Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Promo Menjebak


__ADS_3

Alya mendelik, “Gak usah panggil dia Beiby!” bisiknya dengan mata yang mendelik, seakan tak rela mendengar Rian yang mengatakan kata itu pada pelayan tersebut.


“Kenapa?” tanya Rian, yang merasa bingung dengan apa yang Alya katakan.


“Gak, pokoknya jangan!” ujar Alya, yang tidak ingin memberitahu alasannya.


Rian sejenak memandangnya bingung, lalu memandang ke arah pelayan itu.


“Memangnya, apa promonya?” tanya Rian yang sedikit penasaran dengan promo yang ia tawarkan.


“Kita ada promo untuk pasangan yang sudah menikah, yaitu setiap perawatan apa pun di salon ini, gratis spa sauna dengan private room,” ujarnya, sontak membuat Alya mendelik mendengarnya.


‘Sauna bareng sama Rian?!’ batin Alya, yang tidak bisa melakukannya bersama dengan Rian.


Rian tersenyum senang di hadapan pelayan itu, “Kalau gitu, kita ma--”


“Ohoookk!!” Rian merasa pukulan Alya terlalu menohok, sampai membuatnya kesakitan karena menerima pukulan yang tiba-tiba itu.

__ADS_1


Rian kembali memegangi dadanya, saking sakitnya pukulan Alya yang spontan itu.


“Kita gak mau ambil promonya!” ujar Alya dengan tegas, membuat Rian memandangnya dengan heran.


“Lo kenapa, sih? Ditawarin promo gratisan juga, kenapa ditolak?” tanya Rian kebingungan dengan ucapan Alya.


Alya memandangnya dengan sinis, “Pertama gue gak suka gratisan, kedua kita gak pengen sauna! Ngapain kita sauna?!” ujarnya sinis, membuat Rian merasa kebingungan.


“Kenapa enggak? Gue pengen tau sauna itu yang gimana!” Rian tetap kukuh ingin mengetahui apa itu sauna.


Wajah Alya memerah karena malu, saking tidak inginnya ia menjelaskannya pada Rian. Namun, Alya harus mengatakannya agar Rian mengetahui soal sauna ini.


“Apa?!” pekiknya, sontak membuat sang pelayan kebingungan mendengarnya.


“Kenapa?” tanya sang pelayang, Rian spontan membekap mulutnya dengan kedua tangannya.


Melihat Rian yang sudah tidak bisa berkata lagi, Alya langsung mengambil sikap tegas di hadapan sang pelayan. “Kita gak butuh promo! Saya cuma mau pangkas rambut dia aja, udah. Jangan nawarin promo yang macem-macem!” ucapnya dengan tegas, membuat sang pelayan agak tidak senang dengan jawaban Alya yang seperti itu.

__ADS_1


“Sok banget jadi orang,” gerutu sang pelayan, yang masih terdengar oleh Alya.


Alya mendelik kesal mendengarnya, “Apa lo bilang?!” teriaknya ketus, sang pelayan mendadak tersenyum di hadapan Alya.


“Ah ... enggak, mau dipangkas rambutnya, ya? Sini sini!” ucapnya, yang lalu segera mengajak Rian untuk memangkas rambutnya.


Rian duduk di sebuah kursi, yang di hadapannya terdapat cermin yang besar.


“Mau dipotong gaya apa?”


Alya melihat ke arah contoh gambar, yang ada di hadapannya. “Gak ada yang bagus. Rapiin aja yang bagus gimana baiknya,” ucapnya membuat sang pelayan memandangnya dengan sedikit tidak suka.


Menyadari pendangan sang pelayan yang seperti tidak suka padanya, Alya merasa sangat kesal dan mendelik di hadapannya. “Kenapa lo? Gak suka?” tanya Alya, lagi-lagi sang pelayan hanya bisa menyeringai mendengarnya.


“Oh, baik. Ditunggu sebentar, ya!” ucap sang pelayan, yang mengalihkan pemikiran Alya.


Sang pelayan segera mengeksekusi Rian, untuk ia rapikan rambutnya. Ia memandang sejenak wajah Rian, dan memikirkan potongan yang bagus untuk rambut Rian.

__ADS_1


Ia tersenyum menyungging di hadapan Rian, “Ini sih ... dikasih model apa aja cocok. Tenang aja, saya akan pangkas sesuai sama model bagus untuk kamu!” ucapnya, membuat Rian mengangguk kecil mendengarnya.


***


__ADS_2