
Karena merasa sangat gugup, Alya sampai kehilangan kesadarannya sejenak. Namun, ia sudah berhasil mendapatkan kesadarannya kembali, begitupun Rian.
Mereka merasa sangat canggung, dan saling membuang pandangan satu sama lain.
‘Kenapa malah jadi canggung gini, sih?’ batin Alya, yang merasa heran merasakan hal seperti ini bersama dengan Rian.
Tak hanya Alya, Rian pun merasakan kecanggungan yang aneh, antara dirinya dan juga Alya. Akhir-akhir ini, ia merasa sangat kesal, karena perasaannya pada Alya yang terasa sangat canggung.
‘Kenapa malah jadi canggung gini? Akhir-akhir ini sering gitu, kenapa ya?’ batin Rian, merasa bingung harus bersikap apa di hadapan Alya.
Beberapa saat mereka hanya bisa terdiam, membuat Alya mengambil sikap tegas dengan berdeham di hadapan Rian.
“Udah gue kompres memar lo, mudah-mudahan sembuh. Lo berendam air hangat, gih! Berendam biar gak pegel-pegel besok. Gue mau ngompres mata panda gue ini. Kita sama-sama istirahat, ya! Besok mulai kerja,” ucap Alya, membuat Rian mengangguk kecil mendengarnya.
“Iya, jaga kesehatan, ya! Semoga mata panda lo hilang besok, biar bisa kerja lagi,” ucap Rian, yang mulai memberikan perhatian kepada Alya.
__ADS_1
Merasa ada yang memberinya perhatian, Alya jadi merasakan sesuatu yang aneh.
‘Dion aja gak begini ke gue,’ batin Alya, yang ternyata masih memikirkan sosok Dion di pikirannya.
Wajar saja, tidak bisa secepat itu ia melupakan sosok Dion di hatinya, setelah apa yang sudah mereka lewati bersama selama ini.
Untuk menutupi perasaan malunya, Alya pun mendadak memandangnya dengan tegas.
“Ya udah, jangan masuk ke kamar gue tiba-tiba! Gue gak pernah kunci pintu soalnya!” bentak Alya tiba-tiba, yang sudah merasa malu sekaligus kesal dengan Rian, karena pagi tadi sudah masuk ke kamarnya tanpa izin darinya.
“Ya udah, gue ke kamar dulu,” pamit Alya, Rian pun memandang kepergiannya itu, sampai Alya menghilang masuk ke dalam kamarnya.
Wajah Rian memerah, saking malunya ia di hadapan Alya. Ia merasa Alya sudah lebih perhatian padanya, semenjak mereka terus bersama.
‘Wah ... ini kalau diterusin, apa dia bakalan beneran nerima gue? Gue yang gak bisa apa-apa ini? Apa bisa?’ batin Rian, yang merendahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Rian memang tidak percaya diri, karena ia merasa sangat jauh di bawah Alya. Ia bukan pribadi yang baik, ia merasa dirinya juga bukan merupakan tipe lelaki idaman Alya.
Melihat contoh Dion saja, Rian paham kalau Alya sangat menyukai lelaki bertubuh kekar seperti Dion.
‘Dion itu badannya kekar, jago berantem, wajahnya mulus, bajunya branded semua, apalah daya gue?’ batin Rian, yang merasa sangat rendah dibandingkan dengan Dion.
Kesadaran Rian kembali, ia merasa tidak perlu memikirkan hal seperti itu.
“Ah, kenapa gue mikirin hal yang gak jelas? Kenapa malah jadi ngerendahin diri sendiri?” gumamnya, yang lalu segera bangkit untuk menuju ke arah kamarnya.
***
Esok paginya, Alya sudah bangun pagi sekali dari tidurnya. Ia harus bersiap, karena ini adalah hari pertama dirinya masuk kerja kembali. Ia harus melakukan hal terbaik, yang bisa ia lakukan.
Alya sudah menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa, ke lokasi syuting. Ia harus membawa semua barang-barang yang biasa Dion siapkan, karena Rian masih belum terbiasa melakukannya.
__ADS_1
Tangannya menepuk-nepuk membersihkan debu yang menempel, “Akhirnya kelar juga ....”