
Masih belum terlambat, Alya segera melangkah masuk ke dalam ruangannya di lokasi syuting. Ia melangkah dengan terburu-buru, saking tidak ingin terlambatnya ia.
Karena sudah khawatir terburu-buru, Alya pun meletakkan tasnya di atas meja, lalu segera menyalakan lampu ruangan.
Ruangan seketika menjadi terang, dan ia bisa melihat seisi ruangan tersebut.
Matanya membulat, ketika ia melihat Rian yang sedang tertidur pulas di atas lantai ruangan yang cukup kotor. Ia tak menyangka, ternyata Rian tidur di tempat seperti ini.
Tangannya menutup mulutnya, merasa sangat tidak tega melihat Rian yang tertidur meringkuk di atas lantai seperti itu.
‘Ya ampun, Rian ternyata tidur di sini! Gue gak tega ngeliatnya. Terus kenapa semalaman dia gak pakai selimut?’ batin Alya, yang merasa tidak tega melihat keadaan Rian itu.
Alya memang tidak tega, tetapi Rian sudah terbiasa seperti ini. Ia sudah terbiasa, bahkan tidur di tempat apa saja.
Melihat Rian yang tertidur tanpa makeup itu, membuat Alya merasa sangat senang memandangnya.
‘Rian pakai makeup atau engga, tetep kelihatan ganteng,’ batinnya, yang pikirannya sudah melantur ke mana-mana.
__ADS_1
Kesadarannya kembali, ia merasa sangat kaget karena ia memikirkan hal seperti itu.
“Ish, gue kenapa sih? Kenapa gue mikirin hal yang ngaco?” gerutu Alya, merasa kesal dengan dirinya sendiri.
Mendengar suara Alya yang berisik, Rian pun sampai terusik, dan akhirnya membuka matanya.
Melihat ada Alya yang ada di hadapannya, Rian pun sampai terkejut, dan duduk bangkit di atas lantai.
“Alya,” gumam Rian, sembari mengucek matanya yang masih belum fokus.
Alya mendelik kaget, karena ia sudah membangunkan Rian yang sedang tertidur.
Karena masih merasa malu dengan keadaan mereka kemarin, Alya hanya berpura-pura tidak terjadi apa pun, dan berusaha untuk cuek padanya.
Alya memandangnya dengan datar, berusaha cuek di hadapan Rian, “Lo semalam tidur di sini?” tanyanya cuek.
“Ya, semalam gue di sini,” jawab Rian seadanya.
__ADS_1
Niat hati Rian yang ingin meminta maaf pada Alya, malah surut, ketika ia melihat ekspresi ketus Alya di hadapannya saat ini.
‘Pengen minta maaf, gak jadi ah! Kalau begini caranya, orang lain juga males!’ batin Rian, yang merasa sangat malas melihat sikap Alya itu.
Padahal, Alya juga ingin sekali berbaikan. Namun, Alya merasa sangat gengsi untuk melakukannya.
‘Ah, gengsi lah! Ngapain juga gue minta maaf sama dia? Wanita ‘kan gak pernah salah!’ batinnya kesal, yang masih saja memikirkan egonya di hadapan Rian.
Padahal, permasalahan yang terjadi pada mereka ini, memang sebagian merupakan salah Alya.
Kalau bukan Alya yang sembrono saja masuk ke dalam kamar mandi tersebut, ia pasti tidak akan melihat apa yang harusnya tidak ia lihat.
Alya memandang ke arah Rian dengan ketus, “Ya udah, lo mandi cepetan! Makeup-in gue, karena gue tag di bagian awal,” suruhnya, membuat Rian memandangnya dengan datar.
“Iya, gue mandi dulu,” ujar Rian, yang kemudian bangkit dari atas lantai.
Rian membuka tasnya, untuk mencari masker yang ampuh untuk menghilangkan mata panda.
__ADS_1
Setelah menemukannya, ia menyodorkannya ke arah Alya, membuat Alya memandangnya dengan bingung.
“Nih ... pakai masker dulu. Biar nanti gue selesai mandi, langsung makeup dan gak terlalu kelihatan jelas mata pandanya,” suruh Rian, sontak membuat Alya terdiam sembari memandangnya tak percaya.