Terpaksa Menikahi Waria Tampan

Terpaksa Menikahi Waria Tampan
Mahkota


__ADS_3

Langkahnya terhenti, dengan mata yang membulat takjub, karena disuguhkan pemandangan yang sangat indah di hadapannya. Senyumannya spontan mengembang di wajah Alya, karena selama beberapa tahun ini ia sudah tidak pernah lagi melihat pemandangan kebun yang ada.


“Wah ... seneng banget ngeliat pemandangan,” gumam Alya, tak sadar tersenyum melihat pemandangan yang ada.


Rian merasa senang, karena ia yang tidak pernah lagi keluar di waktu pagi hari. Baru kali ini, ia bisa dengan bebasnya keluar berjalan-jalan dengan santainya. Biasanya ia selalu tidur di pagi hari sampai sore hari, kemudian segera pergi ke sungai untuk membasuh tubuhnya, untuk kemudian bersiap untuk menjadi seorang Rina.


“Udah lama banget gak jalan-jalan pagi dengan santai,” gumam Rian, yang benar-benar sangat menikmati pemandangan hari ini yang sangat cerah.


Mereka sangat bahagia dengan versinya sendiri.


Rian menoleh ke arah Alya. Ia melihat senyuman yang terukir di wajahnya, membuat hatinya merasa tenang dan senang.


Satu senyuman kembali merekah di wajah Rian, karena melihat senyuman yang manis di wajah Alya.

__ADS_1


‘Dia kalau senyum, manis juga. Kenapa gak selamanya aja dia tersenyum begitu?’ batin Rian, yang lebih senang melihat Alya yang tersenyum, daripada melihat Alya yang sedang marah padanya.


Sejenak Rian membeku, karena terpesona melihat senyuman Alya yang sangat manis. Ketika ia tersadar, pandangannya tertuju pada ranting kering yang ada di hadapannya. Ia melangkah meninggalkan Alya, lalu membuat sesuatu dari ranting kering yang ia lihat.


Sementara itu, Alya masih terpana memandang ke arah pemandangan yang ada. Selama ini, ia menghabiskan waktunya untuk bekerja, sehingga ia tidak bisa berlibur dengan santai di tempat hijau seperti ini.


“Udah lama banget gak ke sini. Udah lama banget gak liburan, pikiran langsung fresh seketika,” gumam Alya yang merasa sangat senang melihat pemandangan yang ada.


TUK!


Sesuatu yang berbentuk bulat, tiba-tiba saja melingkar di kepala Alya. Ranting-ranting pohon yang kering itu, disulap oleh Rian menjadi sebuah mahkota yang sangat cocok dikenakan di atas kepala Alya. Rian tersenyum, ketika memakaikannya ke kepala Alya.


Dengan ekspresi yang sangat kaget, Alya memegang benda bulat yang melingkar di atas kepalanya. Beberapa saat meraba benda tersebut, Alya menyadari bahwa yang ia pegang tersebut adalah sebuah mahkota dari ranting.

__ADS_1


Alya mengangkatnya dan sedikit melihatnya. Ia memandangnya dengan sangat terkejut, karena yang ia lihat memang benar adalah sebuah mahkota yang Rian buat dari akar pohon yang kering.


Alya memandang bingung ke arah Rian, “Lo bikin ini tadi?” tanyanya membuat Rian mengangguk kecil, “kapan?”


“Tadi. Lo lagi sibuk ngeliat pemandangan,” jawab Rian, Alya tersenyum mendengarnya.


Ada sesuatu yang membuat Alya sangat senang. Walaupun hanya sebuah mahkota yang dibuat dari akar pohon yang kering, Alya sangat senang dan bahagia karena Rian memberikannya dengan niat yang tulus.


Wajahnya memerah, Alya menundukkan pandangannya dari Rian. “Makasih,” ujarnya.


Rian menyeringai, “Ah, cuma seni kerajinan tangan dari akar pohon. Bukan apa-apa, gak usah terima kasih,” ujarnya membuat Alya terdiam mendengarnya.


Perlakuan Rian sangat berbeda dengan perlakuan Dion padanya, sehingga membuat Alya terdiam sejenak.

__ADS_1


__ADS_2