
Bau pertarungan sudah mulai tercium. Alya sudah sampai di apartemen miliknya dan juga Dion. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana reaksi Dion ketika melihat dirinya membawa seorang lelaki asing ke apartemennya.
Langkah Alya mendadak gemetar, ketika ia sudah sampai di depan pintu apartemennya. Ia menoleh ke arah Rian, dan memandangnya dengan perasaan yang khawatir. Ia mengerti, Dion tidak akan suka pada Rian, dan pasti akan membuat kekacauan yang membuat Rian kesulitan.
Menyadari tatapan Alya yang sepertinya tersirat rasa takut, Rian pun tersenyum di hadapannya untuk sekadar membuat hati Alya tenang. “Ada apa?” tanyanya dengan lembut.
Melihat tatapan Rian yang hangat, Alya merasa hatinya terbakar karena ia tidak bisa meneruskan hal seperti ini. Ia tidak bisa membuat Rian terjun ke dalam permasalahannya bersama dengan Dion.
Alya menggelengkan kecil kepalanya, “Gak bisa ... gue gak bisa bawa lo masuk ke dalem,” ujarnya yang merasa sangat tidak tahan dengan keadaan.
Rian mengerutkan dahinya bingung, “Kenapa? Ada pacar lo di dalem, ya?” tanyanya, Alya mengangguk kecil mendengarnya.
Karena merasa sudah kepalang tanggung, Rian juga harus menghadapi kenyataan. Walau harus babak-belur sekalipun, Rian harus bisa menjaga Alya yang notabene-nya adalah istrinya.
__ADS_1
“Gak usah takut, gue pasti jagain lo kok kalau dia macem-macem!” ucap Rian, sontak membuat Alya mendelik kaget.
Bagi Alya, bukan permasalahan dirinya, tetapi ia justru mengkhawatirkan Rian jika berhadapan dengan Dion. Ia tidak ingin ada keributan di sini, apalagi ia sangat mengetahui kemampuan Rian yang tidak bisa melawan Dion secara jantan.
“Gue bukan lagi khawatir sama diri gue sendiri. Kalau gue sendiri mah gak akan takut. Gue cuma gak mau masukin lo ke dalam lubang permasalahan gue sama Dion,” ucap Alya, membuat Rian menghela napasnya dengan panjang.
“Dari awal, gue udah bertekad buat berhenti dari pekerjaan gelap gue. Walaupun harus masuk ke dalam masalah besar, yang penting gue gak kembali ngejalanin pekerjaan gue sebagai waria,” ucap Rian, yang sangat konsisten memegang perkataannya.
“Ya tapi tetep aja Yan--”
“Udah, gak usah resah gitu dong,” pangkas Rian, membuat Alya memperhatikan ke arahnya. “Biar semua risiko gue yang tanggung,” ujarnya dengan tatapan yang tegas.
Satu keyakinan muncul di hati Alya. Ia merasa sedikit yakin, kalau Rian akan bisa melewati permasalahan ini dengan sedikit pengorbanan yang harus mereka lakukan.
__ADS_1
“Kalau lo bonyok, gimana?” tanya Alya, Rian menyeringai dengan senyuman yang tidak Alya sukai.
“Gak usah takut, kalau gue mati ... tolong dikuburin aja. Jangan buang mayat gue ke sungai, ya!” selorohnya, sontak membuat Alya kesal dan memukul perut Rian dengan keras sampai Rian terbatuk karenanya.
Rian memegangi perutnya yang sakit, membuat Alya memandangnya dengan sinis.
“Baru begitu aja udah aduh-aduhan, gimana nanti lo kalo dipukul beneran sama Dion?” celetuk Alya gemas dengan sikap Rian yang terlihat sangat kuat, padahal rapuh.
“Aduh ... lo mukulnya gak pake aba-aba, sih! Gimana mau menghindar?” sanggah Rian, membuat Alya semakin gemas dengannya.
“Lo tuh ya--”
“Alya!”
__ADS_1