
Karena merasa sangat kaku dengan keadaan ini, Alya pun mengalihkan pandangannya karena kesadarannya suah kembali.
Tak hanya Alya yang bersikap seperti itu, Rian juga merasakannya. Ia mengalihkan pandangannya dari Alya, karena ia merasa suasana yang tiba-tiba saja mencekam dan tegang.
‘Kenapa ini? Kenapa malah jadi diem? Kaku banget jadinya,’ batin Rian, yang merasa agak aneh dengan keadaan ini.
Alya menahan rasa malunya, wajahnya sudah memerah, tetapi ia gagal menahan perasaan malunya. Untung saja pandangannya sudah teralihkan dari Rian, sehingga Rian tidak bisa melihat wajahnya yang merah, bak kepiting rebus itu.
‘Dia gak ngeliat muka gue ‘kan ya? Duh ... kenapa jadi aneh gitu, sih? Tadi kenapa gue mau aja dipeluk sama dia?’ batin Alya, yang merasa bingung sendiri dengan keadaan mereka itu.
Malu dengan keadaan, Alya sampai memutar otaknya untuk mengalihkan topik dari hal yang memalukan ini.
Napasnya ia hela, lalu dirinya ia siapkan, ketika ia sudah mengetahui cara untuk mengalihkan topik dan keadaan.
__ADS_1
Alya memandang ke arah Rian dengan ragu, “Gue ... mau mandi dulu, ya. Bau asem soalnya, habis keringetan!” ujarnya, membuat Rian juga memandang ke arahnya.
“Iya. Gue juga mau mandi. Udah bau juga badan,” ujar Rian, yang tidak mengetahui harus mengatakan apa, sehingga mengatakan hal yang sama dengan yang Alya katakan padanya.
Mereka pun sama-sama meninggalkan sofa tersebut, untuk masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
Setelah sampai di kamarnya, Alya melayangkan tubuhnya ke arah ranjang tidurnya. Ia merasa perasaannya sangat aneh, ketika ia berhadapan dengan Rian.
Ketika Rian berhadapan dengan wanita lain, ia juga merasakan kesal, tetapi ia tidak tahu penyebab ia kesal karena hal apa.
Alya menepuk keningnya dengan cukup keras, “Kenapa masih mikirin Rian, sih?! Gue gak suka sama dia!” bentaknya pada dirinya sendiri.
Alya ingin menanamkan, bahwa ia tidak akan pernah menyukai Rian.
__ADS_1
“Gak! Gue gak boleh suka sama waria! Dia gak bisa apa-apa. Dia ngaku sendiri kalau dia gak bisa baca, dia gak bisa bela diri, gak bisa ngapa-ngapain! Gue juga gak suka sama dia, yang terlalu friendly ke cewek lain! Sama sekali gak ngehargain gue!” bentaknya lagi, sampai matanya mendadak membulat seketika, karena menyadari arti dari ucapannya tadi.
“Apaan, sih? Kenapa gue minta di hargain, coba? Emangnya gue siapa di mata dia? Dia mau jalan sama wanita lain, ya terserah dia! Kenapa juga gue harus marah?” gerutunya, yang merasa sangat kesal dengan pemikirannya.
Alya merasa kesal, dan hanya bisa bergerak dengan cepat di atas ranjangnya, berusaha menghilangkan rasa kesalnya.
Karena teringat dengan tujuannya yang hendak membilas tubuhnya, Alya pun segera bangkit dari ranjang tidurnya, dan segera masuk menyambar handuknya di jemuran kecil yang berada di sudut kamarnya.
“Gak tau, ah! Mandi dulu, buat nenangin pikiran!” bentak Alya pada dirinya sendiri, karena ia merasa harus menjernihkan pikirannya, yang saat ini sedang kusut dan tidak bisa dikondisikan lagi.
Alya melangkah ke arah kamar mandinya, yang berada di dalam kamarnya. Ia masuk ke dalamnya, meletakkan handuk kecilnya pada bezel kecil di dekat pintu, kemudian mulai mengisi air pada bath tub-nya.
“Hah?”
__ADS_1