Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Fotografer Amatir


__ADS_3

Alya memandang dalam ke arah Rian, karena perlakuan Rian yang sangat berbeda dari Dion.


‘Kenapa dia beda? Kenapa dia gak sama kayak Dion? Dion mah selalu ngungkit apa yang udah pernah dia kasih ke gue,’ batin Alya, yang merasa sangat bingung dengan sikap Rian dan juga Dion.


Rian menoleh ke arah Alya, bingung dengan pandangan Alya yang sepertinya sedang sedih karena memikirkan sesuatu.


“Lo kenapa?” tanya Rian, Alya terkejut dengan segera memandang ke arahnya.


“Gak apa-apa,” jawab Alya seadanya.


Rian memandangnya dengan dalam, karena ia merasa sepertinya Alya sedang memikirkan suatu hal.


‘Alya kenapa, ya? Apa ada yang dipikirin sama dia?’ batin Rian, yang merasa sangat bingung dengan keadaan Alya saat ini.


Rian jadi berpikir untuk membuat Alya merasa bahagia pada kesempatan refreshing kali ini.


“Lo bawa handphone?” tanya Rian, Alya memandang bingung ke arahnya.


“Bawa. Kenapa?” tanya Alya, Rian menyeringai mendengarnya.

__ADS_1


“Gak ada signal, masih aja dibawa-bawa,” seloroh Rian, membuat Alya merasa sedikit kesal mendengarnya.


Matanya mendelik, “Gue makan lo!” ancam Alya, membuat Rian semakin tertawa mendengarnya.


“Weh ... santai. Maksud gue, kalau lo bawa handphone ‘kan bisa gue fotoin di sini. Gue jago fotografi lho!” ujar Rian menjelaskan, membuat Alya terdiam sejenak mendengarnya.


Bagi Alya, menjadi model dan difoto oleh seseorang merupakan kegiatan yang sangat mengesalkan baginya. Hal itu karena dirinya sering mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh dari orang yang memotretnya. Padahal, Alya tidak menjalani photoshoot majalah dewasa, tetapi ia sering dipinta untuk melakukan hal yang seperti ada di majalah dewasa.


‘Males difotoin sama orang lagi. Kenapa, ya? Apa trauma?’ batin Alya yang merasa sangat malas untuk melakukan photoshoot.


Rian mengagetkannya, “Kenapa diem?” tanyanya, Alya tersentak kaget mendengar Rian yang mengagetkannya seperti itu.


Alya masih belum ingin mengatakan semua perasaan yang ia rasakan, pada Rian.


“Ya udah, sini gue fotoin.” Rian mengulurkan tangannya, meminta handphone dari Alya.


Alya terdiam sejenak, lalu mengeluarkan handphone-nya dan memberikannya pada Rian. Rian menerimanya, kemudian segera mengarahkannya ke arah Alya.


“Ayo, senyum,” suruh Rian, Alya terpaksa tersenyum di hadapan kamera handphone-nya.

__ADS_1


CKREK!


Rian mengambil gambar Alya, dan merasa sangat senang karena Alya yang tersenyum di hadapan kamera.


‘Nah ... senyum begitu. Gue seneng liatnya,’ batin Rian yang terus mengambil gambar Alya dengan kepiawaiannya dalam hal fotografi.


“Sekali lagi. Senyumannya yang lebih natural, dong!” ujar Rian, Alya memandang ke arah Rian dengan datar.


“Apaan sih? Nanti juga fotonya bakal gue hapus!” ketusnya, Rian menyerai mendengarnya.


Rian memeriksa hasil dari foto-foto yang sudah berhasil ia ambil. Ia memandang Alya dengan alis yang terangkat, “Yakin bakal dihapus? Gak akan nyesel kalau udah lihat hasilnya?” tanyanya meyakinkan ucapan Alya.


Alya melipat kedua tangannya, “Ngapain amat gue nyesel!” sanggahnya, Rian menyeringai mendengarnya.


Rian memperlihatkan hasil dari foto yang ia ambil, ke arah Alya. “Foto-foto sebagus ini, yakin mau dihapus?” tanyanya lagi, berusaha untuk meyakinkan jawaban Alya.


“Ya! Ngapain nyimpen foto dari fotografer amatiran!” jawab Alya dengan ketus, Rian hanya bisa menyeringai mendengar jawaban aneh Alya tersebut.


“Lihat dulu sebentar,” suruhnya, membuat Alya menghela napasnya dengan kasar.

__ADS_1


Alya melirik ke arah handphone-nya yang dipegang oleh Rian, “Hah?” gumamnya.


__ADS_2