
Merasa Rian yang sangat otoriter pada keadaan mereka, Alya mendelik protes karena perkataan Rian yang tidak masuk akal itu.
“Jadi maksud lo, gue di bawah dan lo di atas gitu?” tanya sinis Alya, Rian memandangnya dengan sinis.
“Menurut lo?” tanya balik Rian dengan sinis, membuat Alya tak bisa menerima perkataannya itu.
“Enak aja! Gue di atas, lo di bawah!” bentak Alya, sontak membuat Rian tak bisa menerima ucapannya.
“GAK ... MA ... U!” tolak Rian dengan tegas, Alya merasa geram mendengar penolakan dari Rian.
Alya memandang Rian dengan sinis, membeku sejenak karena merasa sangat kesal dengan sikap Rian, yang sama seperti sikap seorang wanita. Rian sangat sensitif dan egois, sama seperti sifat seorang wanita.
Alya membuang pandangannya dari Rian, “Ya udah, gue yang tidur di bawah!” bentaknya, yang langsung mengambil sebuah bantal yang ada di dekat Rian.
Karena tidak bisa membuat Rian mengalah, Alya berinisiatif mengalah di hadapan Rian. Alya meletakkan bantal tersebut di bawah lantai, dan segera merebahkan dirinya di atas lantai.
Merasa menang di hadapan Alya, Rian pun menyeringai melihat Alya yang sudah merebahkan diri di atas lantai. Ia merasa sudah menang, dari orang yang keras kepala seperti Alya. Ia terus tertawa dalam hati, karena ia merasa sudah bisa menakhlukkan Alya dengan caranya sendiri.
Alya berusaha untuk memejamkan matanya, karena sudah terlalu kesal dengan keadaan. Ia sudah kesal dengan sikap Rian, yang ternyata lebih daripada sikap seorang wanita.
‘Dia egois banget! Kenapa sih, gak ngalah aja sama gue?!’ batin Alya, yang merasa sangat kesal dengan sikap Rian padanya.
Sementara itu Rian memikirkan hal yang sangat menyenangkan baginya. Ia tersenyum, sembari membayangkan pencapaiannya karena sudah bisa mengalahkan Alya.
‘Yes, ternyata dia yang keras bisa dikalahin juga!’ batin Rian, yang merasa sangat bangga dengan pencapaiannya.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu, Rian merasa sudah lelah memikirkan hal yang sangat membanggakan untuknya. Rian menghela napasnya dengan panjang, karena situasi hatinya yang sudah mulai normal seperti biasa.
Sepi, suasana tidak seperti sebelumnya. Tidak ada suara apa pun yang terdengar dari lantai tempat Alya tertidur. Hal itu membuat Rian merasa sangat bingung dan menjadi heran dengan keadaan yang ada.
‘Alya gak ada omongan apa-apa. Gak kedengeran suaranya dari tadi. Apa dia udah tidur, ya?’ batin Rian, yang merasa penasaran dengan keadaan Alya.
Karena rasa penasarannya, Rian segera menoleh ke arah lantai. Ia melihat ke arah Alya, yang ternyata memang benar sudah tertidur dengan pulas. Keadaannya jadi benar terbalik, Alya yang tertidur di atas lantai dan Rian yang tidur di atas ranjang. Hal itu yang membuat Rian merasa tidak enak hati dengan Alya.
‘Dia yang tuan rumah aja tidurnya di bawah, padahal mungkin dia gak pernah tidur di lantai. Makan aja gak bisa makan sembarangan di pinggir jalan,’ batin Rian, yang benar-benar menjadi tidak enak dengan Alya.
Rian menghela napasnya dengan panjang, karena ia merasa sangat tidak enak hati dengan Alya. Sesuatu di dalam pikirannya merasakan hal seperti ini tidak seharusnya ia lakukan dengan Alya.
‘Gue gak seharusnya begini sama dia. Kalau gak bisa memperlakukan dia sebagai istri, paling tidak ya perlakukan dia sebagai sesame manusia,’ batin Rian, yang benar-benar sudah sadar dengan apa yang ia lakukan pada Alya.
Rian pun turun dari atas ranjang, dan berjongkok di hadapan Alya yang sudah tertidur. Rian memandang sejenak ke arah Alya, dan perasaannya semakin merasa kasihan karena melihat seorang wanita yang tertidur di atas lantai.
Rian mengulurkan tangannya ke arah Alya, tetapi ternyata ia tidak bisa melakukannya. Tangannya tertahan, karena ia merasa sangat malu melakukannya. Wajahnya sampai memerah, karena merasa malu dengan hal yang akan ia lakukan padanya.
‘Gue gak pernah gendong cewek mana pun,’ batin Rian, yang merasa gemetar ketika hendak memindahkan Alya ke atas ranjang tidurnya.
Pikirannya sudah kacau, saking bingungnya dengan apa yang harus ia lakukan. Rian memandang dalam ke arah Alya, yang keningnya terlihat sangat kaku dan sinis.
‘Bahkan lagi tidur pun sinis begini, dasar Alya!’ batin Rian yang bingung dengan sikap Alya yang terlalu kasar baginya.
Rian tidak bisa membiarkan Alya tidur sendirian di atas lantai. Ia tidak ingin Alya jadi tidak enak badan, setelah bangun di esok paginya. Namun, ia juga tidak tega membangungkan Alya yang nampaknya sudah tertidur dengan pulas.
__ADS_1
‘Mau bangunin gak tega, mau ngediemin lebih gak tega lagi kalau sampai dia sakit pas bangun tidur nanti,’ batin Rian, yang merasa bimbang dengan apa yang harus ia lakukan.
Sempat membeku sejenak karena harus berpikir, apa yang harus ia lakukan setelah ini. Ia menatap wajah Alya yang keningnya masih mengerut, saking lelahnya ia dengan kehidupannya hari ini.
‘Kasian kalau didiemin aja,’ batin Rian, yang sudah bulat dengan keputusannya itu.
Dengan kedua tangan yang gemetar, Rian berusaha untuk merengkuh Alya untuk memindahkan Alya ke atas ranjang. Ia merasa sangat takut, khawatir Alya masih belum terlalu lelap, sehingga membuatnya malu.
Rian sudah berhasil mengangkat tubuh Alya. Ia melangkah ke arah ranjang, untuk memindahkan Alya ke atasnya.
Karena langkah Rian yang terlalu kasar, kesadaran Alya pun kembali, sehingga ia bisa dengan jelas melihat wajah Rian yang sangat dekat dengan wajahnya saat ini.
Matanya mendelik saking terkejutnya melihat wajah Rian yang sangat dekat dengannya, “Ahh!!” pekik Alya, yang sontak membuat Rian terkejut mendengar suara teriakannya.
“Ah!!” teriak Rian juga, karena merasa kaget mendengar teriakan Alya yang sangat mendadak.
Saking kagetnya, Rian sampai tak sengaja melepaskan rengkuhan tangannya dari tubuh Alya, sehingga membuat Alya terjatuh dengan sangat keras. Alhasil tubuh Alya pun terjatuh ke atas lantai kembali, dengan Rian yang langsung mendelik dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, saking kagetnya melihat Alya yang sudah jatuh di hadapannya.
“Oh my God!” pekik Rian, Alya mengaduh sakit sembari memegangi punggungnya yang langsung terkena lantai ketika Rian melepaskan tangannya dari tubuh Alya.
“Aduh ...,” rintih Alya, sembari memegangi punggung dan bokongnya yang sakit, akibat mencium lantai.
Rian masih terdiam membeku sembari melihat ke arah Alya yang merintih kesakitan. Ia tidak tahu harus berbuat apa, sehingga ia hanya bisa diam sembari memandangi Alya yang masih fokus kepada rasa sakitnya itu.
Karena rasa sakitnya yang sudah mulai berkurang, Alya pun bisa mengalihkan perhatiannya ke arah Rian, yang ternyata sedang mematung di hadapannya saja.
__ADS_1
Alya mendelik, “Bantuin, kek! Diem aja kayak kambing congek!” bentak Alya.