin dengan dugaannya.
“Nama lo siapa, sih? Gue lupa beneran ....” Alya masih tertawa kecil, membuat Senpai terkekeh mendengarnya.
“Sini handphone lo,” pintanya, membuat Alya bingung mendengarnya.
__ADS_1
Karena tidak merasa ada niat buruk dari Senpai, Alya pun memberikan handphone-nya ke arahnya.