
Alya tidak menyangka, hasil dari foto yang Rian ambilkan untuknya, ternyata sangatlah bagus. Rian tersenyum, karena melihat ekspresi Alya yang sepertinya sangat tidak menyangka.
“Gimana? Bagus, kan?” tanya Rian, membuat wajah Alya memerah karena malu.
Alya menyimpan kembali handphone-nya, “Gak bagus! Nanti juga bakalan gue hapus!” ujarnya ketus, tetapi tak membuat senyuman di wajah Rian menjadi luntur.
“Bagus, kok! Nanti dicetak, ya!” ucapnya dengan penuh semangat, sontak membuat Alya mendelik tak keruan mendengarnya.
Ini adalah kali pertama Alya merasa sangat senang, ketika ada seseorang yang memintanya untuk mencetak fotonya sendiri. Biasanya justru Alya yang ingin sekali mencetak fotonya, tetapi Dion selalu menolaknya dengan alasan klasik seperti lelah, sibuk dan lain sebagainya.
Alya menunduk, “Iya, nanti gue cetak,” ujarnya dengan nada rendah.
“Lo gak mau foto lagi? Pemandangan di desa bagus banget, lho! Lo gak akan temuin pemandangan ini di kota nanti,” ujar Rian, Alya kembali memandang ke arahnya.
Alya terdiam sejenak, lalu mengangguk menyetujui apa yang Rian tawarkan.
__ADS_1
Mereka menikmati suasana desa tempat kelahiran ibu dari Alya, dengan sangat bahagia. Mereka banyak sekali mengambil foto di sekitaran kebun teh. Tak jarang mereka juga mengambil foto bersama, dan Alya sama sekali tidak menyangkalnya. Ia sangat senang ketika bersama dengan Rian, bahkan saat mereka mengambil foto bersama.
“Senyum!” ucap Rian dengan sangat riang, membuat Alya juga ikut tersenyum dengan riang.
Mereka sudah berhasil mengambil foto bersama, dengan berbagai macam gaya. Alya terlihat sangat senang dan bahagia, ketika seseorang memotretnya kembali.
Mereka seperti sepasang pemuda yang sedang jatuh cinta.
“Mana coba liat!” pinta Alya dengan senyumannya yang terus merekah di pipinya.
“Ini lucu banget!” ujar Alya, sembari menunjuk ke arah foto tersebut.
“Haha, ini kenapa lo monyong begini?” seloroh Rian, membuat Alya tertawa bersamanya dan sama sekali tidak marah ketika Rian mencelanya.
Sepertinya mood Alya sedang bagus kali ini.
__ADS_1
TRING!
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam kotak masuk di handphone Alya, disusul dengan beberapa chat lainnya setelah itu. Sepertinya karena baru terjangkau signal, banyak sekali pesan singkat yang masuk ke dalamnya.
Senyuman yang merekah di wajah Alya, seketika luntur karena melihat pesan singkat dari Dion. Baru saja ia merasa sangat senang saat ini, tetapi tiba-tiba saja pesan singkat dari Dion membuat mood-nya kembali anjlok.
Melihat ekspresi Alya yang seperti itu, Rian merasa ada sesuatu antara Alya dengan seseorang yang mengirimkan pesan singka itu.
“Ada apa?” tanya Rian, Alya memandangnya dan langsung menyimpan handphone-nya.
“Gak ada apa-apa,” jawab Alya, Rian memandangnya dengan dalam, karena merasa Alya yang masih terlalu tertutup dengannya.
“Bilang aja. Lo kenapa?” tanya Rian, Alya menggelengkan kepalanya. Rian merasa sangat sedih, karena ia tidak bisa membuat Alya mengatakan hal yang sejujurnya padanya.
Mereka terdiam untuk beberapa saat, karena tidak ada topik pembicaraan yang mereka bahas. Rian masih memperhatikan sikap Alya, yang tiba-tiba saja berubah drastis 180 derajat.
__ADS_1
Rian memandangnya dengan dalam, “Lo kenapa?” tanya Rian, “gue bisa bantu cari solusi kalau lo ada masalah sama orang yang barusan kirim chat ke lo,” sambungnya.