Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Hasrat Rachel


__ADS_3

Rian tersenyum ke arah Rachel, “Makasih ya, minumannya,” ucap Rian, membuat Rachel juga tersenyum di hadapannya.


“Sama-sama,” jawab Rachel. Ia memandang tajam dan dalam ke arah Rian. Ia menyodorkan handphone-nya ke arah Rian, membuat Rian bingung melihatnya.


“Apa ini maksudnya?” tanya Rian, yang tidak paham melihatnya.


“Masukin nomor lo ke sini,” pintanya, membuat Rian bingung mendengarnya.


“Nomor? Gue gak punya handphone,” ujar Rian, membuat Rachel tak percaya mendengarnya.


‘Gak punya handphone katanya? Gak mungkin! Masa orang di zaman ini gak punya handphone?!’ batin Rachel yang tersenyum kecut ke arah Rian.

__ADS_1


Rachel menarik kembali handphone-nya, lalu menyimpannya kembali ke saku bajunya.


Rian memperhatikan ke arah Alya yang sedang tag adegan di sana. Rian merasa senang, karena bisa melihat Alya fokus pada pekerjaannya.


Melihat Rian yang sedang memperhatikan Alya, Rachel pun memandangnya sinis, karena ia merasa ada sesuatu di antara Rian dan Alya.


‘Kenapa dia mandangin Alya begitu, ya? Apa ... ada sesuatu sama di antara mereka?’ batin Rachel, yang merasa ada yang aneh dengan mereka.


“Lo sama Alya ... pacaran?” tanya Rachel tiba-tiba, sontak membuat Rian terdiam sejenak.


Rian memandang Rachel dengan senyuman, “Kita gak ada apa-apa, kok. Gue sama dia, cuma sebatas manajer aja. Cuma kalau misalkan dekat ... kita memang dekat. Gimana nanti aja, kalau soal hubungan. Mungkin nanti cinta akan tumbuh terbiasa,” ucapnya dengan nada yang sangat manis, membuat Rachel tersenyum di hadapannya, tetapi mengumpat dalam hati.

__ADS_1


‘Ternyata memang benar. Mereka ada apa-apa. Walaupun gak ada hubungan apa-apa, setidaknya Rian suka sama dia,’ batin Rachel yang merasa sangat yakin dengan apa yang ia pikirkan.


Rachel memandang ke arah Rian dengan dalam, “Wah ... romantis banget ya. Loe yang segini romantis banget, beda banget sama Alya. Masa Alya gak kasih lo minum, padahal lo udah nunggu lama dan pasti bakalan haus. Untung ada gue yang perhatian sama lo,” ujarnya, membuat Rian tersenyum mendengarnya.


“Biarin aja, dia mungkin sibuk. Gue gak mau ganggu fokusnya dia. Masalah minum, gue bisa beli sendiri ke mini market,” ujar Rian, membela Alya di hadapan Rachel.


Tentu saja Rachel tidak bisa terima dengan itu. Ia tidak bisa menerima, kalau dirinya dibantah seperti itu dengan orang lain. Apalagi orang tersebut membela orang yang sedang ia bicarakan.


Pokoknya semua orang harus suka padanya, itulah Rachel.


‘Sialan Rian! Kenapa dia malah belain Alya? Kenapa dia gak kehasut sama omongan gue? Kenapa dia gak benci aja sama Alya? Anak magang itu, sialan banget! Muka pas-pasan, kenapa bisa deket sama cowok kayak idol Korea begini?’ batin Rachel yang benar-benar tidak mengerti dengan keberuntungan yang dimiliki Alya.

__ADS_1


‘Pokoknya, gue harus bisa dapetin Rian. Bagaimanapun caranya! Toh, mereka juga gak ada hubungan apa-apa, bukan? Gue bisa deketin Rian, dan jadiin dia pacar gue,’ batin Rachel, yang sudah mengatur strategi untuk membuat Rian menjadi miliknya.


Rachel menyadari, adegan yang dilakukan Alya sepertinya akan selesai. Ia tidak mau berurusan dan berpapasan dengan Alya, sehingga ia harus pergi dari sana secepatnya.


__ADS_2