
Dion merasa yang Alya lakukan ini, sudah keterlaluan dan lewat batas. Untung saja tidak ada orang di sekitar lorong apartemen mereka, sehingga mereka tidak mendapatkan malu ketika ada orang yang melihat pertengkaran mereka itu.
Terlebih lagi Alya harusnya menjaga apa yang ia lakukan, karena ia adalah seorang public figure.
Sekali saja menarik tangan Alya, Alya sudah terhempas seperti melayang di udara karena tarikan Dion yang terlalu kuat.
“Udah, stop! Jangan dilanjutin lagi!” bentak Dion, Alya mau tidak mau melepaskan tangannya dari rambut wanita itu, karena ia sudah terhempas di udara seperti itu.
Matanya memandang sinis ke arah wanita itu, “Gue gak kalah ya dari lo!” bentaknya berusaha mengingatkan tentang kekuatannya, yang perlu ditakuti oleh wanita itu.
__ADS_1
“Dasar wanita sinting!” bentak wanita itu, sontak membuat Alya menjadi semakin terbakar emosi karenanya.
Alya menunjuknya dengan kasar, “Wah ... lo bener-bener, ya! Sini!” ujarnya dengan lantang, yang langsung menarik kembali tangan wanita itu, tetapi dihadang oleh Rian.
“Udah, jangan diterusin,” ujar Rian, membuat Alya terdiam mendengarnya.
Alya memandang sinis ke arah wanita itu, “Eh, gue gak takut ya sama lo! Jangan kira gue takut sama lo!” bentaknya, wanita itu hanya bisa diam sembari memandangnya dengan sinis.
“Eh ****** babon! Jangan seenak jidat lo aja ya, pake nyuruh-nyuruh gue pergi dari sini! Ini apartemen gue, dan yang harusnya pergi dari sini tuh lo sama cewe ****** ini!” bentak Alya, yang benar-benar tidak bisa menerimanya.
__ADS_1
Dion terdiam, karena ia merasa perkataan Alya memang ada benarnya. Ini adalah apartemen yang ia beli, menggunakan uang hasil kerja keras Alya selama ini. Uang itu ia kumpulkan, sehingga bisa membeli apartemen dan juga mobil yang Alya pakai.
Tidak bisa dipungkiri, Dion memang mengakui hal itu. Ia tidak bisa melawan ucapan Alya, karena memang semua ini adalah sepenuhnya milik Alya.
Alya menyeringai pahit di hadapan mereka, “Kenapa? Gak bisa ngomong lagi, kan? Udah, lo sama cewek gak bener ini mending pergi dan angkat kaki dari apartemen gue ini! Gue gak sudi apartemen gue dipake buat hal yang gak bener sama kalian! Apartemen ini juga bakalan gue jual, dan gue gak akan pernah nempatin apartemen ini lagi setelah ini! Gue gak sudi!” ujarnya kasar, membuat Dion tak bisa berkata apa-apa lagi.
“Jangan gitu, lah!” bentak Dion, yang tidak bisa menerima apa yang Alya katakan.
Alya menatapnya dengan lantang, “Gak bisa gimana? Apa sih yang gue gak bisa? Ini dibeli pakai duit gue dan atas nama gue! Lo gak berhak atas apa pun yang gue punya!” ujarnya. Alya melirik ke arah wanita itu dengan sinis, “Termasuk handuk yang si ****** itu pake!” tambahnya dengan sinis, sontak membuat wanita itu menunduk ke arah handuk tersebut.
__ADS_1
Wanita itu merengek di hadapan Dion, “Dion ... dia begitu!”
Dion hanya bisa memandang ke arah wanita itu, dan tidak bisa melakukan apa pun lagi. Ia memandang lagi ke arah Alya, “Oke, gue pergi dari sini! Paling enggak, biarin kita pakai baju dulu!” ujarnya.