Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Dalang Pengeroyokan Itu


__ADS_3

Dion meludah ke arah sampingnya, “Belum juga puas, udah loyo duluan! Payah!” bentak Dion yang merasa tidak puas melihat Rian, yang sudah terkapar seperti itu di atas aspal.


“Udahlah, pokoknya terima aja pembalasan dari gue!” bentak Dion, yang lalu menoleh ke arah teman-temannya. “Ayo cabut!” ajaknya.


Mereka pun pergi dari sana, meninggalkan Rian yang sudah tergeletak lemas di atas aspal. Rian sudah tidak bisa bergerak, tetapi ia harus kembali ke apartemen secepat mungkin, agar Alya tidak mengkhawatirkannya.


Sudah terlalu lama sejak ia meninggalkan apartemen Alya, untuk menuju ke arah mini market tersebut. Ia merasa Alya akan memarahinya nanti, ketika ia sudah sampai di sana.


Rian melepaskan sebuah karung yang menghalangi pandangan dan pernapasannya. Ia melihat ke arah langit, merasa beruntung karena ia masih hidup sampai detik ini.


“Syukur masih hidup,” gumam Rian, yang merasa sangat bersyukur karena kejadian pengeroyokan itu, tidak sampai membuatnya kehilangan nyawanya.


Matanya mendelik, karena tiba-tiba saja ia teringat dengan Alya.


Rian terbatuk karena menerima pukulan dari mereka, “Alya pasti marah kalau kelamaan. Dia lagi laper, gue harus cepet-cepet balik,” gumam Rian, yang merasa harus segera kembali ke sana.

__ADS_1


Pandangannya ia edarkan ke segala arah, berharap bisa menemukan kembali bingkisan yang sedari tadi ia pegang.


“Ketemu!” gumamnya, yang ternyata sudah berhasil menemukan plastik tersebut.


Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Rian segera mengambil bingkisan tersebut, lalu berjalan kembali ke apartemen Alya.


***


“Hah? Dipukulin?!” pekik Alya, yang sangat terkejut dan kesal mendengar penjelasan dari Rian, setelah Rian berhasil kembali ke apartemen milik Alya.


“Iya, maaf bikin lo nunggu lama. Kalau gue gak dipukulin tadi, gue udah mau kembali ke sini,” ucap Rian, membuat Alya mendelik tak percaya mendengarnya.


Di saat seperti ini, Rian masih saja memikirkan hal tersebut.


Alya memandang sinis ke arahnya, “Bisa-bisanya lo ya, di saat seperti ini malah mikirin gue marah apa enggak karena lo pulang kelamaan. Yang penting tuh lo gak kenapa-kenapa! Masalah lo pulang sampe besok subuh juga, gue gak masalah!” bentaknya, Rian merasa dari ucapan Alya terselip rasa khawatir yang besar.

__ADS_1


Rian tersenyum tipis mendengarnya, ‘Dia khawatir sama keadaan gue ternyata,’ batinnya yang merasa sedikit senang mendengarnya.


Alya berkacak pinggang sembari menghela kasar napasnya, “Siapa sih yang tega ngelakuin ini sama lo? Sini, biar gue bikin tangannya gak bisa dipake buat nyuap makanan, biar kelaperan lo sukurin!” tanyanya kesal, sangat jelas terlihat dari ekspresinya.


“Gak usah, Al. Lagian percuma, yang ngeroyok gue bukan cuma satu orang, tapi banyak!” ujarnya, sontak membuat Alya semakin mendelik saja mendengarnya.


“What?! Jadi banyak yang ngeroyok lo?! Sialan bener tuh mereka, beraninya maen keroyokan!” Amarah Alya meledak-ledak, saking kesalnya ia mendengar penjelasan Rian seperti itu.


Rian tak menghiraukan, dan hanya memandangi Alya saja.


Alya menyipitkan matanya ke arah Rian, “Kayaknya gue tau itu siapa!” ujarnya.


“Memangnya siapa?” tanya Rian memastikan jawaban Alya.


“Gue tau! Itu pasti Dion!” teriak Alya dengan sangat tegas, membuat Rian hanya bisa memandangnya saja.

__ADS_1


‘Bagus deh lo tau siapa, tanpa harus gue kasih tau,’ batin Rian, yang merasa tenang karena Alya mengetahui pelakunya, tanpa diberitahu dirinya.


__ADS_2