Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Artis, tapi Gak Terkenal


__ADS_3

Melihat Alya yang terus-menerus melamun, hal itu membuat Rian merasa sangat bingung. Ia merasa ada hal yang aneh, yang sedang Alya pikirkan.


“Ini kita jadi makan gak, sih?” tanya Rian, yang sudah mulai tidak sabar dengan hal yang Alya lakukan.


Alya tersadar, dan memandang bingung ke arah Rian. Ia merasa tidak memerlukan sosok Rian, tetapi sosok kekasihnya seakan membuatnya sangat membutuhkan sosok Rian yang sangat peduli dengannya, walaupun mereka baru saja saling kenal.


“Gue mau nanya dulu deh sama lo. Jangan makan dulu, bisa ‘kan, kita bicara sebentar?” tanya Alya, membuat Rian memandangnya dengan bingung.


“Gak bisa sekalian makan aja? Kasian perut lo,” ujar Rian, yang masih tetap memedulikan kesehatan Alya.


Alya menunduk sendu, karena lagi-lagi ia merasakan kebaikan Rian, yang sama sekali tidak pernah diberikan lagi oleh Dion. Ia merasa sudah lama sekali Dion bersikap romantis padanya, dan sudah tidak pernah lagi melakukan hal tersebut padanya.


Alya memandang ke arah Rian dengan datar, “Oke.”


Mereka pun memutuskan untuk mengisi perut mereka terlebih dahulu, sebelum membicarakan hal yang ingin Alya bicarakan, dan juga mengenal satu sama lain.


Rian mengulurkan kembali tangannya ke arah Alya, membuat Alya memandangnya dengan datar. Ia sangat ragu untuk meraih tangan Riana tau tidak, karena ia benar-benar tidak ada perasaan apa pun pada Rian. Ia sama sekali tidak ingin disentuh oleh lelaki, yang sama sekali tidak ia cintai.


Karena terlalu lama bergerak, Rian pun segera menarik tangan Alya untuk menuruni anak tangga yang ada di hadapan mereka. Hanya menuruni anak tangga, dan Rian pun segera melepaskan kembali tangannya dari tangan Alya.


Rian berjalan lebih dulu meninggalkan Alya, membuat Alya mengikutinya dari arah belakangnya. Ia sama sekali tidak ingin dekat-dekat dengan Rian, karena ia tidak ingin jadi pusat perhatian orang lain yang melihat mereka. Apalagi, dengan profesinya sebagai artis, bukan hal yang tidak mungkin jika ada orang yang mengenalnya.


Ironisnya sejak semalam, baik Rian atau pun Pak Lurah, tidak ada yang mengenalnya sama sekali. Alya jadi memikirkan hal itu, karena mungkin saja mereka tidak sadar bahwa itu adalah Alya yang sering muncul di berbagai film di televisi.


‘Mereka beneran gak kenal sama gue?’ batin Alya, sembari tetap berjalan mengikuti Rian dengan perlahan.

__ADS_1


Alya menoleh ke arah kiri dan kanannya, melihat orang-orang yang berjalan melewatinya. Tidak ada satu orang pun yang mengenalnya, bahkan memandangnya saja tidak. Mungkin karena ia berjalan agak jauh dari Rian, sehingga mereka tidak memfokuskan perhatiannya kepada Alya.


‘Sumpah? Mereka beneran gak tau gue? Mereka gak pernah ngeliat TV, apa?’ batin Alya, yang benar-benar tidak menyangka dengan mereka yang tidak mengenalinya.


Bukan tidak kenal, mungkin mereka hanya tidak menyadarinya.


Setelah beberapa saat berjalan, mereka tiba di salah satu warung makan yang menjual makanan kampung. Alya yang lebih sering memakan makanan junk food, ia agak heran ketika melihat banyak sekali makanan yang dijual di pinggir jalan seperti ini, tanpa menggunakan penutup makanan untuk melindungi makanan dari paparan debu.


Melihat makanan yang seperti itu, Alya merasa sangat jijik dan enggan untuk memakannya.


Rian melangkah menuju ke arah sang penjual makanan, dan memesan dua piring nasi uduk yang sangat ia sukai. Ia tidak sengaja menyukai nasi uduk ini sih, dikarenakan tidak ada lagi makanan yang mampu ia beli, selain nasi uduk ini. Karena harganya yang terjangkau, Rian sering sekali membeli nasi uduk ini, walaupun tidak setiap hari. Jika ia mendapatkan uang dari hasil ia mengamen, ia bisa sarapan dengan menu nasi uduk yang baginya sangat mewah. Jika tidak, ia hanya bisa menelan obat sakit magh saja.


“Makasih, Bu!” ucap Rian, yang lalu membawa dua piring nasi uduk itu ke hadapan Alya.


Alya memandang kedatangan Rian dengan tatapan yang jijik, karena ia sama sekali tidak ingin memakan makanan yang sudah Rian bawa.


Alya sangat ingin menjaga perasaan tukang nasi uduk tersebut, sehingga ia berjalan mengikuti Rian, untuk duduk di tempat yang tersedia.


Kini, mereka pun duduk di tempat yang tersedia, untuk menikmati sarapan kali ini. Rian sudah lebih dulu menyantap makanan tersebut, sementara Alya hanya memandang piringnya dengan jijik.


‘Masa sih gue harus makan makanan yang mungkin aja udah terkontaminasi sama debu ini?’ batin Alya, yang memang sangat peduli dengan kebersihan.


Rian yang tengah asyik menyuap, tiba-tiba menghentikan suapannya ketika memandang Alya yang hanya diam tanpa menyantap makanan yang sudah ia pesankan untuknya.


“Kenapa diem aja? Gak dimakan?” tanya Rian, Alya memandangnya dengan ragu.

__ADS_1


“Gue gak laper,” jawab Alya yang tidak ingin memberitahu alasan yang sebenarnya kepada Rian.


Rian memandangnya, sembari tetap mengunyah makanan yang sudah sempat masuk ke dalam mulutnya. Ia kembali menyuap suapan kedua, dan mengunyahnya lagi lalu kembali memandang ke arah Alya.


“Lo beneran gak laper? Tadi jelas-jelas perut lo bunyi kenc--”


“Aduh!” gumam Rian, yang mendapatkan pukulan dari Alya.


“Gak usah diomongin lagi masalah itu!” bentaknya, yang sangat malu ketika Rian mengungkit masalah itu lagi.


Rian memandangnya dengan datar, karena ia merasa wanita yang ada di hadapannya ini benar-benar sangat kasar.


“Jangan kasar-kasar jadi cewek,” ucap Rian menegur istrinya tersebut.


Alya mendelik kesal, “Lo jangan lembek jadi cowok!” bentaknya, membuat Rian berubah ekspresi seperti sedang menahan kesal.


“Jadi, lo mau gue gimana? Kasar ke lo juga, kayak lo kasar ke gue?” tanya Rian, sontak membuat Alya terdiam mendengarnya.


Sejujurnya, bukan itu yang Alya maksudkan. Alya tidak ingin Rian dihardik lagi oleh para preman, bukan karena ia ingin dikasari olehnya. Namun, Alya hanya bisa diam memandang ke arah Rian, tanpa berkata sepatah kata pun.


Alya memandangnya dengan bingung, “Kenapa sih, lo terima aja di saat mereka paksa nikahin kita berdua? Emangnya lo gak punya suami apa?” tanyanya, sontak membuat Rian yang sedang mengunyah langsung tersedak mendengarnya.


UHUK!


Dengan cepat Rian pun mengambil gelas yang ada di hadapannya, kemudian menuangkan air dari teko tersebut ke dalam gelas yang ia pegang. Ia meminum dengan cepat, untuk menghilangkan rasa tersedak yang ada pada tenggorokannya.

__ADS_1


Alya merasa sedikit khawatir, karena Rian yang batuk-batuk tidak terkendali. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena Rian yang sudah lebih dulu mengambil minuman yang tersedia di hadapannya.


“Minum minum!” pekik Alya, sembari memperhatikan Rian yang memang sedang meminum segelas air untuk meredakan batuknya.


__ADS_2