Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Menjaga Segenap Jiwa Raga


__ADS_3

Mendengar cerita Nenek, perasaan ingin menjaga Alya pun timbul dengan sendirinya. Rian tidak ingin menyakiti perasaan Alya lagi, karena perasaan Alya yang sudah tersakiti lebih dulu jauh sebelum bertemu dirinya.


“Makanya, Nenek minta tolong kamu buat jagain Alya. Jangan sampai Alya merasa sakit hati, sama seperti yang pernah anak Nenek rasakan sebelumnya dengan suaminya,” ucap Nenek, Rian spontan mengangguk mendengarnya.


Rian memandang tajam ke arah Nenek, “Nenek tenang aja, saya gak akan pernah lukain Alya, Nek. Saya janji, akan menjaga Alya dengan segenap jiwa dan raga saya. Saya akan mempertaruhkan nyawa saya, untuk melindungi Alya!” ucapnya dengan sangat tegas, sontak membuat Alya mendelik kaget mendengarnya.


Alya spontan mengangkat kepalanya dan memandang tajam ke arah Rian, merasa sangat kaget dengan apa yang ia dengar ini. Alya merasa tidak percaya, karena dirinya yang sama sekali tidak pernah mendengar kata-kata itu dari lelaki mana pun, bahkan dari Dion sekalipun.


Sorot mata Rian memandang tajam ke arah Nenek, membuat Alya merasakan kesungguhan yang sangat kuat dari perkataan Rian tersebut. Alya merasa tersentuh mendengar ucapan Rian, yang terdengar sangat membuatnya bahagia karena sudah dihargai sebagai perempuan.


Tiba-tiba saja Alya teringat, dengan hubungan di antara mereka. Alya juga teringat dengan Rian yang memang tidak bisa melakukan apa pun, karena sikap dan sifatnya yang lebih condong seperti perempuan pada umumnya. Ia jadi merasa ragu, dengan perkataan Rian yang katanya ingin menjaga dirinya dengan sepenuh jiwa raganya sampai mengorbankan nyawanya.


‘Seorang Rian bisa apa? Sama si botak aja dia kalah!’ batin Alya, yang sikapnya sudah kembali keras seperti biasanya.


“Ya sudah, kalian istirahat dulu. Ini sudah larut malam, jangan sampai kalian sakit,” ucap Nenek, membuat Alya tersadar dengan keadaan yang ada.


“Rian tidur di mana, Nek?” tanya Alya spontan, tanpa sadar membuatnya mendelik karena pertanyaan anehnya itu.


Alya mengaduh dalam hatinya, ‘Duh ... aneh banget. Masa suami istri tidurnya misah? Apa yang Nenek pikirin, ya?’ batinnya yang merasa menjadi sangat aneh memikirkannya.


Nenek mengangkat sebelah alisnya, “Tidur di mana? Di rumah ini hanya ada dua kamar. Kamar Nenek dan kamar Ibu kamu dulu. Nenek tidur sendiri, kalian tidurlah berdua!” ujar Nenek yang agak heran mendengar pertanyaan Alya yang seperti itu.

__ADS_1


Alya melempar pandangan ke arah Rian, dengan Rian yang juga sedang memandang ke arahnya. Mereka sangat bingung, karena ucapan Nenek yang menyuruh mereka untuk tidur bersama. Seumur hidup Rian, ia sama sekali tidak pernah tidur bersebelahan dengan seorang gadis.


Alya memandang ke arah Nenek dengan rengekannya, “Yah ... Nek ... Alya tidur sama Nenek aja, ya? Alya kangen banget sama Nenek, pengen tidur sama Nenek!” rengeknya, membuat Nenek semakin memandang sinis saja ke arahnya.


“Tidur sama Nenek? Kau kan sudah punya suami, kenapa malah tidur sama Nenek? Lagian, kamu memang mau tidur di lantai bareng Nenek?” tanya sinis Nenek, membuat Alya terkejut mendengarnya.


Karena terlahir dari Ayah yang kaya, kebutuhan Alya sangat tercukupi saat itu. Setelah Alya berusia 7 tahun, Ayah Ibunya meninggalkannya untuk selamanya, ia dititipkan ke panti asuhan oleh keempat istri ayahnya yang lain. Ia jadi tidak pernah tidur di lantai, dan selalu di ranjang tidur. Walaupun tidur di panti asuhan sekalipun, Alya masih tetap tidur di ranjang tidur, walaupun tidak semewah saat di rumah ayahnya.


‘Gue gak biasa tidur di lantai,’ batin Alya, yang merasa sangat kesal mendengarnya.


Alya menatap ke arah Nenek, “Yah ... ya udah Nenek tidur di kamar aku aja. Enak, ada ranjangnya. Kita tidur di ranjang bareng-bareng!” rengeknya lagi, masih tetap berusaha untuk membujuk neneknya untuk tidur dengannya.


Rian hanya bisa menatapnya dengan tangan yang sudah gemetar. Ia juga tidak ingin tidur bersama dengan Alya, karena ia tidak biasa seperti itu. Ia jadi tidak bisa mengatakan apa pun untuk membantu Alya merengek di hadapan neneknya.


Nenek pun meninggalkan mereka di sana, sontak membuat Alya mendelik kaget melihat kepergian Nenek.


“Nek! Nek!” pekik Alya, yang sama sekali tidak dihiraukan Nenek.


Pandangan mereka bertemu satu sama lain, dengan pandangan yang sudah mulai sinis seperti biasanya. Alya melotot di hadapan Rian, karena tidak senang dengan Rian yang sedang memandangnya dengan sinis seperti itu.


“Ngapain lo liat-liat gue begitu?!” bentak Alya, Rian merasa sedikit kesal dibentak Alya.

__ADS_1


“Lo juga ngeliatin gue begitu! Kenapa lo melotot begitu? Mata lo rabun, gak bisa ngeliat gue dengan jelas?!” bentak balik Rian, yang tidak mau kalah dengan bentakan Alya.


Mereka sudah seperti sesama wanita yang saling memperebutkan harga diri.


“Mata lo tuh rabun!” bentak Alya balik, yang dengan cepat bangkit dari tempat duduknya untuk menuju ke arah kamarnya.


Rian tak mau kalah, karena ia juga tidak ingin tidur di lantai. Sudah semalaman kemarin ia tidak tidur, karena tragedi bersama dengan Pak Lurah, yang tidak membiarkannya tidur. Seluruh tubuhnya sangat pegal, karena ia benar-benar belum beristirahat sejak kemarin sore.


Rian pun bangkit menyusul Alya yang lebih dulu melangkah ke arah kamar, “Eh ... gue duluan! Gue tidur di atas ranjang!” ujarnya, yang segera menyusul Alya untuk mendahuluinya.


Merasa keduluan dengan Rian, Alya pun segera mempercepat langkahnya untuk menyusul Rian yang sudah lebih dulu ada di hadapannya.


“Eh, apaan, sih?!” pekik Alya, yang kesulitan dalam mempercepat langkahnya, karena kain yang ia pakai tersebut, yang menghambat langkahnya dalam menyusul Rian.


“Aduh ... ini kain bikin ribet aja dah ah!!” gerutu Alya, sembari berusaha mengangkat kain yang ia kenakan untuk dijadikan rok tersebut.


Rian sudah lebih dulu sampai di kamar mereka. Ia melemparkan tubuhnya ke arah ranjang secara asal, membuat sesuatu mengenai tubuhnya sehingga membuatnya kesakitan.


“Aduh! Apaan tuh?!” pekik Rian, sembari memegangi badannya yang terkena besi ranjang.


Alya yang baru sampai di hadapannya, tertawa melihat Rian yang sedang mengerang kesakitan itu.

__ADS_1


“Ahaha! Kualat, lo! Makanya jangan ngadi-ngadi deh, ya! Masa mau tidur di atas, sih!” ledek Alya, yang merasa puas karena Rian yang sudah menerima batunya dari perbuatannya sendiri.


Rian masih menahan rasa sakitnya, kemudian memandang sinis ke arah Alya, “Pokoknya gue gak mau tidur di bawah ya! Gue mau tidur di sini, karena badan gue pada pegel! Ditambah lagi badan gue habis kepentok besi ranjang!” ujar Rian, yang tidak mau kalau dengan ego yang Alya miliki.


__ADS_2