Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Kesepakatan


__ADS_3

Setelah sekian lama menunggu, Alya dan Rian sama-sama menoleh untuk melihat keadaan pasangannya. Pandangan mereka bertemu satu sama lain, dan mendapatkan kecanggungan jadinya.


“Ngapain lo liatin gue begitu?” tanya Alya, yang merasa heran dengan Rian yang melihatnya dengan pandangan seperti itu.


Rian pun demikian, memandang Alya dengan pandangan yang heran.


“Lah lo ngapain juga ngeliatin gue begitu?” tanya balik Rian, membuat Alya merasa aneh mendengarnya.


“Heh, kenapa malah nanya balik?!” bentak Alya.


Tak terima dibentak, Rian pun mendelik kaget, “Kenapa malah bentak-bentak begitu, sih?” tanyanya sinis, seperti orang yang tidak mau mengalah pada Alya.


“Yeh ... siapa yang bentak lo? Lo lagian ngapain si diem aja? Dari tadi gue udah nungguin lo!” bentak Alya, membuat Rian semakin tak terima mendengarnya.


“Apa, sih? Ada juga gue yang dari tadi nungguin lo!”


“Lah, lo ‘kan laki, kenapa malah jadi nungguin gue?!” bentak Alya, membuat Rian mendelik kaget mendengarnya.


“Ah!!” teriak Alya, yang sudah sadar dari lamunannya.


Teriakan Alya itu membuat Rian mendelik kaget, dan segera membekap mulut Alya karena khawatir orang lain melihat keberadaan mereka di tengah hutan seperti ini. Rian tidak ingin mereka salah paham lagi dengan yang terjadi di antara dirinya dan Alya saat ini.


Rin berdesis, “Jangan teriak! Nanti orang mikirnya macem-macem!” bisik Rian yang masih berusaha untuk membekap mulut Alya.


Setelah beberapa saat, Alya pun akhirnya tenang dan tersadar bahwa saat ini Rian sudah membekap mulutnya dan memeluknya dari belakang. Rian juga tersadar dengan apa yang ia lakukan, sehingga mereka sama-sama melepaskan diri satu sama lain.

__ADS_1


“Ih, ngapain lo peluk-peluk gue?!” bentak Alya, yang sama sekali tidak ingin disentuh oleh lelaki mana pun yang tidak ia cintai.


Rian memandangnya sinis, “Kenapa sih? Lagian, lo itu istri gue! Kenapa gue gak boleh meluk lo, sih?!”


Alya benar-benar tidak bisa menerima jika harus menjadi istri dari Rian, “Gue gak mau jadi istri lo!!” teriak Alya lagi, membuat Rian merasa khawatir, takut orang lain mendengar mereka di sana.


“Lo bisa kecilin dikit gak sih suaranya? Kalau kita digrebek lagi kayak semalem, gimana?”


Alya memandang Rian dengan kesal, “Ngapain takut? Kita ‘kan udah dinikahin!” ujarnya, membuat Rian terdiam, bingung harus berkata apa lagi.


‘Dia bilang gak mau jadi istri gue, tapi kenapa dia ngomong begitu?’ batin Rian, yang merasa bahwa Alya sangatlah aneh, dan memiliki dua kepribadian.


Suasana mulai canggung kembali. Mereka sama sekali tidak mengatakan apa pun, selain diam. Rian merasa bingung, karena ia tidak tahu status hubungan mereka saat ini seperti apa. Ia pun memberanikan diri untuk memandang Alya dengan dalam, walaupun Alya sama sekali tidak memandang ke arahnya.


“Eh ....” Rian memanggil Alya, membuat Alya kesal dan langsung memandang sinis ke arahnya.


Rian lupa dengan namanya, makanya ia tidak bisa menyebutkan namanya saat memanggilnya tadi.


“Gue lupa sama nama lo,” ucap Rian, dengan nada bicara yang rendah.


Alya semakin memandangnya sinis saja, “Lo ngaku jadi suami gue, tapi gak tau nama gue?” tanyanya sinis, membuat Rian menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.


“Ya abis gimana, dong? Lo harusnya ngertiin, lah! Gue kan sama lo cuma ketemu sekali, dan langsung dinikahin paksa! Gue juga sama sekali gak tau nama lo. Nyebutin nama lo aja sekali sekalinya itu, pas akad!”


Alya tak terima mendengar segala jenis alasan dari Rian, “Lo yang begini, mau jadi suami gue?” tanyanya sinis, Rian hanya diam mendengarnya. “Talak gue aja sekarang!” ujarnya, yang tak berpikir panjang mengucapkannya.

__ADS_1


Rian memandangnya dengan dalam, berusaha untuk memikirkan ucapan yang tepat untuk memberitahu soal ucapan Alya yang asal itu.


“Lo yakin mau gue talak? Lo mau, status lo berubah jadi janda?” tanya Rian, Alya terdiam membeku mendengarnya.


Alya memikirkan kembali dengan hal tersebut, karena jauh di lubuk hatinya, ia tidak ingin menyandang status tersebut.


Rian berpaling darinya, “Gue juga gak mau jadi suami lo. Gue gak bisa nanggung makan dan nafkah buat lo. Buat gue makan aja susah. Masih untung gue bisa ketemu nasi pagi ini, karena uang gue udah gue kasih ke si botak, biar gak gangguin lo yang udah kepojok semalem. Kalau lo gak mau jadi istri gue, ya gak apa-apa! Gue juga gak pernah bermimpi punya istri kayak lo,” ucap Rian menjelaskan, membuat Alya berpikir tentang apa yang Rian katakan.


‘Jadi, semalem dia ngasih duitnya buat si botak? Kok gue gak sadar, ya? Apa karena gue lagi fokus sama baju gue yang sobek?’ batin Alya yang merasa bingung karena pengorbanan Rian untuk dirinya.


Berbeda dengan Dion, yang lebih memilih uangnya utuh dibandingkan harus menyelamatkan Alya dari lelaki hidung belang yang sudah melecehkannya kemarin. Alya jadi berpikir ulang, sebenarnya sosok Rian yang seharusnya dibutuhkan dirinya, dan bukanlah Dion.


‘Seandainya Rian yang jadi manajer gue. Dia pasti akan selalu mikirin semua tentang gue,’ batin Alya, yang merasa membutuhkan sosok Rian untuk menjadi manajernya dalam bermain peran.


Rian melangkah meninggalkan Alya, “Kalau lo mau gue talak, kita bisa ke balai desa lagi sekarang untuk disaksikan talak sama Pak Lurah,” ucapnya, membuat Alya memandangnya dengan kaget.


“Rian!” pekiknya, membuat Rian menghentikan langkahnya.


“Lo butuh kerjaan, gak?” tanya Alya, sontak membuat Rian mendelik mendengarnya.


Rian membalikkan tubuhnya ke arah Alya, “Butuh!” jawabnya dengan sangat tegas, karena ia yang memang ingin sekali keluar dari dunianya yang aneh itu.


Alya memandangnya dengan dalam, sembari tersenyum tipis. “Gimana kalau lo jadi manajer gue, buat urus semua kebutuhan gue selama gue syuting? Sambil kita bicarain tentang hubungan kita ini. Jujur, gue gak mau jadi janda. Ya tapi kalau seandainya nanti bener-bener gak ada perasaan, gue terpaksa harus minta talak sama lo,” ucap Alya, Rian berpikir sejenak mendengarnya.


Karena ada alasan tertentu, Rian juga sebenarnya tidak ingin menceraikan Alya. Ia masih teringat dengan salah satu kejadian di masa lalunya, yang menjadikannya alasan untuk tidak mudah menceraikan Alya. Ditambah lagi dengan dirinya yang memang butuh pekerjaan, untuk keluar dari pekerjaan anehnya itu, ia jadi tidak memiliki alasan kuat untuk menolak ucapannya.

__ADS_1


“Gimana?” tanya Alya lagi yang hendak memastikan.


Rian menghela napasnya dengan panjang, “Oke. Gue gak masalah. Selama gue bisa ketemu makanan, apa aja akan gue jalanin,” ucap Rian yang memang keadaannya benar-benar sangat sulit untuk bertahan hidup.


__ADS_2