
Alya terdiam sejenak, saking bingungnya ia melihat Rian yang sangat memperhatikannya.
‘Dia perhatian banget, walaupun udah gue usir juga,’ batin Alya, yang merasa sangat heran dengan apa yang Rian lakukan padanya.
Rian mengulurkannya kembali ke arah Alya, membuat kesadaran Alya kembali, dan akhirnya menerima produk kecantikan yang Rian berikan padanya.
Alya memandangnya dengan tatapan yang segan, “Kamar mandi, jangan lupa ditutup! Ini bukan rumah kita, jangan sembarangan!” ujarnya mengingatkan, membuat Rian terdiam sejenak mendengarnya.
“Rumah kita? Kalau rumah kita, gak mungkin dong lo ngusir gue kemarin?” tanya Rian bingung, membuat Alya tersadar akan ucapannya.
“Rumah gue!” ujar Alya, yang mengklaim bahwa itu adalah rumahnya.
Rian tak memungkiri, karena memang itu adalah apartemen milik Alya.
“Udah, ah. Gue mau mandi,” ujar Rian, yang sudah bosan bertengkar dengan Alya terus.
Alya memandang kepergian Rian, “Ih, gue juga mau maskeran!” ujarnya ketus, yang masih saja malu-malu kucing di hadapan Rian.
__ADS_1
Mereka pun mengerjakan tugas masing-masing. Alya merawat kulit wajahnya, sementara Rian membilas tubuhnya.
Alya melakukannya perlahan, sambil memikirkan keadaan Rian.
‘Untung aja dia hapal jalanan ke sini. Kalau enggak, mungkin aja gue gak akan ketemu lagi sama dia,’ batin Alya yang merasa sedikit tenang mengetahuinya.
Alya menghela napasnya dengan panjang, ‘Untung aja dia gak balik lagi ke desa. Gue gak bisa, kalau tanpa dia. Dion gak ada, Rian gak ada, bener-bener gak bisa,’ batinnya, yang sudah mulai mengakui, bahwa ia tidak bisa tanpa Rian.
Setelah selesai membilas tubuhnya, Rian pun keluar dengan tubuh yang segar. Namun, tetap saja hasil dari semalaman tidur di lantai, tubuhnya jadi tidak menentu. Panas dingin ia rasakan, sampai pegal-pegal pun terasa, membuatnya merasa kurang nyaman beraktifitas.
Alya melihatnya dengan bingung, sangat kaget dengan apa yang terjadi dengan Rian.
“Lo kenapa, Yan?” tanya Alya.
Terselip sedikit nada kekhawatiran, membuat Rian memandang ke arah Alya dengan heran.
“Lo gak lagi khawatirin gue, ‘kan?” tanya Rian, sontak membuat Alya mendelik kaget mendengarnya.
__ADS_1
Memang, Alya agak khawatir dengan keadaan Rian. Apalagi semalaman Alya tidak mengetahui, di mana keberadaan Rian.
Alya membuang pandangannya kesal, “Ngapain juga gue perhatian sama lo? Dih, kebagusan amat,” bantah Alya, membuat Rian menyeringai mendengarnya.
“Kebagusan bukan nama daerah?” tanya Rian, berusaha untuk menggoda Alya.
Matanya mendelik kesal, “Apaan sih? Masih sempet aja bercanda!” bentaknya, membuat Rian tertawa kecil mendengarnya.
“Ini ... badan sama leher kayaknya pegel-pegel. Udah lama gak tidur di lantai, jadi pegel-pegel lagi, deh!” ujar Rian, membeberkan alasan kenapa dirinya bersikap seperti itu di hadapan Alya.
Alya merasa simpatik, ia tidak ingin Rian sampai merasa tidak fit, ketika sedang bekerja nanti.
“Sini!” suruh Alya, sembari menarik tangan Rian dengan kasar.
Rian terbawa karena tarikan Alya yang terlalu kasar. Seperti yang kita semua ketahui, Alya memiliki sabuk karate berwarna hijau, membuatnya memiliki tenaga yang lumayan besar jika hanya untuk menarik seorang Rian saja.
Rian terduduk di hadapan Alya, tentu saja di atas lantai. Alya mulai memijat pundak Rian, karena ia merasa sangat kasihan dengan Rian.
__ADS_1