
Alya sudah selesai untuk beradu akting dengan lawan mainnya. Sekarang, Alya hendak menuju ke arah ruangannya.
Sepi, tak ada siapa pun orang di sana. Bahkan tak ada Rian di sana.
Matanya mengabsen setiap sisi pada ruangan pribadinya itu, tetapi ia tetap saja tidak melihat keberadaan Rian di sana.
Alya terdiam bingung, karena kepergian Rian yang tidak diberi tahu padanya.
Alya berkacak pinggang dengan mood-nya yang sedang swing, “Rian ke mana, sih? Kenapa gak ada di ruangan? Gak ada handphone, gimana bisa gue hubungin dia?” gerutunya, yang merasa sangat kesulitan dengan hal itu.
Napasnya ia embuskan, karena ia bingung harus mencari Rian di mana, sedangkan di kawasan ini sangat luas wilayah bagi para artis senior.
“Masa sih, Rian lagi disuruh-suruh sama artis lain?” gumam Alya menduga hal tersebut.
Karena merasa penasaran, Alya pun akhirnya keluar ruangan untuk mencari Rian.
Pandangannya ia edarkan ke segala penjuru, tetapi suasana yang padat dengan crew yang berseliweran ke sana kemari, membuat pandangannya menjadi tidak maksimal.
__ADS_1
‘Ramai banget, gimana bisa nyari Rian?’ batinnya, sembari tetap mencari keberadaan Rian di sana.
Alya menghela napasnya, menoleh ke arah sebelah kirinya, dan ternyata ... Alya menemukan apa yang ia cari.
Matanya membulat, dengan tatapan yang sangat sinis. Ia melihat Rian yang kini sedang bersenda gurau dengan Rachel, senior yang mengesalkan itu.
Tangannya langsung mengepal, dengan geraham yang ia gertakkan. Ia merasa sangat kesal, baru saja Rian mengatakan tidak akan membuatnya marah lagi, ternyata hal itu ia ingkari.
Alya semakin kesal, karena belum habis emosinya semalam, kini ada permasalaha yang membuatnya marah kembali pada Rian
Alya melangkah dengan emosi yang hampir maksimal. Amarahnya hampir *******, hanya butuh beberapa saat lagi untuk membuatnya penuh.
Sementara itu di sana, keadaan tidak seperti yang Alya pikirkan. Rian selalu berusaha untuk mengelak, dari apa yang Rachel pinta.
Namun, ternyata Rian tidak bisa menolaknya.
“Nih, makan dulu! Gue udah beli banyak, tapi beneran gak ada yang makan!” ujar Rachel, setengah memaksa keadaan.
__ADS_1
Rian tersenyum tak enak, karena ia merasa tidak ingin melakukannya.
“Ah, makasih. Gue ... mau makan sama Alya aja nanti,” tolak Rian, yang benar-benar tidak menginginkan makan bersama dengan orang lain, terlebih lagi bersama dengan seorang wanita.
Penolakan itu membuat Rachel sedikit tersinggung, karena lagi-lagi yang Rian bahas adalah Alya.
‘Alya lagi, Alya lagi. Apa sih, bagusnya dia? Tampang pas-pasan, akting pas-pasan, masa sih mau saingan sama gue?’ batin Rachel dengan mode julid.
Rian memandangnya dengan bingung, “Katanya mau diriasin? Sini, keburu Alya selesai tag video, terus dia nanti nyariin gue,” ujarnya, untuk mempersingkat waktu.
Rachel tersenyum tak enak di hadapan Rian, “Ah ... jangan buru-buru, Yan. Pokoknya makan dulu, baru habis itu makeup,” ujarnya, membuat Rian merasa sedikit kesal mendengarnya.
‘Kenapa ditahan-tahan, sih? Gue ‘kan ... jadi gak enak mau pergi juga! Nanti yang ada cuma bikin permusuhan aja, karena gue orang baru di sini,’ batin Rian, yang mempertimbangkan semua itu demi dirinya.
Alya sudah sampai di sana, memandang sinis ke arah keduanya, sembari berdiri dengan kesal.
“Rian!”
__ADS_1