Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Mengintip


__ADS_3

“Ahh!!” jerit seseorang dari arah luar rumah, yang diketahui adalah suara Alya.


Nenek dan juga Rian sudah sangat kaget, karena suara jerit Alya yang terdengar sampai ke dalam rumah mereka.


Sebelumnya, ketika Rian sedang berbincang bersama dengan Nenek, Alya sudah lebih dulu pergi ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya yang sudah sangat lengket. Ia berjalan menuju ke arah bilik kamar mandi, yang letaknya berada di samping rumah Nenek.


Ketika Alya berjalan ke bilik tersebut, sudah banyak sekali orang pribumi yang mengintip dari balik pohon yang berada tak jauh dari bilik kamar mandi tersebut. Mereka sangat penasaran, bingung karena melihat mobil yang sangat besar terparkir rapi di halaman rumah tua milik seorang Nenek tua di kampung mereka.


Ketika sedang melihat dan memperhatikan mobil yang besar itu, mereka dikejutkan dengan seorang wanita cantik yang sedang membawa handuk beserta peralatan yang lainnya. Mereka sudah mengetahui, kalau Alya akan mandi pada bilik yang berada di sebelah rumah Nenek tersebut.


Karena melihat Alya yang sangat cantik, mereka para lelaki sangat senang memandangnya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk membuntuti Alya sampai ke dekat sekitar bilik kamar mandi tersebut.


Ada sekitar 7 orang lelaki, dari yang masih muda hingga yang sudah berumur, bersembunyi dan memperhatikan Alya dari balik pohon tersebut.


“Geser sedikit, ah!” bentak salah satu lelaki, sembari menyikut teman sebelahnya.


“Jangan keras-keras suaranya!”


“Ya, nanti ketahuan!”


Mereka saling berbisik dan saling menyikut, karena mereka ingin sekali mengintip Alya yang hendak mandi, tanpa ketahuan oleh Alya. Kecantikan Alya membuat nafsu mereka naik seketika, apalagi ketika melihat Alya yang sedang berjalan menuju bilik kamar mandi, dengan mengalungkan handuk pada lehernya.


Alya sama sekali tidak curiga dengan keadaan. Ia hanya berjalan sampai tiba pada bilik tersebut. Ia masuk ke dalamnya, dan menutup pintu tersebut dengan tirai sarung yang bisa ditarik ketika ada orang yang hendak memakai bilik tersebut. Walaupun ada sarung yang membatasi pandangan, tetapi mereka bisa melihat dari celah bilik bambu, yang sudah terlihat renggang dan lapuk itu.


Karena hari sudah mulai gelap, Alya bergegas untuk membilas tubuhnya. Ia menggantungkan handuk yang sebelumnya ia kalungkan pada lehernya, pada paku yang terdapat di tembok bambu bilik tersebut. Ia meletakkannya sembari bersenandung, membuat para lelaki semakin senang saja untuk menunggu Alya membuka pakaiannya.


“Mari semua dansa denganku ....” Alya memulai bersenandung ria dalam bilik tersebut.


Semua lelaki semakin bergairah saja, karena mereka yang baru kali ini melihat dan mengintip wanita cantik mandi di bilik samping rumah Nenek tua itu.

__ADS_1


“Eh ... udah mulai nyanyi!”


“Diam, jangan berisik!”


“Ah, geser dikit dong!”


“Pelan-pelan kenapa!”


Karena saking terpananya melihat Alya, mereka pun sampai berlomba-lomba untuk bisa melihat dengan pandangan yang sejelas mungkin. Karena keteledoran mereka, salah satu dari mereka yang terkena sikut, jatuh di dekat bilik kamar mandi, membuat Alya yang baru setengah membuka bajunya kaget mendengar suara bising-bising.


Baru setengah hendak melepaskan bajunya, Alya terhenti ketika mendengar suara bising tersebut. Matanya mendelik, setelah beberapa saat ia langsung tersadar ketika ada orang yang baru saja terjatuh, dan beberapa orang yang sedang menguntitnya dari balik pohon yang tak jauh dari bilik kamarnya.


“Ahh!!” jerit Alya, yang sontak saja mengagetkan Rian dan Nenek yang masih berbincang di dalam rumah.


Tanpa pikir panjang, Rian yang mendengar jeritan Alya segera keluar dari sana, dan menuju ke arah bilik kamar mandi Alya. Belum sampai bilik tersebut, Rian sudah melihat ketujuh orang yang menguntit Alya, dari balik pohon tersebut.


“Heh, pergi! Ngapain ngintipin bini orang?!” pekik Rian, sontak membuat semua orang yang ada di sana pergi dari hadapan Rian, dengan sangat takut dan terbirit-birit.


Alya merasa sangat takut, karena baru kali ini ia diintip seperti ini dengan banyak orang. Sudah banyak sekali pelecehan yang orang lain berikan padanya, membuatnya bertambah kesal dengan keadaan yang selalu membuatnya terpojok.


“Kenapa pada ngintipin gue, sih?!” teriak Alya, yang tidak terima dengan apa yang mereka lakukan padanya.


Alya keluar dari bilik, mendekat ke arah Rian yang sedang memandang sinis ke arah para hidung belang itu. Rian memandang ke arah Alya, ketika Alya sampai di hadapannya.


“Lo diintipin, ya?” tanya Rian, Alya merasa kesal mendengar pertanyaan seperti itu.


“Udah tau pake nanya lagi!” bentak Alya, Rian hanya bisa terdiam mendengarnya.


Alya sangat kesal dengan pribumi yang mengintipnya seperti tadi. Ia merasa harus membuat pelajaran dengan orang tersebut, barulah hatinya merasa puas.

__ADS_1


“Gak bisa! Gue harus kasih pelajaran sama mereka!” gumam Alya, yang tidak bisa menerima kenyataan dilecehkan dengan mereka.


Rian menghela napasnya dengan dalam, “Apa aja yang udah keliatan? Lo udah buka semua baju tadi?” tanyanya.


Alya memandangnya dengan bingung, “Ya ... belum buka semua baju, sih ....”


“Apa mau gue bawa lo ke sana, buat ngasih perhitungan sama mereka?” tawar Rian, membuat Alya terdiam sejenak untuk berpikir tentang keadaan ini.


‘Kalau nanti Rian ke sana, dia pasti gak akan bisa ngapa-ngapain. Dia pasti diem aja dikroyok sama mereka! Lebih baik gak usah diperpanjang, deh!’ batin Alya, yang merasa Rian adalah beban baginya.


Alya sama sekali tidak ingin kejadian bersama si botak dan kawan-kawannya terulang kembali. Alya sudah bisa menduga, tujuh orang itu pasti akan mengalahkan Rian yang hanya seorang diri. Apalagi dengan sikap dan sifat Rian yang terlihat sedikit kemayu, membuat mereka pasti tidak akan sungkan untuk melibas Rian sampai tuntas.


“Ah gak usah! Gak usah diperpanjang!” ujar Alya, berusaha untuk tidak meneruskan pembicaraan.


Rian memandangnya dengan tatapan curiga, karena merasa aneh dengan Alya yang selalu bernegasi dengannya.


“Kalau gue perhatiin, lo bertolak-belakang mulu sama gue,” gumam Rian, Alya tak bisa mengatakan apa pun lagi, karena memang ia sendiri juga merasakannya.


“Apaan, sih! Pokoknya jangan diperpanjang! Udah, lo jagain gue di depan, gue mau mandi!” ujarnya dengan agak sinis, membuat Rian merasa sangat aneh melihat sikap Alya saat ini.


Alya memasuki bilik tersebut kembali, dengan tatapan matanya yang sinis memandang ke arah Rian.


“Jangan ngintip, lo!” bentaknya, membuat Rian terdiam aneh mendengar bentakan dari Alya.


Alya menutup tirai tersebut, dan memulai aktivitasnya untuk membilas tubuhnya. Rian masih saja bingung mendengar bentakan Alya padanya.


‘Kenapa memangnya kalau gue ngintip? Gue ‘kan ... suaminya dia!’ batin Rian, yang merasa sangat bingung dengan keadaan.


***

__ADS_1


__ADS_2