
Mendengar jawaban dari Rian, Alya menjadi merasa sangat miris mendengarnya. Selama ini, semua makan dan kebutuhan pokok Alya ditanggung oleh Dion. Ia jadi tidak mengetahui apa saja pengeluaran yang ia butuhkan selama satu bulan, karena semua penghasilan yang ia hasilkan melalui aktingnya, dipegang penuh oleh Dion dan dikelola olehnya.
Alya tidak mengetahui apa itu berjuang untuk bertahan hidup. Yang ia tahu, hanya syuting, syuting dan syuting. Sebagai gantinya, ia sudah tidak memikirkan apa pun mengenai kebutuhan hidupnya. Tidak seperti Rian, yang jika bisa bertemu dengan makanan saja sudah sangat menguntungkan baginya.
Alya memandang ke arah Rian, “Oke. Kita harus bikin perjanjian dulu, sebelum lo kerja dan juga mengenai hubungan kita ini,” ucapnya, membuat Rian mengangguk mendengarnya.
“Oke.”
“Sekarang, lo ikut gue ngambil mobil dulu. Kita ke rumah Nenek gue, dan bicarain itu semua di sana,” ucap Alya, yang lagi-lagi membuat Rian menganggukkan kepalanya.
Mereka sudah sepakat mengenai hal tersebut. Mereka pun berjalan menuju ke arah mobil Alya terparkir, dan kembali ke tempat tragedi penggrebekan mereka malam tadi.
Suasananya nampak aneh, membuat Alya merasa sedikit kesal ketika mengingat kejadian malam tadi.
‘Kok gue jadi kesel, ya? Harusnya dia gak kasih uangnya ke si botak, jadi si botak gak akan pergi dari TKP! Kita juga gak akan dinikahin paksa kalau ada saksi begitu!’ batin Alya, yang malah memaki keadaan yang seharusnya tidak seperti ini kejadiannya.
Namun, biar bagaimanapun juga hal itu tidak bisa ia atur sendiri, karena ini bukanlah dunia sandiwara tempat ia bekerja di lokasi syuting. Dunia ini memang panggung sandiwara, tetapi bukan dia yang menjadi sutradaranya, melainkan Tuhan yang maha kuasa. Kita semua tidak bisa menentukan nasib kita, dan juga tidak bisa menghalangi sesuatu yang buruk, yang mungkin akan terjadi dan menimpa pada diri kita.
Alya menghela napasnya, berusaha menerima keadaan yang sudah terjadi ini. Ia sudah tidak bisa mengubahnya, karena biar bagaimana pun juga hal ini sudah terjadi begitu saja dan tidak bisa diulang kembali.
Ketika beberapa saat berlalu, mereka sudah sampai di lokasi tempat kejadian perkara, yang membuat mereka berada di dalam sebuah hubungan yang tidak mereka suka itu.
Alya memandang ke arah Rian, “Tunggu di sini dulu, gue mau masuk ambil handphone!” suruh Alya, membuat Rian memandangnya heran.
“Kenapa? Emangnya nanti gak bawa mobil?” tanya Rian.
“Gak usah, gak akan bisa karena ada dahan nyangkut di tengah mobil gue,” jawab Alya seadanya.
Rian semakin memandangnya dengan heran, karena ia tidak mengerti dengan apa yang Alya maksudkan.
__ADS_1
“Boleh gue coba setir?” tanya Rian meminta izin kepada Alya untuk mengemudikan mobil ini.
Alya merasa agak ragu mendengarnya, “Emangnya lo bisa?”
“Kalau cuma nyetir mobil doang, gue juga bisa!” ucap Rian yang terdengar sangat sombong, membuat Alya percaya dengan keahliannya dalam mengemudikan kendaraannya itu.
“Ya udah, coba aja kalau bisa,” ucap Alya, sembari menyodorkan kunci mobil ke arahnya.
Rian menerimanya, “Ayo naik!” suruhnya.
Walaupun agak ragu, Alya akhirnya menurut dengan apa yang Rian katakan. Mereka akhirnya masuk bersama ke dalam mobil, dengan Rian yang berusaha untuk mengemudikan mobil tersebut dengan benar.
Ketika Rian sedang berkutat dengan sabuk pengamannya, Alya berusaha untuk mencari keberadaan handphone-nya. Karena menabrak sebuah dahan besar semalam, handphone-nya yang sebelumnya ia letakkan di kursi sebelah kemudi, tak terlihat lagi dan hilang entah ke mana.
Alya berusaha mencarinya di kolong kursi. Beberapa saat mencari, akhirnya ia pun bisa menemukan handphone yang ia cari.
“Ini dia handphone gue!” gumam Alya, yang langsung mengambil handphone tersebut, kemudian menutup pintu mobilnya dengan keras.
“Sialan tuh orang! Masih berani neleponin gue, pula! Dia gak mikir ya, kalau ini semua terjadi karena dia juga yang gak mau mikirin gue?!” oceh Alya, membuat Rian yang ada di sebelahnya, menjadi bingung dengan yang ia maksudkan.
“Siapa? Apanya?” tanya Rian bingung, membuat Alya tersadar kalau ia tidak hanya sendirian sekarang.
Alya memandangnya dengan bingung, “Sorry, bukan lagi ngomongin lo, kok!” ucap Alya, Rian hanya bisa mengangguk kecil mendengarnya.
KRUK!!
Tak sengaja suara perut dari Alya terdengar kembali. Hal itu menyadarkan mereka, bahwa Alya belum sempat mengisi perutnya, dan tidak memakan makanan yang sudah Rian pesan tadi.
Rian mendelik kaget, “Mau makan dulu?” tawarnya, Alya yang merasa sudah tidak bisa menahan rasa laparnya lagi, hanya bisa mengangguk kecil mendengarnya.
__ADS_1
“Emangnya ada tempat jual pizza di sini?” tanya Alya, Rian menggelengkan kecil kepalanya.
“Gak ada, tapi di sini ada tempat makan yang enak,” jawabnya.
Alya merasa agak penasaran, tetapi rasa penasaranya seketika dipatahkan karena ia teringat dengan nasi uduk yang Rian beli pagi ini untuk mereka. Alya benar-benar tidak ingin makan makanan yang seperti itu, karena ia merasa tidak suka dengan makanan yang dianggapnya tidak steril.
“Ah, gak usah deh.” Alya merasa sangat takut dengan makanan yang dijual di pinggir jalan seperti itu.
Rian memandang heran ke arahnya, “Kenapa? Lo gak biasa makan di pinggir jalan?” tanyanya, yang sudah mengira akan hal itu.
Alya hanya bisa mengangguk kecil, karena ia tidak bisa berkata apa pun lagi untuk menjawab pertanyaan dari Rian.
“Tenang, di sini juga ada restoran. Cuma agak jauh dari sini. Masih bisa nahan laper, gak?”
Alya berpikir sejenak, ‘Daripada gak makan, mending nahan dikit lah,’ batinnya yang merasa sudah sangat terpaksa. Alya juga tidak ingin makan di pinggir jalan lagi, sehingga ia menyanggupi untuk pergi ke tempat makan yang agak jauh.
“Masih bisa. Yang penting gue makan,” jawab Alya, Rian mengangguk kecil mendengarnya.
“Ya udah, kita ke sana sekarang. Emang sih agak jauh, jangan mikir yang macem-macem tentang gue. Tenang aja, gue gak akan nyulik lo,” ucap Rian yang mengantisipasi tentang hal yang akan Alya pikirkan.
Alya yang tidak bermaksud begitu, sontak saja memandangnya dengan sinis.
“Kenapa ngomong gitu?” tanya Alya sinis.
“Ya takutnya lo mikir macem-macem, karena emang lumayan jauh tempatnya. Gue gak bakalan nyulik loe, kok!” ucapnya, membuat Alya terdiam sejenak mendengarnya.
‘Ya lagian siapa yang mikir begitu, coba?’ batin Alya, yang memang tidak memikirkan hal seperti yang Rian katakan padanya.
“Ya udah, ayo jalan,” ajak Alya, yang sudah tidak bisa menahan rasa laparnya lebih lama lagi.
__ADS_1
“Oke.”
***