
Setelah berhasil mendapatkan handphone Alya, niat hati lelaki itu ingin memasukkan nomor handphone-nya ke kontak handphone Alya, tetapi ia malah salah fokus dengan wallpaper handphone Alya.
Matanya mendelik, karena ia melihat wallpaper-nya Alya bersama dengan Rian, yang membuat dugaannya semakin kuat, kalau lelaki asing itu adalah pengganti dari Dion.
‘Fotonya barengan gini, di kebun teh. Apa ... berita yang kemarin muncul itu benar, kalau lelaki ini penggantinya Dion?’ batinnya, yang menebak-nebak status hubungan Alya dan juga Rian.
Kesadarannya kembali, ia langsung memasukkan nomor handphone-nya ke dalam kontak handphone Alya. Setelahnya, ia segera menyodorkannya kembali ke arah Alya, sehingga Alya pun menerima handphone-nya kembali.
Alya memeriksa nama kontak baru, yang ada di dalam kontak handphone-nya. Jarinya berhenti, ketika ia sudah mendapatkan nama asing di kontak handphone-nya.
Di sana, tertera sebuah nama dengan sebuah emoticon love, membuatnya mendelik tak percaya dengan apa yang ia lihat itu.
Hati Alya bertanya-tanya, ‘Apa dia masih nungguin gue sampe sekarang?’ batinnya menerka, merasa bingung karena sudah lama sekali tidak berbincang dengan orang ini, dan sudah lama tidak saling bertukar kabar.
__ADS_1
Namun, satu yang Alya ketahui. Perasaan dan cinta yang sempat dinyatakan Senpai ini padanya, ternyata masih ada sampai sekarang.
Dulu, memang mereka pernah sangat dekat. Alya juga sedikit senang dan menyukai sosok Senpai itu. Akan tetapi, Alya sama sekali tidak ingin menjalin hubungan bersama dengannya.
Entah, hanya saja ... Alya tidak mau menjadi dekat dengan orang ini. Ia malah lebih memilih Dion, karena Dion adalah satu-satunya gerbang baginya, untuk bisa meraih impiannya menjadi seorang aktris terkenal.
Jika Alya menerima cinta dari Senpai ini, mungkin saat ini ... ia tidak bisa menjadi artis seperti yang ia jalani saat ini.
“Morgan ...,” gumam Alya, yang baru teringat kembali dengan namanya.
Namun, kali ini mereka bertemu kembali, membuat Alya menjadi sangat heran dengan perasaannya yang masih tetap sama seperti dulu.
Melihat ekspresi Alya yang seperti itu, Morgan pun hanya bisa tersenyum, karena ia tidak bisa berekspresi apa pun lagi di hadapan Alya, karena ada lelaki asing yang menjadi saingannya itu.
__ADS_1
Rian memandang tajam ke arah Morgan, karena ia berhasil mengetahui nama dari lelaki asing itu. Namun, ia sama sekali tidak mengetahui cerita tentang mereka, sehingga masih membuatnya penasaran dengan hubungan Alya dengan Morgan.
‘Morgan ... nama lo aneh, sama kayak kelakuan lo!’ batin Rian mengumpat, karena merasa sangat kesal melihat dirinya yang bercanda dengan Alya, di hadapan dirinya.
“Ayo siap-siap, sebentar lagi mulai, lho!” ajak Morgan, membuat Alya yang sedang bingung, menjadi tersenyum mendengarnya.
“Ya, duluan. Gue masih harus ganti baju dulu,” ucap Alya, membuat Morgan mengangguk kecil mendengarnya.
Morgan pun melangkah ke arah lapangan, dengan Alya yang terpaku sejenak mendengarnya.
Rian memandang sinis ke arah Morgan melangkah, karena ia merasa ada sesuatu yang terjadi antara Alya dengan dirinya.
‘Ada sesuatu yang gak gue tau di sini. Kalau gue nanya sama Alya, apa dia mau jawab pertanyaan gue?’ batin Rian, yang merasa tidak yakin dengan keinginannya.
__ADS_1
***