
Mendengar ancaman Alya, Rian pun merasa agak takut, lalu segera memantapkan niatnya untuk melakukan yang terbaik untuk Alya.
Rian segera berhadapan dengan Alya, dan mencoba membubuhkan riasan sebisa yang ia tahu, ke wajah Alya. Walaupun hati berdebar, Rian tetap melanjutkan apa yang ia kerjakan. Sebisa mungkin ia benar-benar memberikan yang terbaik untuk riasan wajah Alya.
Polesan cream pelembab, ia ratakan pada semua bagian wajah Alya. Setelah menunggu beberapa saat, ia mengoleskan foundation dengan warna yang mirip dengan skin tone Alya. Bukan Rian yang membeli makeup tersebut, sehingga ia tidak bisa memilih warna foundation satu tingkat lebih terang dari skin tone Alya.
Setelah meratakan foundation ke wajah Alya, ia segera membubuhkan bedak powder pada bagian T zone wajah Alya. Lalu setelahnya, ia mulai melakukan semua yang ia ketahui untuk melanjutkan membuat makeup yang bagus untuknya.
Alya menghela napasnya dengan dalam, karena ia merasa Rian melakukannya sangat lama, bahkan melebihi waktu yang Rian ucapkan tadi.
“Lama banget, sih? Kenapa lama banget?” tanya Alya, yang sudah tidak sabar ingin melihat hasil makeup yang Rian kerjakan pada wajahnya.
__ADS_1
Keringat bercucuran pada kening Rian, “Sabar, sebentar lagi selesai.”
Beberapa langkah sudah Rian lakukan, tinggal melakukan sentuhan terakhir untuk riasan pada wajah Alya. Setelah memastikan semuanya sudah selesai, Rian menganggukkan kepalanya dan menyingkir dari hadapan Alya, membiarkan Alya untuk melihat wajahnya sendiri di hadapan cermin.
“Lihat!” suruh Rian.
Alya melihat ke arah cermin dengan riasan wajah yang sangat natural. Riasan tersebut sangat cocok untuk wajahnya, karena terlihat pas dipakai untuk sehari-hari. Alya mendelik kaget, karena merasa sangat senang dengan hasil riasan yang Rian lakukan untuknya.
“Woah, bagus banget!” teriak Alya, yang merasa sangat senang melihat hasil makeup yang Rian lakukan.
“Bagus deh, kalau lo suka. Wajah lo itu bagus, makeup natural cocok banget di muka lo.” Rian memandangnya dengan dalam, membuat Alya menjadi terdiam sejenak melihatnya.
__ADS_1
Tatapan mereka saling bertemu, membuat keadaan mereka menjadi sangat canggung.
Alya memalingkan wajahnya, karena tidak bisa mengatakan apa-apa. Ia terpukau dengan wajahnya saat ini, hasil riasan tangan Rian. Namun, ia tidak bisa berkata apa-apa di hadapan Rian.
‘Makeup si Rian bagus, dia bisa banget jadi MUA gue juga, sekaligus jadi Manajer gue buat gantiin Dion,’ batin Alya, yang merasa sangat senang bisa mendapatkan dua talent berbeda dari orang yang sama.
Alya kembali memandang ke arah Rian, “Lo ... jadi ‘kan, mau kerja sama gue?” tanyanya.
Rian memandangnya dengan tegas, “Jadi, dong! Gue mau kerjain apa pun pekerjaan yang baik, asal gue bisa lepas dari pekerjaan gue sebagai waria,” ucapnya dengan tegas, membuat Alya mengangguk kecil mendengarnya.
“Oke, rencananya sih ... gue balik lagi minggu depan ke kota. Nanti lo bawa semua barang-barang lo aja, terus kita langsung ke kota,” ucap Alya, Rian mengangguk kecil mendengarnya.
__ADS_1
“Oke. Gue cuma punya dua kaos ini aja. Gue juga gak punya tempat tinggal, cuma bisa tidur di pos ronda setiap hari,” ucap Rian menjelaskan, membuat Alya menjadi iba mendengarnya.
‘Tidur di pos ronda? Kok dia bisa tidur di alam terbuka gitu? Pasti banyak nyamuk,’ batin Alya, yang merasa heran dengan Rian.