Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Melamun Tentang Masa Lalu


__ADS_3

Rian memandang sinis ke arah Alya, tetapi sama sekali tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Hal itu sontak membuat Alya membeku sesaat, karena ia merasa bahwa perkataan dirinya yang mungkin sangat menyinggung hati Rian.


‘Yah ... gue terlalu kasar kali, ya?’ batin Alya, yang merasa sangat bersalah di hadapan Rian.


Rian menghela napasnya dengan panjang, terlihat jelas sekali bahwa ia sedang menahan amarahnya.


Rian bangkit dan membalikkan tubuhnya dari hadapan Alya, “Uangnya gue pegang dulu. Kita cari sarapan bareng-bareng. Gue juga laper,” ucapnya dengan nada yang sangat datar, yang lalu berjalan meninggalkan Alya di sana.


Alya memandangnya dengan dalam, karena tak percaya dengan apa yang Rian lakukan padanya.


‘Jelas-jelas dia marah sama gue, tapi kenapa dia masih peduli soal sarapan?’ batin Alya, yang merasa sangat sendu memikirkannya.


Sekilas teringat perlakuan Dion padanya, saat Alya membuat kesalahan padanya.


Malam itu, Alya mengejar Dion yang sudah berjalan sangat jauh dari lokasi syuting. Saat itu, Alya membuat kesalahan yang tidak bisa dimaafkan Dion. Ia tidak mau melakukan hal yang diperintahkan sutradara, membuat Dion merasa sangat kesal padanya.


“Yon, tunggu dulu!” ujar Alya, sembari menahan tangan Dion.


Dengan cepat, Dion pun berbalik ke arah Alya dan langsung melepaskan tangannya dari tangan Alya.


“Apa lagi sih, Al? Udah deh, gue itu capek kerja dari melek mata, sampe mau merem lagi, cuma buat kita! Dengan enaknya lo nolak adegan ciuman ini, hanya karena masalah gak mau disentuh! Kalau lo nolak adegan ini, otomatis lo bakal kena penalti!” bentak Dion, membuat Alya menjadi sangat kesal mendengarnya.


“Jadi, lo lebih milih cewek lo dicium sama orang, daripada bayar denda penalti?” tanya Alya, yang tidak percaya dengan apa yang Dion pikirkan.


Tak menjawab pertanyaan dari Alya, Alya menganggap diamnya Diaon itu adalah sebuah jawaban darinya. Alya memandangnya dengan sinis, sambil mengutuknya diam-diam dalam hatinya.


‘Dasar lelaki bajingan! Gue sumpahin setiap hari, hari lo itu hari Senin!’ batin Alya, yang hampir kehilangan respect pada Dion.


Dion merasa kesal, “Ah, udah deh! Gue mau pulang!” bentak Dion, yang langsung pergi dari sana dan meninggalkan Alya seorang diri di lokasi syuting.


Alya mendelik kaget, karena Dion yang meninggalkannya dan sama sekali tidak memikirkan keselamatannya di tengah malam seperti ini.

__ADS_1


“Dion! Dion!” pekik Alya, tetapi Dion sama sekali tidak berhenti walaupun ia memanggil Dion dengan sangat kencang.


“Argh! Dion sialan!” teriak Alya, yang lalu meremas rambutnya dengan cukup kencang.


“Nanti gue pulang sama siapa?” gumamnya kebingungan, karena malam sudah selarut ini.


Dion benar-benar sudah meninggalkan Alya, tanpa berpikir panjang tentang keselamatan Alya. Yang lebih anehnya lagi, Alya masih saja memaafkan Dion sampai detik ini. Ia benar-benar sudah dibutakan oleh cinta.


Berbeda dengan Dion, walaupun Rian sedang marah saat ini padanya, tetapi ia masih mau memikirkan urusan sarapannya. Alya jadi merasa sedikit simpatik pada sosok Rian.


Alya melangkah menuju ke arah luar ruangan, dan melihat Rian yang sedang berada di hadapannya. Walaupun Rian tidak memandang ke arahnya, paling tidak ia tidak meninggalkan Alya seperti halnya Dion yang meninggalkannya kala itu.


Alya menghampirinya dan berdiri di sebelahnya. Ia menoleh ke arah Rian, yang saat ini masih belum memandang ke arahnya.


“Kenapa lo masih di sini? Kenapa lo gak ninggalin gue aja?” tanya Alya bingung, membuat Rian menoleh ke arahnya.


“Lo gak tau jalan. Masa gue ninggalin lo di sini?” jawabnya asal, membuat Alya memandangnya dengan datar.


Rian menghela napasnya dengan panjang, “Ya terserah lo aja,” gumamnya, yang sudah tidak ingin berdebat dengan sosok Alya yang ada di hadapannya.


Berbicara tentang GPS, Alya jadi teringat dengan handphone miliknya. Ia mendelik, ketika mengetahui handphone-nya yang masih tertinggal di mobil.


“Handphone gue masih ada di mobil!” pekik Alya sangat heboh dengan keadaan.


“Sarapan dulu. Nanti baru kita ambil handphone sekalian ambil mobil lo ke sana,” ucap Rian, yang lebih mementingkan kesehatan Alya.


Alya merasa Rian sangatlah berbeda dengan Dion. Ia jadi teringat kembali dengan Dion, saat dirinya terlambat makan dan hanya sibuk syuting saja. Dion malah memintanya untuk syuting beberapa adegan lebih dulu, sebelum Alya beristirahat. Hal itu sungguh sangat menjengkelkan, jika diingat kembali.


‘Sial! Dion selalu nyuruh gue buat syuting! Walaupun udah jam makan siang, dia sama sekali gak ngebolehin gue makan, kalau gue belom nyelesain syutingnya! Dia manusia apa bukan, sih?’ batin Alya, yang sangat geram ketika mengingat soal Dion.


“Udah ngelamunnya?” tanya Rian, membuat buyar lamunan Alya.

__ADS_1


Alya membuang pandangannya, “Apaan sih?!” gerutunya kesal dengan Rian yang mengganggu lamunannya itu.


Rian mengulurkan tangannya ke arah Alya, membuat Alya bingung melihatnya.


“Ngapain maksudnya?” tanya Alya.


“Hati-hati, jalanan licin habis hujan semalam. Gue gak mau lo sampai kepeleset!” ucapnya, sontak membuat Alya mendelik kaget, karena banyak sekali hal yang dimiliki Rian, yang tidak dimiliki oleh Dion.


Sekilas terbayang tentang dirinya bersama dengan Dion kala itu.


Saat itu, hujan tengah turun dengan derasnya. Alya dan Dion pun keluar dari sebuah gedung, tanpa membawa mantel atau pun payung. Mereka memandang ke arah langit, sembari menadahkan tangan mereka.


“Ujannya masih deres. Gimana caranya kita ke mobil kalau begini?” gumam Alya bertanya-tanya.


Dion langsung menyimpan handphone di dalam sakunya dan menutupinya dengan jaketnya, “Lari!” ucapnya, yang langsung berlarian menerobos hujan, tanpa memedulikan Alya yang ada di belakangnya.


Alya mendelik kaget karena ditinggalkan, “Dion, tunggu!!” pekiknya, yang langsung melangkah tanpa lihat bahwa yang ada di hadapannya adalah anak tangga yang menuruni gedung itu.


Karena terlalu terburu-buru ingin mengikuti Dion, Alya sampai tidak mengetahui langkah kakinya. Ia sampai terpeleset saking terlalu terburu-burunya ia.


“Ah!!” teriaknya kaget.


Beruntung ada seseorang yang berada di sebelahnya, yang ternyata memegangi tangannya. Alhasil Alya tidak jadi terpeleset, karena orang tersebut yang segera menangkap tangannya.


“Aduh ... hati-hati Mbak Alya!” ucap crew tersebut yang merasa sangat khawatir dengan Alya.


Alya berusaha untuk bangkit dari keadaan yang hampir mencelakakannya, “Makasih, Mas. Kalau gak ada Mas, mungkin saya udah kepeleset tadi!” ucapnya, sembari membenarkan posisinya yang hampir saja terjatuh ke bawah.


“Sama-sama, Mbak Alya.”


Sejak saat kejadian itu, Alya berpikir kalau Dion benar-benar tidak memedulikannya. Berbeda dengan Rian, yang tanpa ia pinta pun hendak memberikan tangannya agar ia tidak terpeleset saat melangkah menuruni anak tangga balai desa ini.

__ADS_1


__ADS_2