
“Lo sama sekali gak peduli sama alasannya?” tanya Alya, Rian memandangnya dengan santai.
“Simpel aja. Kalau lo gak mau kasih tau, ya gak usah. Gue gak pernah mau maksa orang, dan bikin orang lain gak nyaman karena paksaan gue,” ucap Rian, membuat Alya agak tersentak kaget.
Rian benar-benar memiliki sesuatu, yang sangat ia butuhkan daripada sosok Dion.
Mereka terdiam sejenak, berusaha untuk menetralkan suasana yang ada. Mereka tidak ingin membahas masalah ini lagi, karena Alya yang sudah tidak tahu harus mengatakan apa. Rian juga sudah mengerti, tentang Alya yang sudah terpojok mengenai hal ini.
Alya memandang ke arah Rian, “Kenapa tadi lo gak pesen dulu?” tanyanya kebingungan.
“Gue nunggu lo, karena dari awal pun pelayan itu udah gak suka sama gue. Dia udah ngeliat penampilan gue yang lusuh, jadi dia ngomongin gue sama temennya. Gue denger, dan jadinya gue gak mood pesen makanan,” jawabnya, membuat amarah Alya terpancing kembali.
“Tuh, ‘kan! Emang dianya aja yang nyolot! Belom pernah gue kasih tempe sih dia, soal gimana cara memperlakukan orang lain dengan benar!” gerutu Alya, yang sudah keburu tarik urat saking kesalnya mendengar penjelasan Rian.
“Ya, mereka bilang katanya gue gak mampu bayar makanan di sini, padahal gue masih megang sisa duit mahar kita. Masih ada tiga ratus delapan puluh ribu lagi. Tadi dua puluh ribunya ‘kan udah dibeliin nasi uduk,” ucap Rian dengan nada yang terdengar sangat polos, membuat Alya merasa agak bingung mendengarnya.
‘Makanan di resto ini memang kelihatannya mahal. Sisa uang yang dia pegang bahkan cuma bisa bayar makanan pembuka gue doang,’ batin Alya, yang memang mengakui keadaannya.
Uang yang Rian pegang, tidaklah cukup untuk mengajak Alya makan di tempat yang mewah seperti ini. Namun, karena Rian yang tidak tahu, ditambah juga Rian yang memang sangat bertanggung jawab dengan nafkah yang harus ia berikan pada Alya, ia merasa tenang hanya dengan memegang duit saja. Rian belum tahu gaya hidup Alya, yang serba mewah dan lebih mementingkan kualitas daripada harga.
KRUK!
Suara perut Alya terdengar kembali, membuat Rian teringat kembali dengan Alya yang masih belum juga mengisi perutnya.
“Ayo kita cari tempat makan yang lain! Jangan sampe lo kelaperan, nanti malah jadi sakit!” ajak Rian, sembari bersiap untuk mengemudikan mobilnya kembali.
Alya tidak berkata apa pun, selain mengikuti apa yang Rian katakan. Lagipula, Alya sudah tidak memiliki cukup tenaga, jika harus menunda makan lebih lama lagi.
__ADS_1
***
Setelah selesai makan, Alya dan Rian kembali ke desa tempat neneknya tinggal. Mereka sudah sampai di halaman depan rumah Nenek, dan memarkirkan mobilnya yang sangat besar itu.
Rian menoleh ke arah Alya, “Jadi, di sini rumah Nenek lo?” tanyanya, Alya pun menoleh ke arahnya.
“Ya, ini rumah Nenek gue. Udah lama banget gue gak ke sini, dan ternyata kampung ini masih belum banyak perubahan.”
Memang sudah sangat lama Alya tidak mengunjungi neneknya. Sejak kedua orang tuanya meninggal, Alya tidak lagi pernah datang ke rumah ini lagi. Kedua orang tuanya meninggal saat Alya masih kecil, sehingga Alya tidak bisa melakukan apa-apa, selain menuruti ibu pengasuh di tempat panti asuhan yang merawatnya hingga besar seperti ini.
“Emangnya ... kapan terakhir lo ke sini?” tanya Rian, Alya terdiam sejenak untuk berpikir.
“Mmm ... mungkin dari usia gue 7 tahun,” jawab Alya, membuat Rian mengangguk kecil mendengarnya.
Mereka saling terdiam, membuat rancu suasana yang ada. Rian yang menyadari suasana yang rancu, segera memperbaiki suasana yang ada.
Alya pun bersiap, untuk masuk ke dalam rumah Nenek. Mereka memandang sejenak tampak luar dari rumah Nenek yang sudah tua, yang kayunya sudah mulai rapuh dimakan usia.
“Rumahnya udah tua banget,” gumam Alya, yang merasa sudah lama sekali tidak melihat pemandangan rumah Nenek.
Sudah 20 tahun berlalu, sampai rumah ini pun terlihat sangat rapuh dimakan usia. Tak jarang ia melihat kayu-kayu yang sudah hampir habis dimakan rayap.
Dari arah dalam rumah, seorang Nenek tua keluar dengan matanya yang menyipit ke arah kedua orang yang berada di depan rumahnya. Matanya yang sudah tidak tajam lagi, hanya bisa melihat dari jarak yang dekat, sehingga ia berjalan ke arah mereka untuk mendekati mereka di sana.
Melihat Nenek yang sedang berjalan ke arahnya, Alya merasa sangat senang karena ia masih bisa melihat neneknya yang sudah 20 tahun tidak pernah ia lihat lagi. Jangankan melihatnya, menghubunginya saja Alya tidak pernah.
“Nenek,” sapa Alya, Nenek masih saja berjalan mendekat karena masih tidak bisa melihat dengan jelas wajah mereka.
__ADS_1
“Siapa, ya?” gumam Nenek bertanya-tanya.
Kini, Nenek sudah benar-benar berada di hadapan Alya. Sudah banyak sekali kerutan di wajahnya. Tangannya pun kini sudah tidak sekokoh dulu, untuk menyanggah tubuh Alya dan menggendongnya. Rambutnya pun sudah berubah memutih, dengan daging berlebih pada tenggorokannya. Neneknya sudah benar-benar tua dari saat terakhir Alya melihatnya, di usianya yang masih menginjak 7 tahun.
“Ini Alya, Nek!” ucap Alya dengan perasaan yang sangat senang, tetapi Nenek masih menerka-nerka siapakah yang kini berada di hadapannya itu.
“Alya? Alya siapa, ya?” tanya Nenek, yang benar-benar sudah melupakan cucu satu-satunya itu.
“Alya, cucu Nenek!” jawab Alya, berusaha untuk mengingatkan Nenek tentang dirinya.
Nenek terdiam sejenak, berusaha untuk mengingat sosok gadis yang sudah tumbuh dengan baik yang ada di hadapannya itu.
“Alya?” gumamnya, masih berpikir tentang sosok Alya di dalam benaknya.
Matanya membulat ketika ia sudah berhasil mengingat tentang Alya, “Alya!” pekik Nenek, yang sudah ingat dengan sosoknya saat ini.
Karena Nenek sudah mengingatnya, ia pun memeluk erat Nenek saking rindunya ia dengan neneknya itu. Air mata mereka tidak sengaja tertuang, bersamaan dengan pelukan tersebut.
“Nenek kangen sama Alya,” gumamnya, membuat Alya mengangguk mendengarnya.
“Alya juga kangen sama Nenek,” jawab Alya.
Mereka pun melepaskan pelukan mereka, dan saling memandang satu sama lain. Tangan Nenek mengusap-usap rambut Alya, sebagai tanda sayang dan rindu dirinya dengan cucu satu-satunya itu.
“Kamu udah gede sekarang,” gumam Nenek, sembari mengelus lembut rambut Alya.
Alya tersenyum, “Ya, Nek! Sudah 20 tahun berlalu, sejak Mama Papa meninggal. Sekarang Alya udah 27 tahun, Nek!” ujar Alya, yang merasa senang bisa berbincang dengan neneknya lagi.
__ADS_1
Nenek tersentak kaget, “Sudah 20 tahun berlalu, ya?” gumamnya, yang merasa sangat merindukan anak perempuan satu-satunya itu, yang tak lain adalah Ibu dari Alya.