Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Drama Sarapan Mi Instan


__ADS_3

Siang ini, Alya dan Rian sudah siap dengan tas mereka masing-masing. Alya berjanji akan mengajaknya untuk pergi ke club beladiri yang ia ikuti, untuk memberikan Rian pelajaran beladiri yang sangat berguna nantinya, untuk Rian.


Karena malam tadi mereka sampai di apartemen sekitar pukul 4 pagi, mereka akhirnya sangat kelelahan. Saking kelelahannya, sampai-sampai mereka bangun pukul 12 siang.


Setelah drama makan siang, yang hanya bisa memasak mi instan saja, mereka pun akhirnya bergantian ke toilet karena merasakan sakit pada perutnya.


Apalah daya mereka? Alya tidak pernah sama sekali memegang alat masak. Makan siang mereka saat waktu masih bersama Dion, selalu memesan melalui online. Saat Alya masih di panti asuhan pun, Alya tidak pernah memegang perkakas masak, karena seluruh anak-anak panti sudah ada yang menjamin tentang makanan yang mereka makan. Dengan kata lain, sudah ada koki khusus untuk makan mereka sehari-hari.


Sementara itu, Rian juga tidak bisa memasak. Bagaimana ia bisa memasak, kalau dirinya saja hidup tidak keruan dan tidur di sembarang tempat. Ia hanya hidup sebatang kara, dan tidak memiliki siapa pun lagi di desa itu.


Alhasil karena selalu sarapan mi istan setiap mereka bangun tidur, lambung mereka tidak kuat, dan alhasil membuat mereka bergantian keluar masuk ke toilet.


Alya menghela napasnya dengan panjang, karena ia sudah lelah melakukan ritualnya di toilet. Sudah empat kali ia ke toilet, sehingga membuat tubuhnya sangat lemas.

__ADS_1


“Aduh ... kenapa lemes banget, ya?” gumam Alya, sembari menyandarkan tubuhnya pada sofa yang ia duduki.


Rian pun sama, ia menoleh ke arah Alya dengan lemas. “Gue juga lemes ... lagian kenapa makan mi instan mulu, sih?” tanyanya cukup sinis.


Alya memejamkan matanya, “Mi bikinan lo enak. Kalau belum nambah dua kali, belum afdhol. Apalagi, kalau gak makan pakai cabe rawit setan. Rasanya gak akan senampol itu,” jawab Alya dengan polos, membuat Rian terdiam sejenak mendengarnya.


Padahal, semua mi instan pasti sama enaknya. Namun, ia tidak mengerti dengan maksud Alya, yang mengatakan bahwa mi instan buatannya sangatlah enak.


“Gue gak ngerti deh, semua mi instan pasti enak. Kenapa lo bilang masakan gue enak?” tanya Rian lagi, Alya sampai mendelik saking tak sadarnya ia mengatakan hal itu pada Rian.


Alya memandang Rian dengan sinis, “Apaan, sih! Gak, mi bikinan lo gak enak!” bentaknya tiba-tiba, sontak membuat Rian merasa aneh mendengarnya.


“Dih, aneh banget! Kenapa malah nyolot begitu?!” ujar Rian setengah sinis, membuat Alya tidak bisa menerima ucapannya.

__ADS_1


“Woy apaan sih?!” bentak Alya, membuat Rian terdiam, karena ia tahu jika ia meladeni Alya, ia tidak akan pernah menang.


Mata Alya tak sengaja memandang ke arah jam dinding. Kini, waktu menunjukkan pukul 2 siang. Sudah waktunya bagi mereka untuk pergi menuju ke club tersebut.


Alya mengambil tas selempang besarnya, “Ayo jalan. Udah jam 2,” ajaknya, sembari bangkit mendahului Rian.


Melihat Alya yang sudah bangkit, Rian pun segera mengambil tasnya juga, lalu mengikuti ke arah Alya melangkah.


Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagi Rian, karena ini adalah kali pertamanya berlatih beladiri.


Suatu hal yang sangat bertolak belakang dengan kepribadiannya.


‘Semoga saja gue bisa,’ batin Rian berharap dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2